Anak Muda Perlu Disiapkan untuk Perangi Berita Bohong dan Intoleransi
Kamis, 02 November 2023 - 14:07 WIB
loading...
Remaja harus memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking) agar tidak mudah dipengaruhi sebaran konten negatif seperti berita bohong dan intoleransi. FOTO/DOK.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Era disrupsi informasi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Remaja harus memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking) agar tidak mudah dipengaruhi sebaran konten negatif seperti berita bohong dan intoleransi yang dapat merusak tatanan kebangsaan Indonesia.
Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria menjelaskan, untuk menyikapi era disrupsi informasi, generasi muda Indonesia harus disiapkan agar mampu hidup di dalamnya. Jangan pula diasumsikan mereka harus menghindari konten-konten negatif, karena dengan begitu mereka menjadi tidak dewasa dalam melakukan filtrasi informasi.
"Setelah anak-anak muda ini kita persiapkan, lalu kita ajak mereka untuk meng-counter isu-isu negatif yang bisa mereka temukan. Ini harus dilakukan melalui banyak platform, bukan hanya di media sosial, tapi juga dengan tatap muka secara langsung, seperti di rumah ibadah dan sekolah," kata Hariqo, Rabu (1/11/2023).
Baca juga: Kominfo Ancam Tindak Akun Medsos Penyebar Hoaks Isu Boikot
Pakar komunikasi dan media sosial ini menambahkan, tidak mungkin pemuda yang radikal ataupun penyebar berita bohong karena faktor tunggal. Kalau ada siswa yang menyebar berita bohong, bukan hanya siswanya yang salah, tapi apa peranan wali kelas dan kepala sekolahnya, sehingga siswa ini bisa menyebarkan berita bohong. Semuanya harus diusut tuntas.
"Ibarat orang sakit di umur 25 tahun, harus dicek latar belakangnya kan? Waktu balitanya dia bagaimana gizinya, waktu kecil dia makan apa, kok tiba-tiba dia umur 25 tahun sudah rusak ginjalnya?" ujarnya.
Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria menjelaskan, untuk menyikapi era disrupsi informasi, generasi muda Indonesia harus disiapkan agar mampu hidup di dalamnya. Jangan pula diasumsikan mereka harus menghindari konten-konten negatif, karena dengan begitu mereka menjadi tidak dewasa dalam melakukan filtrasi informasi.
"Setelah anak-anak muda ini kita persiapkan, lalu kita ajak mereka untuk meng-counter isu-isu negatif yang bisa mereka temukan. Ini harus dilakukan melalui banyak platform, bukan hanya di media sosial, tapi juga dengan tatap muka secara langsung, seperti di rumah ibadah dan sekolah," kata Hariqo, Rabu (1/11/2023).
Baca juga: Kominfo Ancam Tindak Akun Medsos Penyebar Hoaks Isu Boikot
Pakar komunikasi dan media sosial ini menambahkan, tidak mungkin pemuda yang radikal ataupun penyebar berita bohong karena faktor tunggal. Kalau ada siswa yang menyebar berita bohong, bukan hanya siswanya yang salah, tapi apa peranan wali kelas dan kepala sekolahnya, sehingga siswa ini bisa menyebarkan berita bohong. Semuanya harus diusut tuntas.
"Ibarat orang sakit di umur 25 tahun, harus dicek latar belakangnya kan? Waktu balitanya dia bagaimana gizinya, waktu kecil dia makan apa, kok tiba-tiba dia umur 25 tahun sudah rusak ginjalnya?" ujarnya.
Lihat Juga :