Fenomena Melodrama Politik di Indonesia
Selasa, 07 November 2023 - 10:17 WIB
loading...
A
A
A
Pertama, melodrama menggambarkan konflik moral antara kebaikan dan kejahatan, layaknya sebuah film atau sinetron yang happy ending-nya adalah kemenangan kebenaran atas kejahatan. Kedua, plot cerita yang bergerak menuju klimaks dan berujung pada resolusi.
Ketiga, karakter yang didiskomposisi ke dalam kelompok kecil, mana yang baik atau jahat. Lalu diikuti dengan menjaga jarak dengan kelompok yang berbeda keyakinan tersebut. Kelima, penggunaan bahasa yang emosional, meletup-letup dan penuh perumpamaan. Narasi yang dibangun adalah visualisasi "terzalimi" dan tentunya dengan bangunan kesan dramatis.
Burke berpendapat bahwa melodrama menjadi alat yang efektif untuk memobilisasi publik, bahkan juga dapat digunakan untuk memanipulasi dan mengadu domba publik. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana melodrama digunakan dalam politik dan untuk kritis terhadap narasi melodrama yang disajikan oleh politisi.
baca juga: Independensi ASN dalam Pilpres
Berhati-hati dalam pengambilan keputusan politik serta jeli dengan kondisi yang melingkupinya adalah sikap yang menunjukkan kedewasaan seorang politisi. Sebaliknya, kecerobohan dalam tindakan politik, akan menjadi ajang "bunuh diri" yang menghancurkan kinerja dengan setumpuk prestasinya. Sikap ini menjadi antitesis dari perilaku melo yang dilontarkan.
Dalam politik, penggunaan retorika melodrama untuk menggambarkan perang melawan kejahatan seperti terorisme atau radikalisme. Politisi juga sering menggunakan retorika melodrama untuk menggambarkan konflik politik internal. Lawan-lawan politik digambarkan sebagai penjahat yang akan mengancam kebebasan dan demokrasi.
Melodrama dalam kampanye politik diekspresikan bahwa kandidatnya digambarkan sebagai tokoh bak pahlawan yang berjuang untuk kepentingan rakyat. Di sisi lain, lawan-lawan politiknya digambarkan sebagai penjahat yang korup atau tidak kompeten. Tentunya teori ini dapat dipergunakan untuk membaca perkembangan politik Indonesia mutakhir, siapa yang berupaya menggiring opini "terzalimi" dan opini yang "menzalimi".
Manfaatkan Pendidikan Rasa
Ketiga, karakter yang didiskomposisi ke dalam kelompok kecil, mana yang baik atau jahat. Lalu diikuti dengan menjaga jarak dengan kelompok yang berbeda keyakinan tersebut. Kelima, penggunaan bahasa yang emosional, meletup-letup dan penuh perumpamaan. Narasi yang dibangun adalah visualisasi "terzalimi" dan tentunya dengan bangunan kesan dramatis.
Burke berpendapat bahwa melodrama menjadi alat yang efektif untuk memobilisasi publik, bahkan juga dapat digunakan untuk memanipulasi dan mengadu domba publik. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana melodrama digunakan dalam politik dan untuk kritis terhadap narasi melodrama yang disajikan oleh politisi.
baca juga: Independensi ASN dalam Pilpres
Berhati-hati dalam pengambilan keputusan politik serta jeli dengan kondisi yang melingkupinya adalah sikap yang menunjukkan kedewasaan seorang politisi. Sebaliknya, kecerobohan dalam tindakan politik, akan menjadi ajang "bunuh diri" yang menghancurkan kinerja dengan setumpuk prestasinya. Sikap ini menjadi antitesis dari perilaku melo yang dilontarkan.
Dalam politik, penggunaan retorika melodrama untuk menggambarkan perang melawan kejahatan seperti terorisme atau radikalisme. Politisi juga sering menggunakan retorika melodrama untuk menggambarkan konflik politik internal. Lawan-lawan politik digambarkan sebagai penjahat yang akan mengancam kebebasan dan demokrasi.
Melodrama dalam kampanye politik diekspresikan bahwa kandidatnya digambarkan sebagai tokoh bak pahlawan yang berjuang untuk kepentingan rakyat. Di sisi lain, lawan-lawan politiknya digambarkan sebagai penjahat yang korup atau tidak kompeten. Tentunya teori ini dapat dipergunakan untuk membaca perkembangan politik Indonesia mutakhir, siapa yang berupaya menggiring opini "terzalimi" dan opini yang "menzalimi".
Manfaatkan Pendidikan Rasa
Lihat Juga :