Momentum Benahi Pelayanan Kesehatan
Selasa, 18 Agustus 2020 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
Amin Soebandrio menargetkan produksi vaksin Merah Putih nanti 50% memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dia berharap vaksin Merah Putih kelak jadi solusi untuk mengatasi pandemi.
Produksi dalam negeri ditargetkan sebanyak 350 juta dosis per tahun. Namun, dia mengingatkan bahwa program vaksinasi itu tidak bisa dalam sekejap. Amin memprediksi dengan jumlah penduduk Indonesia proses vaksinasi paling cepat akan sekitar satu tahun.
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, saat ini proses yang dilakukan Lembaga Eijkman adalah menyiapkan kloning dari protein yang nanti akan diuji coba ke hewan mamalia.
Menurut dia, proses kloning ini penting sebab sebagai langkah persiapan sebelum masuk uji klinis vaksin kepada manusia. Bambang berharap proses kloning ini bisa berjalan lancar sehingga dalam kurun waktu satu bulan proses itu bisa selesai.
Menristek melanjutkan, prioritas riset yang akan dikembangkan ialah penyediaan alat kesehatan. Di awal Prioritas Riset Nasional (PRN) digulirkan, riset terkait alat kesehatan diakuinya memang kurang mendapat perhatian. Namun, dengan kebutuhan yang tinggi di masa pandemi, dia meyakini Indonesia kini bisa mulai melakukan inovasi untuk berbagai macam alat kesehatan yang dibutuhkan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan, masalah kesehatan yang dialami bangsa Indonesia saat ini bukan karena faktor ketidaksiapan layanan medis. Dia mencontohkan sejumlah negara maju yang memiliki rumah sakit terbaik di dunia, punya dana paling banyak, memiliki sistem asuransi kesehatan terbaik, dokter ahli yang sangat banyak, namun kenyataannya juga mengalami masalah yang luar biasa saat terdampak Covid-19. (Lihat videonya: Bakso Merah Putih Hidangan Menyambut Hari Kemerdekaan)
“Negara tersebut juga mengalami hal yang sama. Kita jangan pesimistis. Kalau kita pesimistis dan merasa lebih kurang bagus dibanding negara lain, kita enggak bisa apa-apa,” ucapnya kepada KORAN SINDO, Jumat (15/8).
Dia berharap bangsa Indonesia tidak pesimistis dan menyalahkan diri sendiri. Sebaliknya, justru kekuatan luar biasa yang dimiliki seperti gotong-royong sebagai modal sosial perlu didorong agar krisis akibat Covid-19 bisa cepat terselesaikan. (Binti Mufarida/Kiswondari/Neneng Zubaidah/Bakti)
Produksi dalam negeri ditargetkan sebanyak 350 juta dosis per tahun. Namun, dia mengingatkan bahwa program vaksinasi itu tidak bisa dalam sekejap. Amin memprediksi dengan jumlah penduduk Indonesia proses vaksinasi paling cepat akan sekitar satu tahun.
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, saat ini proses yang dilakukan Lembaga Eijkman adalah menyiapkan kloning dari protein yang nanti akan diuji coba ke hewan mamalia.
Menurut dia, proses kloning ini penting sebab sebagai langkah persiapan sebelum masuk uji klinis vaksin kepada manusia. Bambang berharap proses kloning ini bisa berjalan lancar sehingga dalam kurun waktu satu bulan proses itu bisa selesai.
Menristek melanjutkan, prioritas riset yang akan dikembangkan ialah penyediaan alat kesehatan. Di awal Prioritas Riset Nasional (PRN) digulirkan, riset terkait alat kesehatan diakuinya memang kurang mendapat perhatian. Namun, dengan kebutuhan yang tinggi di masa pandemi, dia meyakini Indonesia kini bisa mulai melakukan inovasi untuk berbagai macam alat kesehatan yang dibutuhkan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan, masalah kesehatan yang dialami bangsa Indonesia saat ini bukan karena faktor ketidaksiapan layanan medis. Dia mencontohkan sejumlah negara maju yang memiliki rumah sakit terbaik di dunia, punya dana paling banyak, memiliki sistem asuransi kesehatan terbaik, dokter ahli yang sangat banyak, namun kenyataannya juga mengalami masalah yang luar biasa saat terdampak Covid-19. (Lihat videonya: Bakso Merah Putih Hidangan Menyambut Hari Kemerdekaan)
“Negara tersebut juga mengalami hal yang sama. Kita jangan pesimistis. Kalau kita pesimistis dan merasa lebih kurang bagus dibanding negara lain, kita enggak bisa apa-apa,” ucapnya kepada KORAN SINDO, Jumat (15/8).
Dia berharap bangsa Indonesia tidak pesimistis dan menyalahkan diri sendiri. Sebaliknya, justru kekuatan luar biasa yang dimiliki seperti gotong-royong sebagai modal sosial perlu didorong agar krisis akibat Covid-19 bisa cepat terselesaikan. (Binti Mufarida/Kiswondari/Neneng Zubaidah/Bakti)
(ysw)
Lihat Juga :