Konsumsi Melonjak, BPOM Kawal Pengembangan Jamu dan Obat Herbal
Selasa, 11 Agustus 2020 - 13:34 WIB
loading...
A
A
A
Penny menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya dalam rangka mendukung kemudahan berusaha dan pengembangan obat tradisional. Termasuk melakukan relaksasi dan percepatan perizinan pada masa sebelum pandemi.
“Pada masa pandemi, registrasi prioritas diberikan untuk perizinan obat tradisional dan suplemen kesehatan dengan klaim memelihara daya tahan tubuh. Dari Januari hingga Juli 2020, telah diterbitkan izin edar untuk 178 obat tradisional, 3 fitofarmaka, dan 149 suplemen kesehatan lokal dengan khasiat membantu memelihara daya tahan tubuh,” terang dia.
(Baca: Tingkatkan Pengawasan, BPOM Targetkan 33 Sentra Farmakovigilans Aktif pada 2022)
Meningkatnya kebutuhan jamu ini disinyalir telah dimanfaatkan oleh beberapa oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan hoaks dan informasi menyesatkan terkait penggunaan obat herbal. Belakangan, banyak oknum yang mengklaim produk buatannya dapat menangkal bahkan menyembuhkan pasien COVID-19.
Penny menilai, informasi keliru tersebut jelas merugikan masyarakat. Karena itu, pihaknya telah menempuh berbagai langkah, antara lain dengan menindak oknum penyebar hoaks, melakukan edukasi baik daring maupun tatap muka, hingga penyebaran infografis di berbagai media sosial.
“Pada masa pandemi, registrasi prioritas diberikan untuk perizinan obat tradisional dan suplemen kesehatan dengan klaim memelihara daya tahan tubuh. Dari Januari hingga Juli 2020, telah diterbitkan izin edar untuk 178 obat tradisional, 3 fitofarmaka, dan 149 suplemen kesehatan lokal dengan khasiat membantu memelihara daya tahan tubuh,” terang dia.
(Baca: Tingkatkan Pengawasan, BPOM Targetkan 33 Sentra Farmakovigilans Aktif pada 2022)
Meningkatnya kebutuhan jamu ini disinyalir telah dimanfaatkan oleh beberapa oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan hoaks dan informasi menyesatkan terkait penggunaan obat herbal. Belakangan, banyak oknum yang mengklaim produk buatannya dapat menangkal bahkan menyembuhkan pasien COVID-19.
Penny menilai, informasi keliru tersebut jelas merugikan masyarakat. Karena itu, pihaknya telah menempuh berbagai langkah, antara lain dengan menindak oknum penyebar hoaks, melakukan edukasi baik daring maupun tatap muka, hingga penyebaran infografis di berbagai media sosial.
(muh)
Lihat Juga :