Istitha'ah Kesehatan Haji

Rabu, 03 Juli 2024 - 22:22 WIB
loading...
A A A
Pada musim haji 1445 H/2024 M, hingga tulisan ini dibuat (02 Juni 2024) tercatat total-kumulatif masih dalam kisaran belasan di atas tiga ratus jemaah haji. Bandingkan dengan musim haji sebelumnya yang total mencapai angka di atas enam ratus.

Data di atas menunjukkan bahwa standar istitha’ah kesehatan melalui kebijakan “Istitha’ah kesehatan dulu, baru pelunasan ongkos haji” di atas sangat efektif. Standar kesehatan itu bisa menekan problem kematian jemaah haji Indonesia selama pelaksanaan haji di Arab Saudi. Jumlah jemaah haji yang masuk kategori kelompok risiko tinggi (risti) kesehatan makin menurun.

Maut memang kuasa Tuhan. Namun promosi kesehatan dan sekaligus pencegahan angka individu yang bermasalah dengan kesehatan harus dilakukan semaksimal mungkin oleh siapapun mereka. Nah, kriteria istitha’ah kesehatan itu instrumen penting untuk melihat suksesnya promosi kesehatan dimaksud.

Tentu jika ada praktik yang tidak benar dalam proses pemenuhan kriteria istitha’ah kesehatan di atas, masalah akan kembali kepada diri jemaah haji sendiri. “Ada seorang lelaki tua menyesal setelah mendapati isterinya meninggal dalam proses menjalani rangkaian ibadah haji di Arab Saudi,” cerita salah seorang pimpinan penyelenggara haji Indonesia siang itu.

Inisialnya JJ. Dia menceritakan kisah itu saat makan siang bersama di ruang makan, di Hotel Assel, Jeddah, Senen (02 Juli 2024), hari terakhir sebelum malamnya rombongan tim Monitoring dan Evaluasi haji 2024 kembali ke tanah air.

Kata “menyesal” dari pernyataan lelaki tua itu membuat pimpinan petugas haji Indonesia yang menceritakan ulang kisah itu semakin terangsang untuk bertanya lebuh jauh. “Lalu, kenapa Bapak menyesal? Bukankah isteri meninggal di Tanah Suci yang banyak dirindukan? Apa yang membuat Bapak menyesal?” Begitu tanya Pak JJ dalam ceritanya kala itu.

Lelaki tua itu menjawab: “Seandainya saya tidak melakukan kekeliruan, mungkin cerita isteri saya tidak seperti ini.” Mendengar pernyataan itu, sang petugas haji Indonesia itu makin tertarik untuk bertanya lebih mendalam. “Apa kekeliruan Bapak?” tanya petugas haji Indonesia itu seakan-akan menginvestigasi.

Lelaki tua itu pun menceritakan lebih detail seperti ini: “Saat mengurus surat kesehatan di Indonesia sebagai persyaratan haji, isteri saya menggunakan air kencing anak saya. Sebelum pergi ke rumah sakit untuk tes urin, isteri saya meminta anak saya untuk mengisi botol plastik kecil dengan urinnya. Lalu dia bawa saat ke rumah sakit. Nah, yang dia isikan ke botol urin untuk tes kesehatan di rumah sakit itu justeru dari urin anaknya yang telah dia simpan dari rumah. Hasil tes urinnya pun memang oke. Tapi justeru karena itu, isteriku di sini saat haji harus menjemput ajalnya karena dia tak kuat lagi bertahan dengan penyakit bawaannya.”

Mungkin lelaki tua itu tak pernah berpikir panjang dengan akibat buruk dari kekeliruan perilakunya dengan tidak jujur dalam uji Kesehatan semasa di Indonesia. Saat kriteria istitha’ah kesehatan waktu itu bisa dipenuhi dalam proses pengurusannya, kala itu mungkin hati senang-senang saja. Bahagia karena akan segera bisa berangkat haji.

Namun, nasib berkata lain. Justru dengan diterimanya hasil uji kesehatan dirinya dengan cara yang tidak jujur itu justeru membahayakan dirinya sendiri. Sebab akibatnya, mitigasi risiko tinggi atas kesehatannya mungkin tak lagi dipandang perlu. Sisi lain, tingginya kebutuhan terhadap kekuatan fisik untuk menjalani ibadah haji semakin memperparah situasi. Akhirnya, ketahanan fisik diri pun tak lagi bisa dipertahankan di tengah tuntutan gerak fisik yang tinggi dalam ibadah haji.

Indeks kesehatan diri memang terlalu mahal untuk dikesampingkan. Karena, indikator istitha’ah kesehatan semakin menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Tentu kita semua. Baik jemaah haji Indonesia yang seang berada di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji maupun keluarganya yang menunggu dan ikut berdoa di Indonesia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Kemenhaj Serahkan Paket...
Kemenhaj Serahkan Paket Daging Dam Jemaah Haji Indonesia untuk Rakyat Palestina
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Ujian Kapasitas Negara,...
Ujian Kapasitas Negara, Bukan Sekadar Kasus Korupsi
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
15.086 Jemaah Haji Reguler...
15.086 Jemaah Haji Reguler dan 7.547 Haji Khusus Telah Tiba di Indonesia
Data Kemenhaj, 6.333...
Data Kemenhaj, 6.333 Jemaah Haji Kembali ke Tanah Air
6 Keistimewaan Masjidil...
6 Keistimewaan Masjidil Haram yang Jarang Diketahui Jemaah Haji
Rekomendasi
China Diam-diam Simpan...
China Diam-diam Simpan Ribuan Server di Dasar Laut, Apa Tujuannya?
Tio Pakusadewo Dirawat...
Tio Pakusadewo Dirawat Akibat Gangguan Jantung, Dewi Irawan Buka Donasi
Nvidia RTX Spark: Superkomputer...
Nvidia RTX Spark: Superkomputer Kemasan Sachet, Bikin Intel dan AMD Keringat Dingin
Berita Terkini
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Perang Iran 20266: Ketika...
Perang Iran 20266: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
3 Pati dan Pamen Dimutasi...
3 Pati dan Pamen Dimutasi Kapolri ke Kortastipidkor, Ada Irjen hingga Kombes Pol
7 Terdakwa Kasus Suap...
7 Terdakwa Kasus Suap Sertifikasi K3 Kemnaker Dihukum 4 hingga 6,5 Tahun Penjara
Infografis
Jadi Buah Terbaik di...
Jadi Buah Terbaik di Asia Tenggara, Ini 7 Manfaat Manggis untuk Kesehatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved