alexametrics

Prananda Prabowo Dinilai Paling Berpeluang Jadi Ketua Harian PDIP

loading...
Prananda Prabowo Dinilai Paling Berpeluang Jadi Ketua Harian PDIP
Putra Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Prananda Prabowo dinilai paling memungkinkan Ketua Harian atau Wakil Ketua Umum PDIP di Kongres ke-V mendatang. Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Kongres ke-V Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang akan berlangsung pada 8-9 Agustus 2019 mendatang di Bali kemungkinan besar akan kembali memilih Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum (ketum). Sementara terkait wacana adanya ketua harian atau wakil ketua umum, putra Megawati, Prananda Prabowo dinilai paling memungkinkan. Sebab, Puan Maharani kemungkinan besar akan diplot sebagai Ketua DPR.

Pengamat Politik LIPI, Syamsuddin Harris menduga nama Megawati belum akan tergeser untuk posisi ketum. ”Saya menduga Kongres PDIP yang akan datang masih akan mengukuhkan (Megawati) sebagai Ketua Umum, walaupun dengan menambahkan semacam wakil ketua atau ketua harian yang saya menduga itu anaknya yang laki laki itu, Prananda Prabowo,” tutur Syamsuddin di Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Karena itu, Syamsuddin menilai bahwa Kongres PDIP akan berlangsung mulus. Nantinya setelah lima tahun ke depan, estafet kepemimpinan di PDIP baru akan dilanjutkan oleh Prananda Prabowo atau Puan Maharani.



Menurutnya, selama masih ada Megawati, pucuk kepemimpinan di PDIP diperkirakan masih akan memilih tokoh yang memiliki trah Soekarno. Apalagi, selama ini Megawati dianggap memiliki jasa besar bagi PDIP. Bahkan dalam Pemilu Serentak 2019, PDIP berhasil keluar sebagai pemenang pemilu legislatif sekaligus pilpres.

Pemilihan Prananda Prabowo sebagai Ketua Harian atau Wakil Ketua Umum PDIP memang bakal memunculkan oligarki kepemimpinan di tubuh PDIP. Namun, Syamsuddin menilai selama ini bagi internal PDIP, hal ini dinilai tidak menjadi masalah.

”Bagi kita memang enggak sehat, tapi bagi internal PDIP saat ini enggak masalah. Tentu untuk bangsa kita tidak baik, sebab bagaimanapun mestinya sirkulasi kepemimpinan partai politik itu lima tahunan, maksimal dua atau tiga kali,” katanya.

Dikatakan Syamsuddin, di PDIP selama ini faksi lain juga dinilai tidak terlalu besar. ”Sebab faksi-faksi yang kuat itu sudah terpental. Dulu ada Eros Djarot. Kwik (Kwik Kian Gie) saja kan sudah tidak lagi ya. Enggak ada lagi faksi yang kuat,” katanya.
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak