RS BUMN Didorong Tingkatkan Layanan Kesehatan Nasional
Selasa, 18 Agustus 2020 - 17:16 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, dari sisi aset, Holding RS BUMN mempunyai aset total sekitar Rp5 Triliun dan estimasi pendapatan usaha hingga mencapai Rp4,5 triliun pertahun.
"Besarnya pendapatan dan aset ini bisa dikembangkan untuk meningkatkan layanan kesehatan yang terintegrasi, sehingga dalam manajemen kesehatan yang dimiliki holding ini bisa memudahkan pasien dalam mendapatkan layanan kesehatan termasuk pada prosedur rujukan dan lainnya," jelasnya.
Pria yang akrab disapa Awiek ini menambahkan, selama ini RS BUMN menginduk ke BUMN yang sebenarnya bisnis utama mereka berbagai macam mulai dari BUMN energi, kontruksi, bahan kontruksi dan lainnya yang jauh dari bidang kesehatan.
"Sehingga perhatian induk BUMN tersebut pada pengembangan layanan kesehatan cukup terbatas, berbeda jika RS BUMN itu disatukan dalam satu holding tersendiri yang saat ini sudah dibentuk oleh Kementerian BUMN," ujarnya.
Dia berharap, ke depan jumlah RS BUMN yang tergabung dalam holding yang dipimpin PT Pertamina Bina Medika IHC (Pertamedika IHC) ini bisa bertambah, mengingat saat ini baru ada 7 RS yang masuk dalam holding yaitu PT Krakatau Medika, PT Rumah Sakit Pelabuhan, PT Pelindo Husada Citra, PT Nusantara Medika Utama, PT Nusantara Sebelas Medika, PT Rolas Nusantara Medika, dan PT Rumah Sakit Bakti Timah.
"Padahal jumlah RS BUMN lebih dari 40 RS seperti RS BUMN yang ada di Jawa Timur yaitu RS Pelni, RS PHC, Rumah Sakit Semen Gresik dan lainnya," ungkapnya.
Sementara Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyatakan, merjer rumah sakit anak perusahaan BUMN dari berbagai sektor yang tergabung dalam satu wadah, dilihat dari sisi bisnis bisa menguntungkan.
"Intinya inikan merealisasikan apa yang sudah disampaikan oleh Pak Erick Thohir, supaya anak perusahaan yang berbeda bidang sektor dengan induknya itu, dipisah kemudian digabungkan menjadi satu dan penggabungan ini saya kira tentunya menguntungkan," kata Piter.
"Besarnya pendapatan dan aset ini bisa dikembangkan untuk meningkatkan layanan kesehatan yang terintegrasi, sehingga dalam manajemen kesehatan yang dimiliki holding ini bisa memudahkan pasien dalam mendapatkan layanan kesehatan termasuk pada prosedur rujukan dan lainnya," jelasnya.
Pria yang akrab disapa Awiek ini menambahkan, selama ini RS BUMN menginduk ke BUMN yang sebenarnya bisnis utama mereka berbagai macam mulai dari BUMN energi, kontruksi, bahan kontruksi dan lainnya yang jauh dari bidang kesehatan.
"Sehingga perhatian induk BUMN tersebut pada pengembangan layanan kesehatan cukup terbatas, berbeda jika RS BUMN itu disatukan dalam satu holding tersendiri yang saat ini sudah dibentuk oleh Kementerian BUMN," ujarnya.
Dia berharap, ke depan jumlah RS BUMN yang tergabung dalam holding yang dipimpin PT Pertamina Bina Medika IHC (Pertamedika IHC) ini bisa bertambah, mengingat saat ini baru ada 7 RS yang masuk dalam holding yaitu PT Krakatau Medika, PT Rumah Sakit Pelabuhan, PT Pelindo Husada Citra, PT Nusantara Medika Utama, PT Nusantara Sebelas Medika, PT Rolas Nusantara Medika, dan PT Rumah Sakit Bakti Timah.
"Padahal jumlah RS BUMN lebih dari 40 RS seperti RS BUMN yang ada di Jawa Timur yaitu RS Pelni, RS PHC, Rumah Sakit Semen Gresik dan lainnya," ungkapnya.
Sementara Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyatakan, merjer rumah sakit anak perusahaan BUMN dari berbagai sektor yang tergabung dalam satu wadah, dilihat dari sisi bisnis bisa menguntungkan.
"Intinya inikan merealisasikan apa yang sudah disampaikan oleh Pak Erick Thohir, supaya anak perusahaan yang berbeda bidang sektor dengan induknya itu, dipisah kemudian digabungkan menjadi satu dan penggabungan ini saya kira tentunya menguntungkan," kata Piter.
Lihat Juga :