Kepala BKKBN Minta Kualitas SDM Diperhatikan untuk Cegah Stunting
Rabu, 22 November 2023 - 18:50 WIB
loading...
A
A
A
Jadi, kata dia, pertama adalah revolusi kebijakan yang dikonvergensikan untuk nutrisi, gizi pada SDM. “Sama dikonvergensikan untuk biaya sekolah," ujar Hasto.
Dirinya menyampaikan, bahwa Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) itu di dalamnya kuantitas penduduk. "Nah sekarang ini kualitas itu menjadi penting saya yakin,” katanya.
Dia mengungkapkan ada lima pilar GDPK yakni pengendalian kuantitas penduduk, peningkatan kualitas penduduk, penataan persebaran dan pengarahan, mobilitas penduduk, pembangunan keluarga berkualitas, penataan data dan informasi kependudukan, serta administrasi kependudukan.
“Sehingga tidak hanya kuantitas saja, tapi kualitas. Jadi model pengentasan stunting di Indonesia, dengan mengejar-mengejar anak stunting itu, hanya di kita ini, Posyandu itu tidak ada di Amerika dan Singapura. Tapi kok sukses stuntingnya? Nah karena dia sudah di hulunya diatasi, itu loh, semua ibu hamil dapat paket, semua balita dapat, bayi dapat paket, dapat susu, dapat itu, tidak perlu posyandu, sudah semua sudah bagus,” imbuhnya.
“Kita ini harus ada Posyandu, kenapa? kalau tidak ditimbangkan, diukurin, wah bahaya, kita tidak tahu ini, karena ternyata banyak sekali stuntingnya, banyak sekali yang tidak naik berat badannya," tambahnya.
Kemudian, dia menyampaikan apresiasinya TFR Provinsi Kalimantan Timur telah mencapai 2,18 walaupun belum rata di semua kabupaten/kota. "TFR-nya tinggi enggak apa-apa, tetapi jaraknya, jarak kelahiran harus diatur. Jadi begini, saya sudah sering berkali-kali cerita, kalau tadi Kalimantan Timur ingin meningkatkan kualitas SDM, sebetulnya fokusnya memang 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), karena otak manusia betul-betul diciptakan di 1.000 HPK,” jelasnya.
Dirinya menyampaikan, bahwa Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) itu di dalamnya kuantitas penduduk. "Nah sekarang ini kualitas itu menjadi penting saya yakin,” katanya.
Dia mengungkapkan ada lima pilar GDPK yakni pengendalian kuantitas penduduk, peningkatan kualitas penduduk, penataan persebaran dan pengarahan, mobilitas penduduk, pembangunan keluarga berkualitas, penataan data dan informasi kependudukan, serta administrasi kependudukan.
“Sehingga tidak hanya kuantitas saja, tapi kualitas. Jadi model pengentasan stunting di Indonesia, dengan mengejar-mengejar anak stunting itu, hanya di kita ini, Posyandu itu tidak ada di Amerika dan Singapura. Tapi kok sukses stuntingnya? Nah karena dia sudah di hulunya diatasi, itu loh, semua ibu hamil dapat paket, semua balita dapat, bayi dapat paket, dapat susu, dapat itu, tidak perlu posyandu, sudah semua sudah bagus,” imbuhnya.
“Kita ini harus ada Posyandu, kenapa? kalau tidak ditimbangkan, diukurin, wah bahaya, kita tidak tahu ini, karena ternyata banyak sekali stuntingnya, banyak sekali yang tidak naik berat badannya," tambahnya.
Kemudian, dia menyampaikan apresiasinya TFR Provinsi Kalimantan Timur telah mencapai 2,18 walaupun belum rata di semua kabupaten/kota. "TFR-nya tinggi enggak apa-apa, tetapi jaraknya, jarak kelahiran harus diatur. Jadi begini, saya sudah sering berkali-kali cerita, kalau tadi Kalimantan Timur ingin meningkatkan kualitas SDM, sebetulnya fokusnya memang 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), karena otak manusia betul-betul diciptakan di 1.000 HPK,” jelasnya.
Lihat Juga :