Gibran dan Panggung Politik Milenial
Senin, 10 Agustus 2020 - 09:23 WIB
loading...
Direktur Eksekutif Citra Institute; Peneliti Pusat Reformasi Pemilu (CETRO) 2007-2009, Yusa’ Farchan. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Yusa’ Farchan
Direktur Eksekutif Citra Institute; Peneliti Pusat Reformasi Pemilu (CETRO) 2007-2009
GELANGGANG pilkada semakin memacu adrenalin politik Gibran Rakabuming Raka (putra sulung Presiden Jokowi) untuk berlari kencang. Aktivitas dan jam terbang politik yang pendek, tak membuatnya ciut dalam arena sirkulasi kepemimpinan elite politik lokal. Tudingan miring politik dinasti, yang menembus langsung jantung kekuasaan negara, justru membuatnya semakin enerjikdalam merespons sekaligus mengelola harapan publik.
Di tahap candidacy, pebisnis kuliner ini melenggang mulus mematahkan ekspektasi dan karier politik rival internalnya, Achmad Purnomo dalam bursa persaingan kandidat di internal partai.
Sejak mengantongi rekomendasi PDIP sebagai bakal calon (balon) wali kota Solo, nalar politiknya terus tumbuh, menggelayut di antara optimisme menang dan kecanggungan politik dalam habitat baru yang dilakoninya.
Gaya komunikasi politiknya mulai terbentuk. Meski berusaha keluar dari bayang-bayang Sang Presiden, legacy politik orang tua tampak masih kental dalam gaya blusukan-nya di sudut-sudut Kota Solo. Meskipun tumbuh dalam lingkungan politik dan mendapat sentuhan political mentorship sang ayah, gaya komunikasi politiknya pada beberapa titik masih terlihat kaku.
Kecenderungan tersebut setidaknya terekam dalam ekspresi dan penggunaan diksi “siapa pun musuhnya saya siap tempur” dalam menjawab pertanyaan awak media beberapa hari lalu. Pilihan diksi tersebut setidaknya memberi kesan vulgarism dan negative affect atas iklim pertarungan politik.
Pilkada sebagai ciri penting demokrasi prosedural, harus merefleksikan politik penuh kebahagiaan. Ketegangan-ketegangan yang dihadirkan dalam panggung demokrasi hanya akan merobek keberagaman politik sebagai fakta sosial yang sulit dihindari.
Beban psikologi yang berat sebagai anak Presiden, membuat insting politiknya diuji, bagaimana menang mutlak dengan cara-cara cerdas dan kreatif. Akses melimpah terhadap resources politik dan ekonomi menjadikan menang secara kuantitatif dengan selisih angka-angka statistik yang lebar, tidaklah cukup dalam kacamata demokrasi substansial. Gibran harus merengkuh kemenangan secara kualitatif untuk mengembalikan bandul demokrasi lokal yang terus berayun secara ekstrim ke arah demokrasi liberal-kapitalistik.
Direktur Eksekutif Citra Institute; Peneliti Pusat Reformasi Pemilu (CETRO) 2007-2009
GELANGGANG pilkada semakin memacu adrenalin politik Gibran Rakabuming Raka (putra sulung Presiden Jokowi) untuk berlari kencang. Aktivitas dan jam terbang politik yang pendek, tak membuatnya ciut dalam arena sirkulasi kepemimpinan elite politik lokal. Tudingan miring politik dinasti, yang menembus langsung jantung kekuasaan negara, justru membuatnya semakin enerjikdalam merespons sekaligus mengelola harapan publik.
Di tahap candidacy, pebisnis kuliner ini melenggang mulus mematahkan ekspektasi dan karier politik rival internalnya, Achmad Purnomo dalam bursa persaingan kandidat di internal partai.
Sejak mengantongi rekomendasi PDIP sebagai bakal calon (balon) wali kota Solo, nalar politiknya terus tumbuh, menggelayut di antara optimisme menang dan kecanggungan politik dalam habitat baru yang dilakoninya.
Gaya komunikasi politiknya mulai terbentuk. Meski berusaha keluar dari bayang-bayang Sang Presiden, legacy politik orang tua tampak masih kental dalam gaya blusukan-nya di sudut-sudut Kota Solo. Meskipun tumbuh dalam lingkungan politik dan mendapat sentuhan political mentorship sang ayah, gaya komunikasi politiknya pada beberapa titik masih terlihat kaku.
Kecenderungan tersebut setidaknya terekam dalam ekspresi dan penggunaan diksi “siapa pun musuhnya saya siap tempur” dalam menjawab pertanyaan awak media beberapa hari lalu. Pilihan diksi tersebut setidaknya memberi kesan vulgarism dan negative affect atas iklim pertarungan politik.
Pilkada sebagai ciri penting demokrasi prosedural, harus merefleksikan politik penuh kebahagiaan. Ketegangan-ketegangan yang dihadirkan dalam panggung demokrasi hanya akan merobek keberagaman politik sebagai fakta sosial yang sulit dihindari.
Beban psikologi yang berat sebagai anak Presiden, membuat insting politiknya diuji, bagaimana menang mutlak dengan cara-cara cerdas dan kreatif. Akses melimpah terhadap resources politik dan ekonomi menjadikan menang secara kuantitatif dengan selisih angka-angka statistik yang lebar, tidaklah cukup dalam kacamata demokrasi substansial. Gibran harus merengkuh kemenangan secara kualitatif untuk mengembalikan bandul demokrasi lokal yang terus berayun secara ekstrim ke arah demokrasi liberal-kapitalistik.
Lihat Juga :