Kemenangan PDI Pro Mega: Militansi Akar Rumput Adalah Kunci
Jum'at, 12 Januari 2024 - 15:44 WIB
loading...
A
A
A
Sebuah pola pengorganisasian yang eksentrik ditengah kebijakan politik floating mass Orde Baru yang mencoba mengamputasi kesadaran politik rakyat bawah. Posko Gotong Royong muncul layaknya oase bagi pendidikan politik rakyat yang nyata dan konkret.
Menariknya, Posko Gotong Royong tak hanya melahirkan pendanaan partai yang bersifat swadana dan swakelola. Melainkan juga melahirkan pengamanan swakarsa. Kelahiran Satgas tak bisa dilepaskan dari eksistensi Posko Gotong Royong dimana Posko Gotong Royong menjadi basis rekrutmen anggota satgas. Hingga semua perlengkapan satgas dari seragam, sepatu sampai baret dibiayai secara swadana oleh Posko Gotong Royong.
Posko pun akhirnya bukan hanya menjadi ruang pertemuan vertikal antara pengurus partai di tingkat atas dengan pengurus tingkat bawah namun telah berkembang menjadi ruang pertemuan horizontal antara mereka pengurus dan kader partai dengan masyarakat luas. Bahkan tak jarang posko menjadi ruang aktivitas sosial masyarakat umum. Posko menjadi ruang milik rakyat.
Orde Baru pun tumbang dan PDI Perjuangan pada pemilu 1999 berhasil menjadi pemenang pemilu dengan meraih suara 33,74%, perolehan tertinggi dalam sejarah pemilu partai banteng. Dan kemenangan ini bukan diraih karena pulung penguasa, bukan karena tingginya approval rating penguasa. Melainkan karena militansi akar rumput yang menyatu dengan partai. Terbukti, dari laporan keuangan partai politik KPU 1999, sumber utama dana kampanye PDI Perjuangan dalam pemilu 1999 berasal dari dana grassroots yang mencapai 81,10% dari total penerimaan partai.
Maka wajar jika pada HUT PDI Perjuangan yang ke-51, Megawati Soekarnoputri mengungkapkan ketika PDIP berhadapan dengan rezim otoriter yang tidak segan menggunakan segala cara maka rakyatlah penopang kita. Megawati menyebutnya dengan istilahakar rumput. Rumput menjadi simbol dari kehidupan yang tidak pernah menyerah. Ia menyebut rumput dapat tetap tumbuh dalam kondisi apapun.
"Rumput tidak pernah menyerah. Serta dapat tumbuh di manapun, ia mampu tumbuh di gunung tanah gersang , tanah subur dan juga di laut,” ujar Megawati
Di tengah demokrasi kita di ambang krisis layaknya era Orde Baru dan politisasi Bansos-BLT yang bisa meracuni kesadaran akar rumput, pidato Megawati tak bisa dipahami semata-mata sebagai romatisme historis, namun sebuah upaya reactivating the past. Utamanya upaya membangkitkan kembali “akar rumput” yang bukan hanya menopang partai banteng ini melainkan berdasarkan literasi historis telah menjadi identitas eksistensial partai ahli waris Marhaenis ini.
Menariknya, Posko Gotong Royong tak hanya melahirkan pendanaan partai yang bersifat swadana dan swakelola. Melainkan juga melahirkan pengamanan swakarsa. Kelahiran Satgas tak bisa dilepaskan dari eksistensi Posko Gotong Royong dimana Posko Gotong Royong menjadi basis rekrutmen anggota satgas. Hingga semua perlengkapan satgas dari seragam, sepatu sampai baret dibiayai secara swadana oleh Posko Gotong Royong.
Posko pun akhirnya bukan hanya menjadi ruang pertemuan vertikal antara pengurus partai di tingkat atas dengan pengurus tingkat bawah namun telah berkembang menjadi ruang pertemuan horizontal antara mereka pengurus dan kader partai dengan masyarakat luas. Bahkan tak jarang posko menjadi ruang aktivitas sosial masyarakat umum. Posko menjadi ruang milik rakyat.
Orde Baru pun tumbang dan PDI Perjuangan pada pemilu 1999 berhasil menjadi pemenang pemilu dengan meraih suara 33,74%, perolehan tertinggi dalam sejarah pemilu partai banteng. Dan kemenangan ini bukan diraih karena pulung penguasa, bukan karena tingginya approval rating penguasa. Melainkan karena militansi akar rumput yang menyatu dengan partai. Terbukti, dari laporan keuangan partai politik KPU 1999, sumber utama dana kampanye PDI Perjuangan dalam pemilu 1999 berasal dari dana grassroots yang mencapai 81,10% dari total penerimaan partai.
Maka wajar jika pada HUT PDI Perjuangan yang ke-51, Megawati Soekarnoputri mengungkapkan ketika PDIP berhadapan dengan rezim otoriter yang tidak segan menggunakan segala cara maka rakyatlah penopang kita. Megawati menyebutnya dengan istilahakar rumput. Rumput menjadi simbol dari kehidupan yang tidak pernah menyerah. Ia menyebut rumput dapat tetap tumbuh dalam kondisi apapun.
"Rumput tidak pernah menyerah. Serta dapat tumbuh di manapun, ia mampu tumbuh di gunung tanah gersang , tanah subur dan juga di laut,” ujar Megawati
Di tengah demokrasi kita di ambang krisis layaknya era Orde Baru dan politisasi Bansos-BLT yang bisa meracuni kesadaran akar rumput, pidato Megawati tak bisa dipahami semata-mata sebagai romatisme historis, namun sebuah upaya reactivating the past. Utamanya upaya membangkitkan kembali “akar rumput” yang bukan hanya menopang partai banteng ini melainkan berdasarkan literasi historis telah menjadi identitas eksistensial partai ahli waris Marhaenis ini.
(poe)
Lihat Juga :