alexametrics

2.700 Lembar Upal Pecahan Baru Rp100.000 Gagal Diedarkan

loading...
2.700 Lembar Upal Pecahan Baru Rp100.000 Gagal Diedarkan
Direktur Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya memaerkan barang bukti upal pecahan Rp100.000 dari sindikat pembuat uang palsu (upal) pecahan Rp100.000 baru keluaran tahun 2016. Foto/SINDOnews/M Yamin
A+ A-
JAKARTA - Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipieksus) Bareskrim Polri membongkar sindikat pembuat uang palsu (upal) pecahan Rp100.000 baru keluaran tahun 2016. Tak tanggung-tanggung, selain meringkus pengedarnya, polisi juga menangkap pembuat dan pemilik modal upal tersebut.

Dari tangan mereka disita 2.700 lembar upal pecahan Rp100.000, tiga unit mobil, dua dus upal yang belum dipotong, mesin pencetak yang dan sebagainya. "Lima tersangka berhasil kami amankan. Mereka adalah AY, AS, CM, TT, dan BH," ujar Direktur Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya di Jakarta, Kamis (7/12/2017).



Menurut Agung, dalam aksinya para pelaku mempunyai peran yang berbeda. ‎AY dan AS bertugas menjual upal. Keduanya ditangkap saat mau menjual upal tersebut kepada polisi‎ di halaman RS Mandaya Karawang dengan barang bukti 500 lembar pecahan Rp100.000. ‎

Sementara TT dan BH berperan membuat atau mencetak upal ditangkap di wilayah Subang. "Dari hasil pemeriksaan tersangka mengaku pemilik modal upal tersebut adalah CM," terangnya.

Agung menjelaskan dari kelima tersangka polisi berhasil menyita uang sebanyak 2.700 lembar pecahan Rp100.000. Mereka menjual upal tersebut dengan perbandingan 1:2,5. Artinya, satu lembar Rp100.000 asli ditukar dengan Rp250.000 upal. "Tersangka mengaku upal tersebut belum sempat diedarkan ke masyarakat," ungkapnya.

Jenderal bintang satu ini belum bisa memastikan apakah upal tersebut disiapkan untuk Natal dan Tahun Baru termasuk pesta politik tahun 2018. Tapi yang jelas kata dia, pelaku nekat membuat upal karena kebutuhan ekonomi. "Motifnya untuk sementara masalah ekonomi," tandasnya.

Selain memalsukan upal, para pelaku juga memalsukan dokumen lainnya seperti BPKB, STNK, surat nikah, Kartu Keluarga (KK), KTP, materai dan surat berharga lainnya. Polisi, kata Agung, masih menyelidiki lebih dalam kaitan dokumen palsu itu dengan upal. "Para tersangka ini umumnya residivis dalam kasus pemalsuan upal dan dokumen," tutupnya.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak