Inginkah Meninggal di Tanah Suci?
Selasa, 02 Juli 2024 - 17:01 WIB
loading...
A
A
A
Tiba-tiba kematian pun kusaksikan sendiri terjadi pada jemaah haji Indonesia di suatu pagi. Alkisah, kala itu Hari Rabu (26 Juni 2024), jam masih menunjuk ke angka 06:30 WAS (Waktu Arab Saudi). Aku bersama Prof Masnun Tahir dan Prof Martin Kustanti sedang mendampingi pimpinan petugas haji. Namanya Pak Wibowo Prasetyo. Pergi ke Sektor 8 Daker Mekkah. Kepentingannya untuk memastikan kelancaran proses pemberangkatan jemaah haji Indonesia dari Makkah ke Madinah untuk menunaikan ibadah di Masjid Nabawi. Lalu setelah itu dari Bandara Madinah itu mereka terbang pulang ke negeri sendiri.
Saat mata mengarahkan pandangan ke semua titik persiapan keberangkatan jemaah haji di Sektor itu, tiba-tiba ada gemuruh suara dari sebuah bus yang siap memberangkatkan jemaah haji ke Madinah itu. Bergegaslah para petugas haji Sektor 8 itu menuju bus dimaksud. Lalu turunlah dari bus itu dua orang yang membopong seorang nenek. Sangat tua sekali usianya. Diboponglah sang nenek itu ke lobby hotel. Lalu, seorang lelaki Arab yang juga pimpinan maktab itu berteriak: "Kursi! Kursi! Kursi!"
Dia teriakkan kata itu kencang sekali. Sambil menyuruh anak buahnya segera menyiapkan kursi itu di lobby hotel. "Minggir! Minggir!" adalah kata lanjutan yang juga dia teriakkan berkali-bekali untuk meminta jemaah haji Indonesia yang bergerombol di depan pintu utama masuk hotel itu untuk memberi ruas jalan. Agar sang nenek yang sedang dibopong dengan buru-buru oleh dua petugas haji Indonesia itu segera bisa sampai di lobby hotel untuk duduk di kursi dan dirawat. Alhamdulillah, pada titik ini, sang nenek bisa segera mendapatkan tempat istirahat sementara di lobby itu.
Hanya beberapa menit berikutnya, datanglah mobil ambulance dengan kencangnya. Itu mobil pertolongan kesehatan yang dikemudikan oleh petugas haji Indonesia. Di dalamnya seperangkat fasilitas dan tenaga medis yang juga semuanya orang Indonesia. Itu karena, mobil ambulance itu memang fasilitas layanan dari KKHI Daker Mekkah. Bergegaslah para petugas kesehatan itu dengan perangkat alat medis bersama mereka ke dalam lobby hotel. Dilakukanlah tindakan medis darurat di lobby hotel itu.
Tiga menit berikutnya, keluarlah seluruh petugas kesehatan itu dari lobby hotel. Mereka mendorong kereta pasien dengan terburu-buru. Di atasnya ada nenek yang tadi dibopong masuk dari bus ke lobby hotel. Dia terlentang. Tanpa daya. Dan yang mengejutkanku dan tentu semua jemaah haji yang berada di ruang luar depan hotel itu, di atas kereta dorong pasien itu berdiri seorang dokter. Dia menekan-nekan dada sang nenek. Terus ditekan-tekan. Sambil kereta dorong itu didorong kencang ke arah ambulance. Walaupun sang nenek tampak diam tanpa daya. Lalu, sang nenek dengan kereta dorong dibawa masuk ke ambulance.
Ditutuplah pintu ambulance itu dengan segeranya. Cepat sekali prosesnya, Lalu, dilarikanlah sang nenek dengan ambulance itu ke rumah sakit. Suara wuing wuing wuing wuing keras sekali terdengar. Begitu bunyi sirine yang dikendalikan oleh sang sopir ambulance meraung-raung. Suaranya memang memekakkan telinga. Sirine pun dinyalakan dengan kerasnya. Namun, justeru suara itu membuat hati merinding karenanya. Pertanda ada pasien yang sedang mengalami darurat layanan kesehatan. Dan tindakan medis atasnya pun juga harus segera diberikan.
Saat mata mengarahkan pandangan ke semua titik persiapan keberangkatan jemaah haji di Sektor itu, tiba-tiba ada gemuruh suara dari sebuah bus yang siap memberangkatkan jemaah haji ke Madinah itu. Bergegaslah para petugas haji Sektor 8 itu menuju bus dimaksud. Lalu turunlah dari bus itu dua orang yang membopong seorang nenek. Sangat tua sekali usianya. Diboponglah sang nenek itu ke lobby hotel. Lalu, seorang lelaki Arab yang juga pimpinan maktab itu berteriak: "Kursi! Kursi! Kursi!"
Dia teriakkan kata itu kencang sekali. Sambil menyuruh anak buahnya segera menyiapkan kursi itu di lobby hotel. "Minggir! Minggir!" adalah kata lanjutan yang juga dia teriakkan berkali-bekali untuk meminta jemaah haji Indonesia yang bergerombol di depan pintu utama masuk hotel itu untuk memberi ruas jalan. Agar sang nenek yang sedang dibopong dengan buru-buru oleh dua petugas haji Indonesia itu segera bisa sampai di lobby hotel untuk duduk di kursi dan dirawat. Alhamdulillah, pada titik ini, sang nenek bisa segera mendapatkan tempat istirahat sementara di lobby itu.
Hanya beberapa menit berikutnya, datanglah mobil ambulance dengan kencangnya. Itu mobil pertolongan kesehatan yang dikemudikan oleh petugas haji Indonesia. Di dalamnya seperangkat fasilitas dan tenaga medis yang juga semuanya orang Indonesia. Itu karena, mobil ambulance itu memang fasilitas layanan dari KKHI Daker Mekkah. Bergegaslah para petugas kesehatan itu dengan perangkat alat medis bersama mereka ke dalam lobby hotel. Dilakukanlah tindakan medis darurat di lobby hotel itu.
Tiga menit berikutnya, keluarlah seluruh petugas kesehatan itu dari lobby hotel. Mereka mendorong kereta pasien dengan terburu-buru. Di atasnya ada nenek yang tadi dibopong masuk dari bus ke lobby hotel. Dia terlentang. Tanpa daya. Dan yang mengejutkanku dan tentu semua jemaah haji yang berada di ruang luar depan hotel itu, di atas kereta dorong pasien itu berdiri seorang dokter. Dia menekan-nekan dada sang nenek. Terus ditekan-tekan. Sambil kereta dorong itu didorong kencang ke arah ambulance. Walaupun sang nenek tampak diam tanpa daya. Lalu, sang nenek dengan kereta dorong dibawa masuk ke ambulance.
Ditutuplah pintu ambulance itu dengan segeranya. Cepat sekali prosesnya, Lalu, dilarikanlah sang nenek dengan ambulance itu ke rumah sakit. Suara wuing wuing wuing wuing keras sekali terdengar. Begitu bunyi sirine yang dikendalikan oleh sang sopir ambulance meraung-raung. Suaranya memang memekakkan telinga. Sirine pun dinyalakan dengan kerasnya. Namun, justeru suara itu membuat hati merinding karenanya. Pertanda ada pasien yang sedang mengalami darurat layanan kesehatan. Dan tindakan medis atasnya pun juga harus segera diberikan.
Lihat Juga :