Jagat Rindu Lare dan Sora
Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:13 WIB
loading...
A
A
A
baca juga: Buku-Buku Terlarang Abad 21, Da Vinci Code Terjual 80 Juta Copy
“Kalau ada pertanyaan apakah cinta itu masih ada? Aku akan menjawabnya tegas. Ya, cinta itu masih tegak di sana, di puncak menara yang menjulang di hatiku. Aku masih mencintaimu, Sora, tetapi di saat yang sama, aku harus menyingkirkanmu dari kehidupanku. Aku harus menyelamatkan kehidupanku dengan pergi jauh ke tempat yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu.” (halaman 33)
Lare menyadari kesalahannya, bahwa ia tidak boleh menyerahkan hidup begitu saja menuju kematian. Hidup harus dirayakan, meskipun luka tetap mendampingi. Sebab, hanya dengan merasakan luka, kita betulan hidup. Merasakan, mengenali, dan membiarkannya berlalu. Dan, ketika luka kembali muncul, kita sudah tahu harus bagaimana.
Begitulah yang Lare lakukan. Ia mengenali saat-saat kerinduan maha besar itu datang sepaket dengan rasa nyeri. Ia gegas menciptakan salurannya agar tak berlama-lama macet. Dengan begitu, pikiran positif akan kembali mendominasi.
Semesta bersenang hati mewujudkan impian indah jiwa-jiwa yang tenang. Yang perlu kita kerjakan hanyalah percaya. Maka, benang-benang gaib akan terulur dengan sendirinya, dengan cara yang bahkan tak pernah kita bayangkan. Di sini lain, Sora juga paham, berdiam diri tak selalu berhasil memecahkan situasi rumit. Manusia memang harus bergerak. Setidaknya, menjadikan diri berdaya untuk kehidupannya sendiri.
Ekspresi dan Eksperimen
Mungkin, kita pernah mendengar seorang cerpenis atau prosais berkata bahwa dirinya tidak mahir menulis puisi. Mungkin, kita juga pernah mendengar seorang penyair mengatakan dirinya tidak terampil mengolah kata-kata menjadi prosa.
baca juga: Bulan Merdeka untuk Merayakan Buku Pendidikan Pancasila
Maka, perlu sebuah apresiasi ketika seorang penyair memutuskan menulis novel, apalagi berformat trilogi. Sungguh, beberapa hal memang lebih nikmat dijabarkan dalam banyak adegan semata-mata agar esensinya menghasilkan respons yang berbeda-beda, respons yang terasa lebih lengkap.
Buku kedua ini cenderung lebih lambat alurnya dibanding yang pertama. Diceritakan bagaimana Lare kecil bisa berakhir di Caraca, bagaimana ia ditinggal begitu saja oleh orang tuanya, bagaimana ia akhirnya bertemu dengan ibu angkatnya, Lintang Bhanowati.
Diceritakan pula dari sisi Sora, bagaimana pemuda itu dianggap sebagai sosok yang sengaja menabrakkan diri kepada cinta sesaat agar dapat merasakan patah hati yang lalu jadi bahan bakar puisi-puisinya.
Penulis tampak berusaha membuat detail-detail di sana benar-benar meresap ke benak pembaca. Ia ingin menunjukkan bahwa di dunia ini, banyak keajaiban yang tak pernah terpikir sebelumnya. Tentang bagaimana dua jiwa yang terpisah jarak setengah lingkar bumi akhirnya bisa bertemu kembali.
“Kalau ada pertanyaan apakah cinta itu masih ada? Aku akan menjawabnya tegas. Ya, cinta itu masih tegak di sana, di puncak menara yang menjulang di hatiku. Aku masih mencintaimu, Sora, tetapi di saat yang sama, aku harus menyingkirkanmu dari kehidupanku. Aku harus menyelamatkan kehidupanku dengan pergi jauh ke tempat yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu.” (halaman 33)
Lare menyadari kesalahannya, bahwa ia tidak boleh menyerahkan hidup begitu saja menuju kematian. Hidup harus dirayakan, meskipun luka tetap mendampingi. Sebab, hanya dengan merasakan luka, kita betulan hidup. Merasakan, mengenali, dan membiarkannya berlalu. Dan, ketika luka kembali muncul, kita sudah tahu harus bagaimana.
Begitulah yang Lare lakukan. Ia mengenali saat-saat kerinduan maha besar itu datang sepaket dengan rasa nyeri. Ia gegas menciptakan salurannya agar tak berlama-lama macet. Dengan begitu, pikiran positif akan kembali mendominasi.
Semesta bersenang hati mewujudkan impian indah jiwa-jiwa yang tenang. Yang perlu kita kerjakan hanyalah percaya. Maka, benang-benang gaib akan terulur dengan sendirinya, dengan cara yang bahkan tak pernah kita bayangkan. Di sini lain, Sora juga paham, berdiam diri tak selalu berhasil memecahkan situasi rumit. Manusia memang harus bergerak. Setidaknya, menjadikan diri berdaya untuk kehidupannya sendiri.
Ekspresi dan Eksperimen
Mungkin, kita pernah mendengar seorang cerpenis atau prosais berkata bahwa dirinya tidak mahir menulis puisi. Mungkin, kita juga pernah mendengar seorang penyair mengatakan dirinya tidak terampil mengolah kata-kata menjadi prosa.
baca juga: Bulan Merdeka untuk Merayakan Buku Pendidikan Pancasila
Maka, perlu sebuah apresiasi ketika seorang penyair memutuskan menulis novel, apalagi berformat trilogi. Sungguh, beberapa hal memang lebih nikmat dijabarkan dalam banyak adegan semata-mata agar esensinya menghasilkan respons yang berbeda-beda, respons yang terasa lebih lengkap.
Buku kedua ini cenderung lebih lambat alurnya dibanding yang pertama. Diceritakan bagaimana Lare kecil bisa berakhir di Caraca, bagaimana ia ditinggal begitu saja oleh orang tuanya, bagaimana ia akhirnya bertemu dengan ibu angkatnya, Lintang Bhanowati.
Diceritakan pula dari sisi Sora, bagaimana pemuda itu dianggap sebagai sosok yang sengaja menabrakkan diri kepada cinta sesaat agar dapat merasakan patah hati yang lalu jadi bahan bakar puisi-puisinya.
Penulis tampak berusaha membuat detail-detail di sana benar-benar meresap ke benak pembaca. Ia ingin menunjukkan bahwa di dunia ini, banyak keajaiban yang tak pernah terpikir sebelumnya. Tentang bagaimana dua jiwa yang terpisah jarak setengah lingkar bumi akhirnya bisa bertemu kembali.
Lihat Juga :