Disiplinkan Prajurit Lewat Salat dan Pengajian, Jenderal Bintang 3 Ini Jawab Prabowo soal Tuduhan Islamisasi
Senin, 04 Desember 2023 - 06:11 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian, kedua, Agus Rohman juga merasa bahwa ia perlu mengubah kebijakan yang diberlakukan satuan, yaitu batas minimal usia menikah bagi Prajurit Remaja Yonif Linud 328 dari 27 tahun menjadi 25 tahun. Ketiga, Agus Rohman juga berkeinginan untuk memaksimalkan fasilitas yang ada, salah satunya masjid. Ia melihat masjid di batalyon belum ramai dan minim aktivitas.
Ternyata, sebagian orang menganggap bahwa aturan membaca surah Yasin pada Kamis malam adalah upaya Islamisasi di tubuh Batalyon Infanteri L 328. Itu adalah tuduhan yang serius bagi Agus Rohman.
Agus Rohman pun dipanggil oleh Pangkostrad Letjen TNI Prabowo Subianto untuk memberi keterangan perihal perubahan-perubahan yang terjadi di Batalyon 328.
"Mengapa kamu mengubah tradisi Batalyon 328?" tanya Pangkostrad Prabowo Subianto dikutip dari buku biografinya berjudul "Panglima dari Bandung Selatan, 88 Praktik Kepemimpinan Ala Mayjen TNI H Agus Rohman, S.I.P., M.I.P", Senin (4/12/2023).
Baca juga: Cerita Jenderal Bintang 3 Ditugasi Bawa Uang ke Timor Timur, Siapkan Pistol di Jaket Waswas Kepergok Separatis
"Apel malam itu dulu tidak ada. Kenapa sekarang ada?" lanjutnya.
"Siap! Untuk aturan apel malam, apel malam dilakukan untuk mendisiplinkan prajurit," tegas Agus Rohman.
Ia menjelaskan bahwa banyak prajurit yang kurang disiplin selepas Prabowo Subianto tidak lagi menjabat sebagai Komandan Batalyon.
Prabowo pun mengangguk. Ia dapat menerima argumentasi yang dikemukakan oleh Agus Rohman.
"Lalu, kenapa kamu mengubah aturan menikah?" tanya Prabowo lagi.
"Siap! Saya sudah menghitung. Jadi, jika prajurit yang berpangkat tamtama atau bintara menikah pada umur 28 atau 29 tahun, dan jika ia langsung diberi keturunan, pada saat prajurit itu pensiun, ia masih memiliki tanggungan. Anaknya masih membutuhkan biaya untuk kuliah, sedangkan pada saat itu, kepala keluarga atau prajurit sudah pensiun. Jika itu terjadi, ini akan menjadi beban bagi prajurit itu sendiri," jelas Agus Rohman.
Pada saat itu, bintara dan tamtama pensiun pada usia 48 tahun sehingga apabila prajurit itu menikah pada usia 27 tahun dan baru bisa mendapatkan keturunan pada usia 28 tahun, anak pertama parajurit itu baru berusia 20 tahun. Jika anak itu menempuh kuliah, tentu belum selesai. Pada masa itu, tentu sang anak membutuhkan biaya sementara penghasilan orang tuanya menurun.
Lagi-lagi, Letjen TNI Prabowo Subianto mengangguk. Ia dapat menerima argumentasi yang dikemukakan oleh Mayor Inf Agus Rohman.
Ternyata, sebagian orang menganggap bahwa aturan membaca surah Yasin pada Kamis malam adalah upaya Islamisasi di tubuh Batalyon Infanteri L 328. Itu adalah tuduhan yang serius bagi Agus Rohman.
Agus Rohman pun dipanggil oleh Pangkostrad Letjen TNI Prabowo Subianto untuk memberi keterangan perihal perubahan-perubahan yang terjadi di Batalyon 328.
"Mengapa kamu mengubah tradisi Batalyon 328?" tanya Pangkostrad Prabowo Subianto dikutip dari buku biografinya berjudul "Panglima dari Bandung Selatan, 88 Praktik Kepemimpinan Ala Mayjen TNI H Agus Rohman, S.I.P., M.I.P", Senin (4/12/2023).
Baca juga: Cerita Jenderal Bintang 3 Ditugasi Bawa Uang ke Timor Timur, Siapkan Pistol di Jaket Waswas Kepergok Separatis
"Apel malam itu dulu tidak ada. Kenapa sekarang ada?" lanjutnya.
"Siap! Untuk aturan apel malam, apel malam dilakukan untuk mendisiplinkan prajurit," tegas Agus Rohman.
Ia menjelaskan bahwa banyak prajurit yang kurang disiplin selepas Prabowo Subianto tidak lagi menjabat sebagai Komandan Batalyon.
Prabowo pun mengangguk. Ia dapat menerima argumentasi yang dikemukakan oleh Agus Rohman.
"Lalu, kenapa kamu mengubah aturan menikah?" tanya Prabowo lagi.
"Siap! Saya sudah menghitung. Jadi, jika prajurit yang berpangkat tamtama atau bintara menikah pada umur 28 atau 29 tahun, dan jika ia langsung diberi keturunan, pada saat prajurit itu pensiun, ia masih memiliki tanggungan. Anaknya masih membutuhkan biaya untuk kuliah, sedangkan pada saat itu, kepala keluarga atau prajurit sudah pensiun. Jika itu terjadi, ini akan menjadi beban bagi prajurit itu sendiri," jelas Agus Rohman.
Pada saat itu, bintara dan tamtama pensiun pada usia 48 tahun sehingga apabila prajurit itu menikah pada usia 27 tahun dan baru bisa mendapatkan keturunan pada usia 28 tahun, anak pertama parajurit itu baru berusia 20 tahun. Jika anak itu menempuh kuliah, tentu belum selesai. Pada masa itu, tentu sang anak membutuhkan biaya sementara penghasilan orang tuanya menurun.
Lagi-lagi, Letjen TNI Prabowo Subianto mengangguk. Ia dapat menerima argumentasi yang dikemukakan oleh Mayor Inf Agus Rohman.
Lihat Juga :