Etika Komunikasi Penting agar Indonesia Terhindar dari Perpecahan Jelang Pemilu 2024
Minggu, 21 Januari 2024 - 16:59 WIB
loading...
A
A
A
Effendi menilai adanya kebutuhan saling mengingatkan pada semua tokoh yang sering mendapat kesempatan berbicara di depan publik. Sebab, perpecahan bisa disebabkan oleh kalimat-kalimat kecil yang semula tidak dibayangkan, ternyata bisa berakibat fatal.
"Mulai dari humor, anekdot, hingga pengandaian-pengandaian yang tidak pas disampaikan di ruang publik. Alangkah baiknya jika semua orang bisa bersatu dan punya alarm pada diri sendiri untuk memberhentikan perkataan yang berpotensi merusak kerukunan," katanya.
Pengamat politik ini menjelaskan, etika sebenarnya adalah konsep yang berlaku secara umum dan harus terus dijunjung tinggi terlepas apa pun keadaannya.
"Mereka yang dengan gampang melakukan pencemaran nama baik, menyebar fitnah atau hoax, memang harus diajak mencoba memahami bagaimana rasanya jika diri mereka, keluarganya, atau teman dekatnya menjadi korban. Dalam banyak upaya advokasi, contoh-contoh kasus dan diskusi seperti ini sangat membantu," kata Effendi.
Bahkan dalam beberapa materi film, biasanya ditampilkan konsekuensi yang diderita oleh korban pencemaran nama baik yang berlangsung amat panjang dan sangat sulit bangkit kembali. Karena itu, harus ada kesadaran bersama tentang akibat negatif dan misery (penderitaan panjangnya) sebelum pada akhirnya dilakukan penegakan hukum yang juga harus berprinsip pada pendidikan. Sesudah itu barulah semacam efek penjeraan.
Effendi menguraikan, dalam komunikasi politik, mempraktikkan etika juga berarti menyampaikan kebenaran yang didasarkan pada fakta yang lengkap. "Apabila dalam kesempatan tertentu kita dibatasi oleh waktu, seperti pada acara debat atau talkshow, maka kita dahulukan untuk menyampaikan fakta-fakta yang lebih penting," katanya.
"Mulai dari humor, anekdot, hingga pengandaian-pengandaian yang tidak pas disampaikan di ruang publik. Alangkah baiknya jika semua orang bisa bersatu dan punya alarm pada diri sendiri untuk memberhentikan perkataan yang berpotensi merusak kerukunan," katanya.
Pengamat politik ini menjelaskan, etika sebenarnya adalah konsep yang berlaku secara umum dan harus terus dijunjung tinggi terlepas apa pun keadaannya.
"Mereka yang dengan gampang melakukan pencemaran nama baik, menyebar fitnah atau hoax, memang harus diajak mencoba memahami bagaimana rasanya jika diri mereka, keluarganya, atau teman dekatnya menjadi korban. Dalam banyak upaya advokasi, contoh-contoh kasus dan diskusi seperti ini sangat membantu," kata Effendi.
Bahkan dalam beberapa materi film, biasanya ditampilkan konsekuensi yang diderita oleh korban pencemaran nama baik yang berlangsung amat panjang dan sangat sulit bangkit kembali. Karena itu, harus ada kesadaran bersama tentang akibat negatif dan misery (penderitaan panjangnya) sebelum pada akhirnya dilakukan penegakan hukum yang juga harus berprinsip pada pendidikan. Sesudah itu barulah semacam efek penjeraan.
Effendi menguraikan, dalam komunikasi politik, mempraktikkan etika juga berarti menyampaikan kebenaran yang didasarkan pada fakta yang lengkap. "Apabila dalam kesempatan tertentu kita dibatasi oleh waktu, seperti pada acara debat atau talkshow, maka kita dahulukan untuk menyampaikan fakta-fakta yang lebih penting," katanya.
Lihat Juga :