Dilema Teknologi Pendingin Udara sebagai Strategi Adaptasi Iklim di Indonesia
Selasa, 04 Juni 2024 - 23:48 WIB
loading...
A
A
A
Jadi sampai sekarang belum ada teknologi alternatif yang bisa mengalahkan gabungan kesederhanaan, harga dan efektivitas AC. Tapi ini bukan berarti efektivitas penggunaan AC di lapangan sudah bagus dan tanpa masalah. Justru sebaliknya! Tentunya kita pernah masuk ke sebuah ruangan ber-AC yang terasa panas, padahal AC itu mungkin sudah dinyalakan dengan kecepatan kipas maksimal dan suhunya sudah diatur paling rendah. Anehnya, kalau diperiksa, udara yang keluar dari AC terasa dingin. Kondisi ini biasanya disebabkan AC yang dipasang kapasitasnya terlalu kecil atau lokasi pemasangannya tidak ideal. Akibatnya bukan hanya membuat suhu ruangan tidak sesejuk yang diharapkan, tetapi konsumsi listriknya sangat tinggi dan AC tersebut cepat rusak.
Mari sejenak kita menilik cara kerja AC. Sebuah AC bisa dilihat sebagai sebuah pompa yang memindahkan panas dari dalam ruangan ke luar. Karena itu semua AC selalu punya bagian yang ditaruh di dalam ruangan yang meniupkan udara sejuk, dan bagian yang ditaruh di luar ruangan yang membuang panas ke luar. Jantung sebuah AC adalah alat yang disebut kompresor. Kompresor ini adalah komponen yang paling banyak mengkonsumsi listrik dalam sebuah sistem AC.
Sebuah AC juga biasanya dilengkapi dengan sebuah alat yang disebut termostat, bertugas untuk memantau suhu udara ruangan. Ketika sudah mencapai suhu yang diinginkan, maka kompresor akan dimatikan (untuk sistem bukan inverter) atau diturunkan kecepatannya (untuk sistem inverter). Tujuannya adalah supaya ruangan tidak jadi terlalu dingin dan bisa menghemat konsumsi listrik.
Jadi, sebagai contoh, ketika kita mengatur suhu yang ingin dicapai di remote control AC pada 18°C, berarti kita memerintahkan AC tersebut untuk mematikan atau memperlambat kompresor, pada saat suhu yang diukur termostat sudah mendekati angka tersebut. Ketika nanti suhu di ruangan sudah mulai memanas melebihi batas tertentu, maka kompresor kembali dinyalakan atau kecepatannya ditingkatkan.
Lalu, apa yang akan terjadi kalau suhu ruangan yang diukur termostat tidak pernah serendah yang kita atur? Kompresor akan terus menyala dengan kecepatan maksimal. Akibatnya kompresor akan mengkonsumsi listrik terus-menerus membuat tagihan listrik mahal. Selain itu, kompresor ini akan cepat rusak karena harus bekerja pada batas kemampuannya terus-menerus.
Apa faktor penentu sebuah AC mampu mencapai suhu ruangan yang kita atur atau tidak? Faktor terpenting adalah kapasitas pendinginan AC tersebut. Prinsip di balik sejuk atau panasnya sebuah ruangan adalah keseimbangan energi panas. Kalau lebih banyak energi panas yang masuk ke ruangan daripada yang meninggalkannya, maka ruangan itu akan tambah panas dan sebaliknya.
Sumber panas sebuah ruangan, termasuk barang-barang yang melepas panas seperti alat elektronik, setrika, kompor, kulkas maupun orang-orang pengguna ruangan. Ada juga sumber panas dari luar ruangan seperti sinar matahari yang masuk ruangan, panas yang merambat masuk dari luar lewat dinding, udara panas yang masuk dari sela-sela pintu dan jendela atau ketika pintu dibuka. Tugas AC adalah mengeluarkan panas dari ruangan. Kalau AC bisa mengeluarkan cukup banyak panas dari ruangan dibandingkan panas yang masuk, maka ruangan tersebut akan menjadi sejuk.
Mari sejenak kita menilik cara kerja AC. Sebuah AC bisa dilihat sebagai sebuah pompa yang memindahkan panas dari dalam ruangan ke luar. Karena itu semua AC selalu punya bagian yang ditaruh di dalam ruangan yang meniupkan udara sejuk, dan bagian yang ditaruh di luar ruangan yang membuang panas ke luar. Jantung sebuah AC adalah alat yang disebut kompresor. Kompresor ini adalah komponen yang paling banyak mengkonsumsi listrik dalam sebuah sistem AC.
Sebuah AC juga biasanya dilengkapi dengan sebuah alat yang disebut termostat, bertugas untuk memantau suhu udara ruangan. Ketika sudah mencapai suhu yang diinginkan, maka kompresor akan dimatikan (untuk sistem bukan inverter) atau diturunkan kecepatannya (untuk sistem inverter). Tujuannya adalah supaya ruangan tidak jadi terlalu dingin dan bisa menghemat konsumsi listrik.
Jadi, sebagai contoh, ketika kita mengatur suhu yang ingin dicapai di remote control AC pada 18°C, berarti kita memerintahkan AC tersebut untuk mematikan atau memperlambat kompresor, pada saat suhu yang diukur termostat sudah mendekati angka tersebut. Ketika nanti suhu di ruangan sudah mulai memanas melebihi batas tertentu, maka kompresor kembali dinyalakan atau kecepatannya ditingkatkan.
Lalu, apa yang akan terjadi kalau suhu ruangan yang diukur termostat tidak pernah serendah yang kita atur? Kompresor akan terus menyala dengan kecepatan maksimal. Akibatnya kompresor akan mengkonsumsi listrik terus-menerus membuat tagihan listrik mahal. Selain itu, kompresor ini akan cepat rusak karena harus bekerja pada batas kemampuannya terus-menerus.
Apa faktor penentu sebuah AC mampu mencapai suhu ruangan yang kita atur atau tidak? Faktor terpenting adalah kapasitas pendinginan AC tersebut. Prinsip di balik sejuk atau panasnya sebuah ruangan adalah keseimbangan energi panas. Kalau lebih banyak energi panas yang masuk ke ruangan daripada yang meninggalkannya, maka ruangan itu akan tambah panas dan sebaliknya.
Sumber panas sebuah ruangan, termasuk barang-barang yang melepas panas seperti alat elektronik, setrika, kompor, kulkas maupun orang-orang pengguna ruangan. Ada juga sumber panas dari luar ruangan seperti sinar matahari yang masuk ruangan, panas yang merambat masuk dari luar lewat dinding, udara panas yang masuk dari sela-sela pintu dan jendela atau ketika pintu dibuka. Tugas AC adalah mengeluarkan panas dari ruangan. Kalau AC bisa mengeluarkan cukup banyak panas dari ruangan dibandingkan panas yang masuk, maka ruangan tersebut akan menjadi sejuk.