Dilema Teknologi Pendingin Udara sebagai Strategi Adaptasi Iklim di Indonesia
Selasa, 04 Juni 2024 - 23:48 WIB
loading...
A
A
A
Kemampuan AC memindahkan panas ini diindikasikan oleh kapasitasnya. Di Indonesia, parameter yang paling umum dipakai untuk mengindikasikan kapasitas AC adalah daya listrik kompresor dalam satuan PK. Satuan ini kita warisi dari kata dalam bahasa Belanda “Paardenkracht” yang dalam bahasa Indonesia “tenaga kuda”. AC 1 PK mengkonsumsi listrik sekitar 800 Watt dan mampu memindahkan panas sekitar 9000 BTU/jam atau sekitar 2.600 Watt. Jadi kalau panas yang masuk ruangan totalnya kurang dari 2.600 Watt, AC 1 PK akan mampu membuat ruangan sejuk. Tapi kalau total panas yang masuk ruangan lebih dari 2.600 Watt, dibutuhkan AC yang lebih besar kapasitasnya untuk membuat ruangan tersebut sejuk.
Pada praktiknya di lapangan, proyek-proyek AC berskala besar biasanya melakukan perhitungan energi panas seperti yang dipaparkan di atas untuk menentukan ukuran AC yang diperlukan. Tapi untuk proyek berskala kecil, biasanya perusahaan penyedia menentukan AC berdasarkan luas lantai dengan menggunakan angka dari pengalaman. Sebagai contoh, bila ukuran ruangan sekitar 16 m2, maka ukuran ACnya 1 PK, tanpa menghitung sebenarnya apa saja sumber panas yang masuk ke ruangan.
Metode ini memang sangat sederhana dan biasanya cukup akurat untuk ruangan yang sederhana seperti rumah atau kamar tidur. Tetapi untuk ruangan dengan sumber-sumber panas yang lebih rumit, misalnya restoran, kafe atau pabrik, dimana ada alat-alat penghasil panas di dalam ruangan, seringkali AC yang dipilih terlalu kecil kapasitasnya. Akibatnya, muncullah situasi seperti yang kita bahas di awal, yaitu AC menyala tapi ruangan tetap panas.
Masalah lain dengan metode pemilihan ukuran AC berdasarkan luas lantai adalah asumsi yang sudah tidak tepat tentang suhu luar. Pemilihan AC 1 PK untuk ruangan 16 m2 mendasarkan pengalaman masa lalu ketika suhu luar belum sepanas sekarang. Karena itu, makin banyak keluhan bahwa AC yang dipasang sekarang tidak bisa membuat ruangannya sejuk.
Menyikapi dilema yang penulis paparkan di sini, sebagai akademisi, peneliti teknologi pendingin udara dan sekaligus pelaku di lapangan, penulis merasa edukasi tentang penggunaan AC yang tepat kepada masyarakat perlu semakin digencarkan. Misalnya, pengaturan suhu ruangan yang sesuai untuk konteks Indonesia adalah sekitar 24°C, bukan 18°C. Selain itu kalau AC sedang dinyalakan, semua jendela dan pintu harus ditutup rapat, atau bahwa jangan ada exhaust fan yang menyala menarik udara keluar dari ruangan ketika memakai AC.
Penyedia AC dan jasa pemasangannya juga perlu lebih seksama dalam membantu pengguna memilih ukuran AC yang tepat dan menentukan lokasi pemasangan unit AC. Penulis merasa perhitungan energi panas sederhana perlu lebih umum dilakukan dalam menentukan ukuran AC, setidaknya untuk ruangan yang jelas-jelas ada sumber panas di dalamnya. Penentuan posisi pemasangan unit AC dalam dan luar ruangan juga perlu dipertimbangkan dengan lebih seksama, untuk memastikan udara bisa bergerak dengan tak terhambat. Secara khusus, pemasangan unit luar ruangan perlu sebisa mungkin diletakkan di tempat yang tidak terlalu panas dan tidak terhalang, supaya panas dari kondenser bisa dibuang dengan optimal.
Sebagai penutup, penulis memprediksi kepemilikan dan penggunaan AC akan terus meningkat di Indonesia. Untuk mengurangi dampak lingkungan dan dampak ekonomis tren ini, baik pengguna maupun penyedia AC perlu lebih seksama dalam praktik-praktiknya di lapangan.
Pada praktiknya di lapangan, proyek-proyek AC berskala besar biasanya melakukan perhitungan energi panas seperti yang dipaparkan di atas untuk menentukan ukuran AC yang diperlukan. Tapi untuk proyek berskala kecil, biasanya perusahaan penyedia menentukan AC berdasarkan luas lantai dengan menggunakan angka dari pengalaman. Sebagai contoh, bila ukuran ruangan sekitar 16 m2, maka ukuran ACnya 1 PK, tanpa menghitung sebenarnya apa saja sumber panas yang masuk ke ruangan.
Metode ini memang sangat sederhana dan biasanya cukup akurat untuk ruangan yang sederhana seperti rumah atau kamar tidur. Tetapi untuk ruangan dengan sumber-sumber panas yang lebih rumit, misalnya restoran, kafe atau pabrik, dimana ada alat-alat penghasil panas di dalam ruangan, seringkali AC yang dipilih terlalu kecil kapasitasnya. Akibatnya, muncullah situasi seperti yang kita bahas di awal, yaitu AC menyala tapi ruangan tetap panas.
Masalah lain dengan metode pemilihan ukuran AC berdasarkan luas lantai adalah asumsi yang sudah tidak tepat tentang suhu luar. Pemilihan AC 1 PK untuk ruangan 16 m2 mendasarkan pengalaman masa lalu ketika suhu luar belum sepanas sekarang. Karena itu, makin banyak keluhan bahwa AC yang dipasang sekarang tidak bisa membuat ruangannya sejuk.
Menyikapi dilema yang penulis paparkan di sini, sebagai akademisi, peneliti teknologi pendingin udara dan sekaligus pelaku di lapangan, penulis merasa edukasi tentang penggunaan AC yang tepat kepada masyarakat perlu semakin digencarkan. Misalnya, pengaturan suhu ruangan yang sesuai untuk konteks Indonesia adalah sekitar 24°C, bukan 18°C. Selain itu kalau AC sedang dinyalakan, semua jendela dan pintu harus ditutup rapat, atau bahwa jangan ada exhaust fan yang menyala menarik udara keluar dari ruangan ketika memakai AC.
Penyedia AC dan jasa pemasangannya juga perlu lebih seksama dalam membantu pengguna memilih ukuran AC yang tepat dan menentukan lokasi pemasangan unit AC. Penulis merasa perhitungan energi panas sederhana perlu lebih umum dilakukan dalam menentukan ukuran AC, setidaknya untuk ruangan yang jelas-jelas ada sumber panas di dalamnya. Penentuan posisi pemasangan unit AC dalam dan luar ruangan juga perlu dipertimbangkan dengan lebih seksama, untuk memastikan udara bisa bergerak dengan tak terhambat. Secara khusus, pemasangan unit luar ruangan perlu sebisa mungkin diletakkan di tempat yang tidak terlalu panas dan tidak terhalang, supaya panas dari kondenser bisa dibuang dengan optimal.
Sebagai penutup, penulis memprediksi kepemilikan dan penggunaan AC akan terus meningkat di Indonesia. Untuk mengurangi dampak lingkungan dan dampak ekonomis tren ini, baik pengguna maupun penyedia AC perlu lebih seksama dalam praktik-praktiknya di lapangan.
(abd)