alexametrics

Peluru Prajurit TNI Tembus Dua Target, Para Juri Terbelalak

loading...
Peluru Prajurit TNI Tembus Dua Target, Para Juri Terbelalak
Serka Timur Yuda Irawan dan Serka Novian Budianto. Foto/KORAN SINDO/Yan Yusuf
A+ A-
JAKARTA - Sudah hampir 10 menit lebih peluru kaliber 7,62 milimeter tidak kunjung dilepaskan oleh sepasang penembak dari TNI Angkatan Darat, Serka Timur Yuda Irawan dan Serka Novian Budianto. Keduanya masih mengamati empat robot bergerak berjarak 800 meter.

Dengan jarak pandang terbatas dan angin yang begitu kencang, tubuh keduanya pun mulai menggigil. Cuaca dingin serta embusan angin di Australia membuat konsentrasi keduanya sempat terpecah.



“Satu peluru belum saya lepaskan, saya percayakan kepada Serka Timur (spoter) yang memberi aba-aba,” kata ungkap Novian saat ditemui Gedung Serba Guna Markas Besar TNI Angkatan Darat, Gambir, Jakarta Pusat, Senin 14 Mei 2018.

Melalui teropong selebar bola matanya, Serka Timur kemudian memerhatikan empat robot bergerak beriringan. Timur tidak ingin terburu-buru memberikan aba-aba sebelum satu atau dua robot itu berjejer. Baginya mengenai satu sasaran adalah hal biasa.

“Kami ini sudah terdidik untuk menembak terbaik, makanya kami tak mengincar satu sasaran,” ucap Timur. (Baca juga: Ungguli AS dan Inggris, TNI AD Kembali Jadi Jawara Lomba Tembak)

Menjelang menit ke-15, dari teropong kecil itu, timur langsung memberikan sinyal kepada Serka Novian untuk menembak. Lesatan peluru dari senjata AX 308 buat PT Pindad meluncur deras, menembus angin yang pada menit itu sangat keras.

Desingan peluru melesat kemudian menembus dua robot yang tengah bergerak. Tembakan itu melumpuhkan dua robot sekaligus.

Para juri pun terkejut, mereka berdiri dan terhentak. Tidak percaya lesatan peluru kemudian menembus dua robot yang bergerak. Keduanya berhak menyabet "one shot two kill" dari gelaran The Australian Army Skill at Arms Meet (ASSAM) 2018.

Novian dan Timur berbangga atas prestasi yang ditorehkannya. Prestasi yang mereka torehkan merupakan prestasi membanggakan bangsa Indonesia. Torehan menjadi tinta emas dalam sejarah ASSAM.

Bagi Novian dan Timur apa yang dilakukan merupakan hal yang ditunggu, hampir tiga bulan lamanya mereka berlatih dari sniper senior, Mayor Warto.

Menurut keduanya, medan di ASSAM mirip dengan tempatnya melakukan latihan. “Lokasinya mirip, seperti berada di perbukitan. Hanya angin saja dan cuaca yang berbeda,” ucap Timur.

Berbeda dengan penembak tunggal, menembak sniper membutuhkan kekompakkan, karena itu sejak tiga bulan berlatih di lapangan Tembak Cibenda dan Cilodong, keduanya rutin menjalin komunikasi demi mengakrabkan keduanya.

Novian yang menjadi penembak mempercayakan betul monitoring kepada Timur. Sementara Timur yang tak ingin mengecewakan sangat menghafal betul arah dan deras angin, serta kondisi jarak pandang. Momen ini yang kemudian menciptakan keakraban kedua kian akrab.

“Kebetulan kami di Kopassus satu tim, jadi kami memang sudah akrab. Hanya saat menjelang lomba, intensitas keakraban kami kian intensif,” ucapnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak