Jangan Terpancing Rayuan Kapal Selam China

Selasa, 30 Juli 2024 - 05:04 WIB
loading...
A A A
Untuk tujuan tersebut, mantan komandan kapal selam Nanggala tersebut telah mengunjungi pabrikan utama kapal selam dunia. Target kapal selam yang dicari adalah kapal selam konvensional dan non-nuklir yang menggunakan air-independent propulsion (AIP) system hingga lithium ion-battery. Beberapa galangan kapal yang sudah dikunjungi antara lain berada di China dan Jerman.

Di China, pabrik yang dikunjungi adalah Jiangnan Shipyard di Shanghai dan Wuchang Shipyard di Wuhan. Pada momen tersebut, KSAL mendapatkan penjelasan tentang kemampuan industri pertahanan strategis Cina seperti memproduksi destroyer kelas 052D dan kapal selam S26. Sedangkan di Jerman, yang dikunjungi adalah tkMS. Di tempat tersebut KSAL menerima penjelasan mengenai kapal selam tipe Howaldtswerke Deutsche Werft (HWD) 212, dan tipe 214 yang menjadi salah satu kapal selam tercanggih dengan teknologihybrid.

Dalam perjalanannya, China menunjukkan agresivitasnya merayu Indonesia. Termasuk menawarkan kapal selam S26 beserta paket destroyer kelas 052D dengan diskon besar. Sekilas tawaran sangat menarik. Namun sayangnya, kapal selam yang diajukan sudah cacat sejak lahir. Bagaimana bisa? Kapal selam S26 yang disodorkan ternyata kapal selam yang batal diakuisisi Thailand karena persoalan mesin.

Berbagai informasi menyebut, kapal selam tersebut awalnya dipesan negeri Gajah Putih pada 2017, dengan mesin MTU-396 made in Motoren und Turbinen Union GmbH, Jerman. Namun persoalan muncul karena Jerman membatalkan kesepakatan dengan alasan kendala kebijakan yang mencegah mesin kapal selam produksinya dimasukkan ke dalam peralatan militer China alias terdampak embargo.

Sebagai solusi, Beijing menawarkan CHD620, mesin lokal yang telah disertifikasi MTU Jerman. Namun PM Thailand Prayut Chan-o-chamenolak perihal tersebut dengan alasan kualitas, dan tetap bersikukuh memegang ketentuan awal. Akhirnya pada akhir Oktober 2023, Bangkok memutuskan menunda hingga waktu tidak tentukan dan menunggu kesiapan China memenuhi kontrak awal. Padahal awalnya, kapal selam senilai USD402 juta itu akan dikirim pada tahun ini.

Persoalan lain yang mengemuka terkait keandalan teknis. Seperti disampaikan pemerhati alutsista Alman Helvas Ali bertajuk ‘Tawaran Kapal Selam S62 Made In China dan Dinamika Geopolitik Global’, terungkap keandalan teknis kapal selam S26 di bawah kapal selam asal Eropa, seperti Scorpene Evolved dan U214. Parameternya dinilai dari indiscretion rate (waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan isi ulang baterai). Scorpene Evolved mendapat nilai sebesar 6%, sedangkan S26 mencapai 15%. Semakin besar indiscretion rate, maka waktu isi ulang baterai S26 lebih lama.

Kualitas kapal selam China bisa disebut belum teruji. Salah satu indikatornya adalah tragedi hilangnya kapal selam Type 093 milik Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA-N) saat melakukan misi di Laut Kuning pada 22 Agustus 2023 lalu. Dugaan yang muncul, kapal selam terperangkap rantai dan jangkar yang sengaja dipasang untuk menjerat kapal-kapal AS dan sekutunya, serta kegagalan alat pengontrol atmosfer.

baca juga: Mengenal Virginia, Kapal Selam Paling Mematikan Milik AS

Jika memahami berbagai persoalan tersebut, kapal selam S26 tidak layak dibeli karena salah satu aspek strategis yang menjadi keunggulan kapal selam tidak terpenuhi, yaitu kerahasiaan atau kesenyapan di bawah laut. Bagaimana bisa senyap jika mesin yang digunakan masih dipertanyakan kualitasnya. Begitupun tingginya tingkat indiscretion rate membuat kapal lebih lama muncul di permukaan untuk isi ulang baterai.

Tak kalah penting adalah jaminan keamanan. Belum lekang dari ingatkan karamnya (subsunk) kapal selam KRI Nanggala-402 di perairan Bali, pada 24 April 2022. Atas tragedi tersebut, 53 putra terbaik bangsa yang mengawaki alutsista tersebut menjadi korban. Siapa yang tidak was-was mengawaki kapal selam yang tidak mampu maksimal menggaransi safety?

Melihat kondisi tersebut dan komitmen memegang aspek strategis kapal selam sebagai parameter akuisisi, maka tidak ada alasan bagi Kemhan untuk menolak tawaran tersebut. Walaupun berstatus interim, jangan sampai akuisisi sia-sia karena kapal selam tidak bisa beroperasi secara optimal, seperti kelas Changbogo. Kemhan lebih tepat mengambil kapal selam battle proven dari negara produsen utama kapal selam, seperti tipe HWD 212 dan 214 produksi TKMS Jerman yang sudah dikunjungi KSAL.

Bila pertimbangan transaksi juga melihat variabel geopolitik untuk menjaga keseimbangan hubungan persahabatan dengan China, Kemhan perlu mencari terobosan negosiasi untuk mengambil alutsista made in China lain, seperti destroyer Type 052D yang memang dibutuhkan untuk memperkuat armada perang Indonesia.

Poin utamanya, pilihan jenis kapal selam murni berdasarkan keputusan rasional yang menitikberatkan pada jaminan kualitas yang bisa mewujudkan aspek strategis kapal selam, hingga akuisisi yang dilakukan tidak sia-sia karena kapal selam benar-benar bisa diandalkan menjaga wilayah laut NKRI. Mestinya keputusan Thailand menolak S26 yang sudah dipesan menjadi banch mark para decision maker negeri ini. Jangan sampai kepentingan nasional dikorbankan karena berbagai rayuan. (*)
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Resmi Masuk Daftar Belanja...
Resmi Masuk Daftar Belanja TNI AU, Ini Spesifikasi Chengdu J-10C Buatan China yang Akan Perkuat Langit Indonesia
Modernisasi Kapal Induk...
Modernisasi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Penting untuk Perpanjang Usia Pakai
Disalatkan, Jenazah...
Disalatkan, Jenazah Ryamizard Ryacudu Akan Dimakamkan di TMPN Kalibata Besok
Ryamizard Ryacudu Wafat,...
Ryamizard Ryacudu Wafat, Kemhan: Dedikasi hingga Kontribusinya Akan Terus Dikenang
Isu Bandara Kertajati...
Isu Bandara Kertajati Jadi Pangkalan Militer Amerika, Kemhan: Belum Ada Putusan Final
Seskab Teddy: Langit...
Seskab Teddy: Langit Indonesia Harus Aman, Kedaulatan Tidak Bisa Ditawar
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Hamas Tak akan Serahkan...
Hamas Tak akan Serahkan Persenjataan, tapi Hanya Polisi yang Bawa Senjata di Gaza
Ini 4 Keunggulan Senjata...
Ini 4 Keunggulan Senjata Laser Cheongwang Buatan Korea Selatan
Rekomendasi
IHSG Ambruk 3,56% ke...
IHSG Ambruk 3,56% ke 5.883 Sore Ini, Tekanan Jual Hantam Nyaris Seluruh Sektor
Rahasia Diet Ery Makmur...
Rahasia Diet Ery Makmur Turun 30 Kg dalam 10 Bulan, Ternyata Ini Kuncinya!
Rupiah Jeblok Lagi,...
Rupiah Jeblok Lagi, Dolar AS Makin Dekati Level Rp18.000
Berita Terkini
Sidang Perdana Dokter...
Sidang Perdana Dokter Tifa Digelar 2 Juli 2026, Roy Suryo Tunggu Praperadilan
Beda dengan Roy Suryo,...
Beda dengan Roy Suryo, Dokter Tifa Tidak Ajukan Gugatan Praperadilan
Mahasiswa UBK Ngaku...
Mahasiswa UBK Ngaku Terima Uang Rp20 Juta, Politikus Gerindra: Saya Yakin Tidak Ada Sangkut Paut dengan Mas Gibran
Ducati hingga Tas Dior...
Ducati hingga Tas Dior Rampasan Kasus Korupsi K3 Bakal Dilelang KPK Desember 2026
Tilep Rp2 Miliar, Mantan...
Tilep Rp2 Miliar, Mantan Ketua PN Kudus Dipecat
Kepala BSKDN Kemendagri:...
Kepala BSKDN Kemendagri: Inovasi Kunci Pembangunan Daerah
Infografis
9 Keunggulan Kapal Selam...
9 Keunggulan Kapal Selam Mini Iran yang Membuat Kapal Induk AS Menjauh
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved