BNPT Perkuat Public Resilience di Lingkungan Kampus
Selasa, 09 Juli 2024 - 21:22 WIB
loading...
A
A
A
"Namun mereka pun dengan sentuhan keagamaan dan sentuhan keilmuan mereka merasa tanggung jawab untuk bagaimana tidak hanya menyerapan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk keluarga, bahkan kampus dan bahkan juga untuk negaranya. Itu yang kita inginkan sampai ke titik pemahaman yang sangat mendalam tidak hanya sebagai wawasan pengetahuan tapi terimplementasikan dalam kehidupannya," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag Prof Dr Ahmad Sainul Hamdi yang turut hadir sebagai narasumber dalam sesi diskusi panel menjelaskan, gerakan intoleransi mengejar lulusan atau mahasiswa kampus ternama yang mencetak pegawai negeri, yang mencetak guru. "Paham radikal dan intoleran membutuhkan perlindungan dari pejabat dan paham ini dapat mudah didistribusi melalui guru. Oleh karena itu, dibutuhkan ketahanan dari pihak akademisi seperti kampus agar memiliki ketahanan dalam paham yang menyimpang," kata Ahmad Sainul Hamdi.
Kampus juga sebagai tempat untuk mencetak pendidik, yang mana pendidik itu sendiri juga dapat mempengaruhi cara pandang peserta didik. "Apabila ada benih-benih radikal, pasti akan rentan sampai ke peserta didik dan itu akan tumbuh menjadi tokoh masyarakat. Untuk itu, diharapkan ada filter dan penguatan di lingkungan kampus untuk mencegah hal-hal tersebut terjadi," katanya.
Untuk diketahui, dalam acara yang dihadiri tidak kurang sebanyak 300 orang sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Banten, Mayjen TNI Roedy Widodo didampingi Direktur Pencegahan Prof Dr Irfan Idris, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Kolonel Sus Dr Hariyanto, beserta staf dan Ketua FKPT Banten KH Amas Tadjuddin beserta jajaran pengurus.
Hadir pula Wakil Rektor Bidang Kemasiswaan dan Kerja Sama UIN SMH, Dr Hidayatullah, Danrem 064/Maulana Yusuf Brigjen TNI Fierman Sjahrial Agustus, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Andi Faizal Bakti, perwakilan Polda Banten, perwakilan Badan Intelijen Negara Daerah (Binda) Banten, dan undangan lainnya.
Selain itu, hadir pula Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag Prof Dr Ahmad Sainul Hamdi, Kemahasiswaan Kemendikbudristek Prof Andi Faisal Bakti, dan Mitra Deradikalisasi BNPT Yudi Zulfachri yang bertindak sebagai narasumber dalam sesi diskusi panel.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag Prof Dr Ahmad Sainul Hamdi yang turut hadir sebagai narasumber dalam sesi diskusi panel menjelaskan, gerakan intoleransi mengejar lulusan atau mahasiswa kampus ternama yang mencetak pegawai negeri, yang mencetak guru. "Paham radikal dan intoleran membutuhkan perlindungan dari pejabat dan paham ini dapat mudah didistribusi melalui guru. Oleh karena itu, dibutuhkan ketahanan dari pihak akademisi seperti kampus agar memiliki ketahanan dalam paham yang menyimpang," kata Ahmad Sainul Hamdi.
Kampus juga sebagai tempat untuk mencetak pendidik, yang mana pendidik itu sendiri juga dapat mempengaruhi cara pandang peserta didik. "Apabila ada benih-benih radikal, pasti akan rentan sampai ke peserta didik dan itu akan tumbuh menjadi tokoh masyarakat. Untuk itu, diharapkan ada filter dan penguatan di lingkungan kampus untuk mencegah hal-hal tersebut terjadi," katanya.
Untuk diketahui, dalam acara yang dihadiri tidak kurang sebanyak 300 orang sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Banten, Mayjen TNI Roedy Widodo didampingi Direktur Pencegahan Prof Dr Irfan Idris, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Kolonel Sus Dr Hariyanto, beserta staf dan Ketua FKPT Banten KH Amas Tadjuddin beserta jajaran pengurus.
Hadir pula Wakil Rektor Bidang Kemasiswaan dan Kerja Sama UIN SMH, Dr Hidayatullah, Danrem 064/Maulana Yusuf Brigjen TNI Fierman Sjahrial Agustus, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Andi Faizal Bakti, perwakilan Polda Banten, perwakilan Badan Intelijen Negara Daerah (Binda) Banten, dan undangan lainnya.
Selain itu, hadir pula Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag Prof Dr Ahmad Sainul Hamdi, Kemahasiswaan Kemendikbudristek Prof Andi Faisal Bakti, dan Mitra Deradikalisasi BNPT Yudi Zulfachri yang bertindak sebagai narasumber dalam sesi diskusi panel.
(abd)
Lihat Juga :