Hari Kemerdekaan Harus Jadi Momen Perkuat Ketahanan Nasional
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 12:01 WIB
loading...
A
A
A
“Peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk menanggulangi wabah Covid-19. Kami juga berharap kerja sama masyarakat dan pemerintah untuk memerangi atau memusuhi segala bentuk terorisme, kekerasan dan semacamnya. Kalau ini dilakukan saya kira kita akan hidup tentram sebagai warga bangsa,” tandasnya. (Baca juga: Pidato Jokowi soal Penanggulangan Covid-19 Harus Segera Direalisasikan )
Dia mengungkapkan untuk menanggulangi paham radikal terorisme, masyarakat harus memiliki pemahaman agama mendalam dan jangan belajar kepada guru yang tidak tepat.
Nasaruddin menegaskan harus memahami Alquran dan Hadist secara mendalam agar tidak melenceng. “Karena pemahaman agama yang melenceng bisa bahaya dalam masyarakat. Karena itu belajarlah kepada sumber yang lebih baik. Jangan Belajar kepada orang-orang yang tidak jelas keilmuannya,” tuturnya.
Menurut dia, harus ada yang bisa menjadi contoh di tengah masyakat, paling tidak dalam lingkungan untuk menjalankan agama secara toleran. Termasuk juga memiliki jiwa nasionalisme untuk membangun bangsa.
“Nasionalisme memiliki banyak bentuk, cinta produk dalam negeri misalnya, cinta pemikiran-pemikiran dalam negeri. Jangan seolah-olah pemikir barat itu benar, mutlak, atau Timur Tengah itu benar. Karena kebenaran itu universal, ada disana, ada disini. Sama juga kesalahan, ada di sana, ada di sini. Nasionalisme itu bukan hanya konsumsi produk dalam negeri, konsumsi pemikiran dalam negeri pun juga perlu,” katanya.
Dia mengungkapkan untuk menanggulangi paham radikal terorisme, masyarakat harus memiliki pemahaman agama mendalam dan jangan belajar kepada guru yang tidak tepat.
Nasaruddin menegaskan harus memahami Alquran dan Hadist secara mendalam agar tidak melenceng. “Karena pemahaman agama yang melenceng bisa bahaya dalam masyarakat. Karena itu belajarlah kepada sumber yang lebih baik. Jangan Belajar kepada orang-orang yang tidak jelas keilmuannya,” tuturnya.
Menurut dia, harus ada yang bisa menjadi contoh di tengah masyakat, paling tidak dalam lingkungan untuk menjalankan agama secara toleran. Termasuk juga memiliki jiwa nasionalisme untuk membangun bangsa.
“Nasionalisme memiliki banyak bentuk, cinta produk dalam negeri misalnya, cinta pemikiran-pemikiran dalam negeri. Jangan seolah-olah pemikir barat itu benar, mutlak, atau Timur Tengah itu benar. Karena kebenaran itu universal, ada disana, ada disini. Sama juga kesalahan, ada di sana, ada di sini. Nasionalisme itu bukan hanya konsumsi produk dalam negeri, konsumsi pemikiran dalam negeri pun juga perlu,” katanya.
(dam)
Lihat Juga :