Penyelesaian Stunting dan Jargon Hilirisasi

Jum'at, 02 Februari 2024 - 11:41 WIB
loading...
A A A
Dari seluruh rententan kejadian tersebut, menjadi jelas, periode 1.000 HPK yang dipenuhi dengan masalah kurangnya asupan gizi akan berujung pada masalah besar lainnya di kemudian hari. Mengurangi angka stunting berarti mengurangi rangkaian tahapan seorang anak menjadi stunting.

Sehingga sekali lagi secara relevan, menggunakan stunting sebagai indikator perbaikan gizi bagaikan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Atau dalam sudut pandang berbeda, peningkatan angka stunting menjadi pertanda meningkatnya pula berbagai masalah yang menjadi tahapan terjadinya stunting pada anak.

Jika ibu hamil merupakan target utama upaya pencegahan stunting, maka memastikan para wanita usia subur yang kelak akan mengandung berada dalam status kesehatan yang optimal, merupakan langkah penting yang strategis. Intervensi sedini mungkin pada wanita usia subur dalam hal ini pada kelompok remaja memberikan peluang penyelesaian masalah yang lebih efektif.

Remaja putri yang menderita anemia memiliki dampak buruk di kemudian hari. Remaja putri yang anemia jika tidak segera diatasi akan terbawa hingga ia dewasa dan hamil, yang kemudian juga berdampak buruk bagi janin yang dikandungnya.

Janin yang dikandungnya beriskiko lahir dengan berat badan di bawah 2.500 gram (Bayi Berat Lahir Rendah/BBLR). Bayi Berat Lahir Rendah/BBLR ini dapat meningkatkan risiko sakit dan meninggal pada usia muda. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang anemia berpeluang besar untuk mengalami anemia. Kondisi ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan (kemampuan kognitif) anak di kemudian hari.

Catatan Akhir
Masa 1.000 HPK dimulai sejak kehamilan (270 hari) sampai dengan anak berusia 2 tahun (730 hari). Ini adalah masa kritis di mana anak bertumbuh dan berkembang dengan sangat cepat dan signifikan. Masa ini tidak bisa terulang, segala intervensi yang dilakukan pada masa ini akan memberikan hasil yang optimal pada anak sehingga disebut window of opportunities atau periode emas.

Ibu yang mengandung dalam keadaan malnutrisi dan secara konstan berada dalam asupan zat gizi tidak adekuat akan berimplikasi pada pemenuhan zat gizi janin karena ibu adalah satu-satunya jalur bagi janin untuk mendapatkan zat gizi. Kurang zat gizi makro (karbohidrat, protein dan lemak) dicerminkan melalui status gizi dan pertambahan berat badan ibu saat hamil. Sedang kurang zat gizi mikro menjadi ancaman serius bagi kesejahteraan janin.

Dalam enam bulan pertama kehidupan bayi, pemenuhan zat besi (zat gizi mikro) diperoleh dari simpanan yang “diwariskan” oleh ibu saat masih dalam kandungan. Jika ibu mengalami anemia selama masa kehamilan, simpanan zat besi bayinya akan bermasalah sehingga memengaruhi bayi tersebut pada enam bulan pertama.

Mengingat stunting itu merupakan kejadian yang telah berlangsung lama, prosesnya cukup kompleks, dan berdampak jangka panjang, langkah penyelesaiannya pun sangat kompleks. Berbeda dengan masalah ekonomi, maka jargon hilirisasi tidak tepat diterapkan dalam masalah stunting ini. Target penyelesaian stunting justru harus dilakukan pada hulunya, dalam hal ini dimulai pada ibu hamil dan bahkan pada remaja putri.

Pemilihan target intervensi yang berada di hilir bukanlah upaya etiologis namun simtomatis. Program penanganan melalui intervensi “di ujung jalan”, instan dan insidentil, seperti melakukan bakti sosial, memberi makan gratis, dan penanganan lain yang berpusat pada periode di luar 1000 HPK bukan pilihan yang bijak. Penyelesaian stunting harus mengutamakan pendekatan kesisteman.

Pendekatan kesisteman ini perlu melibatkan berbagai unsur yang secara bahu membahu dalam mengatasi stunting. Tidak hanya pemerintah saja, perlu adanya komitmen politik dan kolaborasi pemerintah dengan lintas sektor. Selanjutnya, dibutuhkan pula adanya partisipasi masyarakat dan organisasi profesi kesehatan dalam bentuk Gerakan Indonesia Mengatasi Stunting (GIMS) serta berbagai aktivitas lainnya. Wallahu a'lam bishawab.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Ujian Kapasitas Negara,...
Ujian Kapasitas Negara, Bukan Sekadar Kasus Korupsi
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
Mendorong Standar Baru...
Mendorong Standar Baru Hilirisasi Nikel Berkelanjutan Tengah Tuntutan Global
Viral Mitos Lemak Berbahaya...
Viral Mitos Lemak Berbahaya untuk MPASI Anak, Ini Penjelasan Dokter!
Rekomendasi
Fitnah Akhir Zaman:...
Fitnah Akhir Zaman: Mengapa Wanita Menjadi Sasaran Utama Fitnah Dajjal?
Richard Lee Resmi Dilimpahkan...
Richard Lee Resmi Dilimpahkan ke Kejati Banten, Tinggal Tunggu Jadwal Sidang Perdana
Drone Ukraina Meledak...
Drone Ukraina Meledak Sendiri di Pelabuhan Negara NATO, Kyiv Tuduh Rusia Kerjai Sinyalnya
Berita Terkini
Silmy Karim Cs Ditahan...
Silmy Karim Cs Ditahan KPK, DPR Bakal Minta Penjelasan Kemenimipas
Minta Masukan RUU Pemilu,...
Minta Masukan RUU Pemilu, DPR Bakal Kunjungi Parpol Parlemen dan Nonparlemen
Prabowo Kenang Hari...
Prabowo Kenang Hari Lahir Soekarno Lewat Potret Sang Proklamator
Kasus Dadan Cs, Saut...
Kasus Dadan Cs, Saut Situmorang: Semua hingga Eselon Terkecil Harus Bertanggung Jawab
Pigai Usul Jabatan Utama...
Pigai Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil, Sahroni: Urusin HAM Saja
Revisi UU Polri: Batas...
Revisi UU Polri: Batas Usia dan Syarat Anggota Kompolnas Diusulkan Lebih Fleksibel
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved