Perkuat Pertahanan, Eks Panglima TNI Dorong Pengadaan Drone dan Perbanyak Pertemanan
Kamis, 14 September 2023 - 15:20 WIB
loading...
A
A
A
Kebijakan pertahanan yang ofensif juga bisa menyinggung negara-negara tetangga. Andika juga menyoroti manuver baru China yang begitu agresif di Kawasan Laut China Selatan. Bahkan, China telah membuat peta baru yang menyinggung kawasan yang selama milik Rusia, India, Taiwan dan wilayah Indonesia.
Termasuk juga bagaimana langkah AS dalam mengantisipasi Gerakan China di kawasan tersebut. Menurut Andika, Indonesia memang harus sadar diri dengan Gerakan China tersebut. Dalam arti bahwa manuver China ini harus disikapi secara bijak dengan mempertimbangkan kekuatan Indonesia. ‘’Kita lihat India yang sekarang ekonominya besar juga diklaim wilayahnya oleh China. Juga kepada Rusia. Makanya kita tahu diri saja,’’ jelas Andika.
Andika bercerita saat menjabat KSAD pernah mengusulkan kepada pemerintah membeli drone untuk mendukung alutsista. Setiap lima tahun, TNI diberi kesempatan untuk mengajukan pinjaman lunak untuk membeli alutsista. Jumlah awal sekitar USD25 miliar untuk pinjaman luar negeri, dan USD3 miliar untuk pinjaman dalam negeri.
Saat itu, Andika mengaku tidak lagi memilih untuk membeli tank. Karena dinilai tidak efektif. Karena tank yang paling besar hanya punya daya jangkau tembak maksimal 5 km. Belum ditambah bagaimana mengangkut tank tersebut ke lokasi latihan tempur sangat membutuhkan biaya. Karena tank tidak bisa dijalankan secara konvensional karena bisa merusak jalan. Misalnya TNI AD sering latihan di Baturaja, Sumatera Selatan. Mereka harus mengangkut tank dari Divisi 1 Kostrad Cilodong. ‘’Tank itu harus digendong pakai truk trailer terus naik kapal mendarat ke Pelabuhan Panjang di Sumatera Selatan setelah itu digendong lagi ke lokasi,’’ jelasnya.
Sehingga untuk membawa satu tank saja membutuhkan biaya yang besar. Karena itu, Andika mengajak berpikir cerdas dan efisien agar ketika ada konflik di daerah bisa mengirim senjata dengan harga yang lebih murah dan cepat. ‘’Saya mengusulkan kita harus punya drone. Drone ini sekarang sudah sangat canggih. Ada yang terbang, lima tahun lagi baru mendarat seperti dimiliki AS. Artinya nggak perlu refuel,’’ jelasnya.
Drone, menurut Andika, harganya lebih murah dan bisa mencapai daerah seluruh Indonesia tanpa banyak mengeluarkan biaya seperti tank. Sayangnya, usulannya kandas karena tidak disetujui oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan).
Termasuk juga bagaimana langkah AS dalam mengantisipasi Gerakan China di kawasan tersebut. Menurut Andika, Indonesia memang harus sadar diri dengan Gerakan China tersebut. Dalam arti bahwa manuver China ini harus disikapi secara bijak dengan mempertimbangkan kekuatan Indonesia. ‘’Kita lihat India yang sekarang ekonominya besar juga diklaim wilayahnya oleh China. Juga kepada Rusia. Makanya kita tahu diri saja,’’ jelas Andika.
Andika bercerita saat menjabat KSAD pernah mengusulkan kepada pemerintah membeli drone untuk mendukung alutsista. Setiap lima tahun, TNI diberi kesempatan untuk mengajukan pinjaman lunak untuk membeli alutsista. Jumlah awal sekitar USD25 miliar untuk pinjaman luar negeri, dan USD3 miliar untuk pinjaman dalam negeri.
Saat itu, Andika mengaku tidak lagi memilih untuk membeli tank. Karena dinilai tidak efektif. Karena tank yang paling besar hanya punya daya jangkau tembak maksimal 5 km. Belum ditambah bagaimana mengangkut tank tersebut ke lokasi latihan tempur sangat membutuhkan biaya. Karena tank tidak bisa dijalankan secara konvensional karena bisa merusak jalan. Misalnya TNI AD sering latihan di Baturaja, Sumatera Selatan. Mereka harus mengangkut tank dari Divisi 1 Kostrad Cilodong. ‘’Tank itu harus digendong pakai truk trailer terus naik kapal mendarat ke Pelabuhan Panjang di Sumatera Selatan setelah itu digendong lagi ke lokasi,’’ jelasnya.
Sehingga untuk membawa satu tank saja membutuhkan biaya yang besar. Karena itu, Andika mengajak berpikir cerdas dan efisien agar ketika ada konflik di daerah bisa mengirim senjata dengan harga yang lebih murah dan cepat. ‘’Saya mengusulkan kita harus punya drone. Drone ini sekarang sudah sangat canggih. Ada yang terbang, lima tahun lagi baru mendarat seperti dimiliki AS. Artinya nggak perlu refuel,’’ jelasnya.
Drone, menurut Andika, harganya lebih murah dan bisa mencapai daerah seluruh Indonesia tanpa banyak mengeluarkan biaya seperti tank. Sayangnya, usulannya kandas karena tidak disetujui oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan).
(cip)
Lihat Juga :