Gibran dan Panggung Politik Milenial
Senin, 10 Agustus 2020 - 09:23 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, karakter connected dicirikan dengan perilaku milenial yang selalu terhubung dengan perangkat teknologi informasi (gadget) sebagai sumber literasi dalam semua dimensi kehidupan.
Di ranah politik, yang cukup menarik adalah karakter detailed kelompok milenial. Karakter ini merefleksikan kecenderungan milenial urban yang menaruh perhatian ekstra, bukan pada narasi-narasi besar yang substantif, tapi pada narasi-narasi kecil seperti gaya rambut politisi, merek sepatu, jam tangan dan pakaian politisi, atau bahkan sisi-sisi privat seperti kehidupan keluarga politisi. Karakter milenial urban yang menaruh perhatian lebih pada narasi-narasi kecil tentu membutuhkan kepiawaian politik pemimpin milenial untuk mengelolanya.
“Kepo” tingkat tinggi dan ekspresi politik generasi milenial seringkali dimanifestasikan pada kecepatannya dalam merespons fenomena-fenomena politik. Meskipun hanya sekadar memencet tombol like, membagikan konten berita politik, atau komentar-komentar singkat melalui perangkat socmed, kelompok milenial menunjukkan awareness-nya terhadap isu-isu politik.
Pada titik inilah, perangkat tools harus dioptimalkan oleh (calon) pemimpin milenial untuk mengakselerasikan transformational leadership-nya dalam menyerap dan menghimpun aspirasi milenial. Digital habit yang terbentuk pada lingkungan milenial memberi efek positif bagi percepatan sosialisasi program-program pemimpin milenial.
Pilihan Gibran pada narasi besar “Melompat Lebih Maju” sangatlah tepat. Namun, narasi politik tersebut perlu ditopang dengan ekosistem politik yang sehat.
“Kita sudah tidak bicara lagi soal perubahan, kita bicara masalah lompatan, kita bicara percepatan, melompat agar lebih sejahtera lagi masyarakatnya” akan dicatat sejarah sebagai komitmen tulus anak milenial. Semoga narasinya tersebut bukan sekadar basa-basi dan janji manis politisi.
Di tangan kreatif milenial, Solo harus melesat melampaui zaman-nya dan menjadi trigger kota modern sebagai penyokong utama peradaban milenial.
Di ranah politik, yang cukup menarik adalah karakter detailed kelompok milenial. Karakter ini merefleksikan kecenderungan milenial urban yang menaruh perhatian ekstra, bukan pada narasi-narasi besar yang substantif, tapi pada narasi-narasi kecil seperti gaya rambut politisi, merek sepatu, jam tangan dan pakaian politisi, atau bahkan sisi-sisi privat seperti kehidupan keluarga politisi. Karakter milenial urban yang menaruh perhatian lebih pada narasi-narasi kecil tentu membutuhkan kepiawaian politik pemimpin milenial untuk mengelolanya.
“Kepo” tingkat tinggi dan ekspresi politik generasi milenial seringkali dimanifestasikan pada kecepatannya dalam merespons fenomena-fenomena politik. Meskipun hanya sekadar memencet tombol like, membagikan konten berita politik, atau komentar-komentar singkat melalui perangkat socmed, kelompok milenial menunjukkan awareness-nya terhadap isu-isu politik.
Pada titik inilah, perangkat tools harus dioptimalkan oleh (calon) pemimpin milenial untuk mengakselerasikan transformational leadership-nya dalam menyerap dan menghimpun aspirasi milenial. Digital habit yang terbentuk pada lingkungan milenial memberi efek positif bagi percepatan sosialisasi program-program pemimpin milenial.
Pilihan Gibran pada narasi besar “Melompat Lebih Maju” sangatlah tepat. Namun, narasi politik tersebut perlu ditopang dengan ekosistem politik yang sehat.
“Kita sudah tidak bicara lagi soal perubahan, kita bicara masalah lompatan, kita bicara percepatan, melompat agar lebih sejahtera lagi masyarakatnya” akan dicatat sejarah sebagai komitmen tulus anak milenial. Semoga narasinya tersebut bukan sekadar basa-basi dan janji manis politisi.
Di tangan kreatif milenial, Solo harus melesat melampaui zaman-nya dan menjadi trigger kota modern sebagai penyokong utama peradaban milenial.
(dam)
Lihat Juga :