Antologi Kedua Pemikiran Sudirman Said, Bergerak dengan Kewajaran
Jum'at, 01 Desember 2023 - 01:14 WIB
loading...
A
A
A
Bab Kedua berjudul Kepemimpinan yang Berkewajaran? berisi pandangan Sudirman Said mengenai peran pemimpin dalam mengangkat harkat bangsa, serta kerinduannya akan pemimpin yang mampu memicu semangat juang dan etos kerja masyarakat, meluruskan hal-hal yang melampaui batas kepatutan serta memberi arah pembangunan masa depan negeri.
"Demokrasi yang Menyehat?’ menjadi judul bab ketiga, berisi padangan dan harapan penulis mengenai demokrasi yang seharusnya. Demokrasi yang sehat dimana rakyat menjadi subyek dan tujuan utama. Bab “Integritas yang Mengokoh” menegaskan bahwa bangsa ini terbangun dari integritas pribadi-pribadi masyarakatnya.
![Antologi Kedua Pemikiran Sudirman Said, Bergerak dengan Kewajaran]()
Menurutnya, pribadi-pribadi yang keropos tak akan sanggup membangun bangsa. Sudirman melihat perlunya anak-anak muda diberi kesempatan berlatih di medan sulit untuk mempertangguh diri mereka. Pada bab lima, Sudirman bicara tentang solidaritas.
"Kasus pandemi Covid-19 menjadi contoh bagaimana tidak hanya ilmu pengetahuan yang dibutuhkan, namun perlunya solidaritas dan gotong royong untuk dapat keluar dalam situasi sulit," ujarnya.
Bab enam terdiri dari sembilan tulisan yang dirangkum dengan judul “Bermanusia yang Memuliakan?”. Di dalam bab ini, Sudirman berceritera mengenai perjumpaannya dengan berbagai kelompok masyarakat dan relawan yang seringkali terlupakan.
Cerita mengenai perjumpaannya dengan petani dan nelayan asmat Papua di Aceh, petani bawang di Brebes, Jawa Tengah, hingga para relawan yang bekerja di medan sulit. Perjumpaan degan tokoh-tokoh ‘biasa’ ini menyadarkannya kita perlu merawat kebhinekaan.
"Demokrasi yang Menyehat?’ menjadi judul bab ketiga, berisi padangan dan harapan penulis mengenai demokrasi yang seharusnya. Demokrasi yang sehat dimana rakyat menjadi subyek dan tujuan utama. Bab “Integritas yang Mengokoh” menegaskan bahwa bangsa ini terbangun dari integritas pribadi-pribadi masyarakatnya.

Menurutnya, pribadi-pribadi yang keropos tak akan sanggup membangun bangsa. Sudirman melihat perlunya anak-anak muda diberi kesempatan berlatih di medan sulit untuk mempertangguh diri mereka. Pada bab lima, Sudirman bicara tentang solidaritas.
"Kasus pandemi Covid-19 menjadi contoh bagaimana tidak hanya ilmu pengetahuan yang dibutuhkan, namun perlunya solidaritas dan gotong royong untuk dapat keluar dalam situasi sulit," ujarnya.
Bab enam terdiri dari sembilan tulisan yang dirangkum dengan judul “Bermanusia yang Memuliakan?”. Di dalam bab ini, Sudirman berceritera mengenai perjumpaannya dengan berbagai kelompok masyarakat dan relawan yang seringkali terlupakan.
Cerita mengenai perjumpaannya dengan petani dan nelayan asmat Papua di Aceh, petani bawang di Brebes, Jawa Tengah, hingga para relawan yang bekerja di medan sulit. Perjumpaan degan tokoh-tokoh ‘biasa’ ini menyadarkannya kita perlu merawat kebhinekaan.
Lihat Juga :