Anak Muda Perlu Disiapkan untuk Perangi Berita Bohong dan Intoleransi
Kamis, 02 November 2023 - 14:07 WIB
loading...
A
A
A
Hariqo menerangkan, pelaku seringkali sudah dibentuk dalam satu sistem yang membuat tidak terasah nalarnya. Seolah-olah dia lahir dari lingkungan yang mencetaknya menjadi penyebar berita bohong.
"Kalau ditanya apakah itu penting? Ya sangat penting, bahkan kalau perlu ini jadi salah satu syarat kelulusan di pendidikan formal," katanya.
Menurutnya, berita bohong bukan terkait dengan otak saja, tapi juga menyangkut kecerdasan mental dan kestabilan emosional. Orang yang terlatih secara emosional dan pendewasaan dirinya baik, maka tidak akan tergoda untuk menyebarkan informasi yang tidak jelas asal-usulnya. Ia menilai sebenarnya pola-pola penyebaran berita bohong seperti ini sudah terjadi sejak dulu, bedanya sekarang lebih mudah untuk dilakukan dengan adanya media sosial.
Baca juga: Kuliah Umum Denny JA di Hari Sumpah Pemuda: AI dapat Mewarnai Hoaks di Pilpres 2024
Penangkalan berita bohong dan ujaran kebencian tentunya bukan pekerjaan rumah para pemuda. Negara perlu hadir untuk memberikan dukungan kepada mereka secara konkret dan konsisten, sehingga semangat dan niat yang baik dari generasi muda Indonesia dalam menangkal intoleransi bisa dilakukan secara berkelanjutan. TIdak perlu merumuskan rencana yang muluk-muluk, cukup dengan melakukan evaluasi terhadap yang sudah berjalan dan memperkuatnya.
"Sebenarnya kita tidak perlu membuat hal yang baru, namun cukup dengan memperkuat struktur dan fungsi dari organisasi-organisasi yang sudah ada. Misalnya, terhadap banyak organisasi kemahasiswaan atau kepemudaan yang sudah exist, itu kan tinggal ditambahkan bidang khusus yang memang punya tugas menyosialisasikan terkait bahaya berita bohong, fitnah, radikalisme di organisasinya masing-masing," katanya.
"Kalau ditanya apakah itu penting? Ya sangat penting, bahkan kalau perlu ini jadi salah satu syarat kelulusan di pendidikan formal," katanya.
Menurutnya, berita bohong bukan terkait dengan otak saja, tapi juga menyangkut kecerdasan mental dan kestabilan emosional. Orang yang terlatih secara emosional dan pendewasaan dirinya baik, maka tidak akan tergoda untuk menyebarkan informasi yang tidak jelas asal-usulnya. Ia menilai sebenarnya pola-pola penyebaran berita bohong seperti ini sudah terjadi sejak dulu, bedanya sekarang lebih mudah untuk dilakukan dengan adanya media sosial.
Baca juga: Kuliah Umum Denny JA di Hari Sumpah Pemuda: AI dapat Mewarnai Hoaks di Pilpres 2024
Penangkalan berita bohong dan ujaran kebencian tentunya bukan pekerjaan rumah para pemuda. Negara perlu hadir untuk memberikan dukungan kepada mereka secara konkret dan konsisten, sehingga semangat dan niat yang baik dari generasi muda Indonesia dalam menangkal intoleransi bisa dilakukan secara berkelanjutan. TIdak perlu merumuskan rencana yang muluk-muluk, cukup dengan melakukan evaluasi terhadap yang sudah berjalan dan memperkuatnya.
"Sebenarnya kita tidak perlu membuat hal yang baru, namun cukup dengan memperkuat struktur dan fungsi dari organisasi-organisasi yang sudah ada. Misalnya, terhadap banyak organisasi kemahasiswaan atau kepemudaan yang sudah exist, itu kan tinggal ditambahkan bidang khusus yang memang punya tugas menyosialisasikan terkait bahaya berita bohong, fitnah, radikalisme di organisasinya masing-masing," katanya.
Lihat Juga :