BRIN Prakirakan 1 Ramadan Jatuh pada Selasa 12 Maret
Jum'at, 08 Maret 2024 - 16:31 WIB
loading...
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin menyebutkan bahwa 1 Ramadan akan jatuh pada Selasa 12 Maret 2024 mendatang. Foto/MPI
A
A
A
JAKARTA - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) , Thomas Djamaluddin menyebutkan bahwa posisi hilal diprediksi tak terlihat pada maghrib, 10 Maret 2024.
Ia pun memprediksi bahwa 1 Ramadan akan jatuh pada Selasa 12 Maret 2024 mendatang.
"Tanggal 10 saat maghrib tidak ada hilal yang terlihat belum memenuhi visibilitas hilal," UJARnya saat konferensi pers di Kantor BRIN, Jakarta, Jumat (8/3/2024).
Baca juga:Tetapkan 1 Ramadan Tanggal 11 Maret 2024, Muhammadiyah: Mungkin Idulfitri dan Iduladha Akan Sama
Thomas pun menginformasikan bahwa para perukyat tak bisa melaporkan melihat atau tidaknya hilal secara sendiri-sendiri. Namun, harus dikumpulkan untuk bisa dijadikan sebuah kesimpulan.
"Karena contohnya dalam hadis rasul ada orang Badui melihat hilal, ia tidak mengumumkan sendiri saya melihat hilal, tetapi melaporkan terlebih dahulu kepada rasul bahwa saya melihat hilal. Kemudian rasul memverifikasi dari segi keimanannya dan dari segi benar dia melihat hilal kemudian rasul menyatakan iya, hilal sudah terlihat dan besoknya atau mulai saat maghrib sudah tanggal satu. Jadi dari contoh rasul, isbat diperlukan," jelasnya.
Kemudian Thomas juga menjelaskan bahwa pemerintah mengadopsi perhitungan baru perihal penetapan bulan baru hijriah.
Ia pun memprediksi bahwa 1 Ramadan akan jatuh pada Selasa 12 Maret 2024 mendatang.
"Tanggal 10 saat maghrib tidak ada hilal yang terlihat belum memenuhi visibilitas hilal," UJARnya saat konferensi pers di Kantor BRIN, Jakarta, Jumat (8/3/2024).
Baca juga:Tetapkan 1 Ramadan Tanggal 11 Maret 2024, Muhammadiyah: Mungkin Idulfitri dan Iduladha Akan Sama
Thomas pun menginformasikan bahwa para perukyat tak bisa melaporkan melihat atau tidaknya hilal secara sendiri-sendiri. Namun, harus dikumpulkan untuk bisa dijadikan sebuah kesimpulan.
"Karena contohnya dalam hadis rasul ada orang Badui melihat hilal, ia tidak mengumumkan sendiri saya melihat hilal, tetapi melaporkan terlebih dahulu kepada rasul bahwa saya melihat hilal. Kemudian rasul memverifikasi dari segi keimanannya dan dari segi benar dia melihat hilal kemudian rasul menyatakan iya, hilal sudah terlihat dan besoknya atau mulai saat maghrib sudah tanggal satu. Jadi dari contoh rasul, isbat diperlukan," jelasnya.
Kemudian Thomas juga menjelaskan bahwa pemerintah mengadopsi perhitungan baru perihal penetapan bulan baru hijriah.
Lihat Juga :