Kelaparan Berulang di Papua, Faktor Budaya Penghambat Penanganan

Rabu, 30 Agustus 2023 - 10:16 WIB
loading...
A A A
Soal budaya yang mengakar kuat untuk menetap di bukit tinggi bagi warga pedalaman juga belum tertangani dengan baik hingga kini. Padahal setiap kali musibah kelaparan terjadi, warga yang menetap di pedalamanlah yang menderita. Mereka yang bermukim di pedalaman sulit dijangkau dengan transportasi, baik melalui darat dan udara karena tinggal di punggung bukit terjal yang sulit dijangkau.Tinggal di pegunungan atau punggung bukit memang sudah menjadi tradisi bagi penduduk di pedalaman Papua secara turun temurun.

Tradisi lama warga bermukim di punggung bukit pedalaman memang sudah menjadi kebiasaan sejak masa lalu, karena perang antarsuku kerap terjadi. Bila mereka tinggal di punggung bukit akan mudah mengetahui dan menghindari serangan lawan yang datang secara tiba-tiba bila terjadi perang antarsuku. Perang antarsuku memang masih terjadi, dan sulit diatasi hingga saat ini di wilayah Papua. Namun, konflik klasik ini memang mulai bergeser dari sifat primordialisme antarsuku di masa lalu bermutasi menjadi perebutan jabatan birokrasi, ekonomi dan lainnya. Ironisnya lagi, kelompok suku asli di Papua terdiri atas sekitar 255 suku, dengan bahasa yang masing-masing berbeda sehingga amat sulit untuk ditangani.

Mereka enggan berpindah ke wilayah kota karena ada kepercayaan soal keketerikatan dengan roh para leluhur atau keluarga yang telah meninggal di tempat tersebut. Bagi mereka, berpindah dari tempat tersebut sama artinya meninggalkan dan menelantarkan leluhur mereka. Bahkan mereka punya prinsip, bagaimanapun sulitnya dan menderitanya di daerah leluhur, lebih baik tetap bertahan dan rela mati daripada harus meninggalkan leluhur mereka.

Kebiasaan mereka tinggal di punggung bukit tinggi juga untuk menghindari penyakit malaria. Penyakit malaria merupakan penyakit yang diwaspadai karena banyak warga yang bertempat tinggal pada ketinggian di atas 2000 meter. Mereka memperoleh pengetahuan secara turun-temurun, bahwa malaria hanya bisa berkembang di daerah panas atau di lembah bukit.

Kekeringan dan cuaca dingin ekstrem di Kabupaten Puncak, Papua Tengah merupakan fenomena tahunan yang biasa terjadi mulai bulan Mei, Juni, hingga Juli. Kebiasaan mereka tinggal di punggung bukit inilah yang sebenarnya yang semakin memperparah musibah kelaparan. Kalau saja mereka mau turun dari punggung bukit dan bercocok tanam di lembah, sebenarnya kekeringan yang mengakibatkan musibah kelaparan tidak perlu terjadi, dan separah saat ini.

Mereka yang sudah tinggal di lembah tak ada yang dilaporkan menderita kelaparan secara massal. Pengairan dan cuaca di lembah bukit sangat baik, dan tidak ada yang dilaporkan kekeringan lahan pertanian hingga saat ini. Sungai-sungai di lembah bukit hingga saat ini masih mengalir dengan baik dan tidak ada yang dilaporkan kekeringan. Air sungai tentu bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian.

Menarik mereka turun ke lembah memang bukan persoalan yang mudah mengingat tradisi lama mereka yang masih mengakar tinggal di punggung bukit. Pemerintah pun sudah lama mengupayakan dengan membuat tempat tinggal mereka yang layak sebagai percontohan untuk memikat warga pedalaman berpindah ke lembah. Tempat dan lahan pertanian yang diberikan secara gratis pun, akhirnya mereka tinggalkan. Mereka kembali ke punggung-punggung bukit, hingga proyek perumahan yang disediakan pemerintah pun sia-sia.

Proyek modernisasi dengan segera meninggalkan kebudayaan mereka memang tak mungkin dipaksakan. Sama halnya seperti yang diusahakan sejak lama untuk mengganti koteka bagi pria dan sali bagi wanita sulit dilakukan hingga saat ini sekalipun mereka mampu membeli pakaian. Ada nilai-nilai dari leluhur nenek moyang yang mengakar kuat untuk mempertahankan tradisi warisan budaya. Bagi mereka, pakaian adat tidak hanya sebagai penutup tubuh, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam bagi mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Semangat Otsus Harus...
Semangat Otsus Harus Tercermin dalam Desain Politik Papua
Terungkap! 3 Modus Propaganda...
Terungkap! 3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
Tim Kolaborasi Film...
Tim Kolaborasi Film Pesta Babi Buka Suara setelah Mama Sinta Lapor Polisi
Yorrys Raweyai Soroti...
Yorrys Raweyai Soroti Eksploitasi Hutan di Tanah Papua dan Dorong Pembentukan Pansus
Kritik dalam Film Pesta...
Kritik dalam Film Pesta Babi Jadi Bahan Evaluasi Pembangunan di Papua
Kabupaten Bekasi dan...
Kabupaten Bekasi dan Klaten Kekeringan, Ribuan Warga Kesulitan Dapat Air Bersih
BMKG Ungkap 5 Daerah...
BMKG Ungkap 5 Daerah Tak Diguyur Hujan Lebih Sebulan, Probolinggo Terlama
Bangun Pertanian di...
Bangun Pertanian di Papua, Pemerintah Gelontorkan Rp5 Triliun
Rekomendasi
Eksekusi Hotel Sultan...
Eksekusi Hotel Sultan Ricuh, Simpatisan Lempari Polisi dan TNI dengan Batu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp30.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya
Eksekusi Hotel Sultan,...
Eksekusi Hotel Sultan, Wamensesneg: Kita Harus Tarik Aset yang Dikuasai Pihak Lain
Berita Terkini
Soroti Masalah Bangsa,...
Soroti Masalah Bangsa, Jaringan Cendekiawan Muda Ajukan 7 Tuntutan
Periksa Sony Sonjaya,...
Periksa Sony Sonjaya, Kejagung Dalami Pengajuan Justice Collaborator
Sony Sonjaya Bungkam...
Sony Sonjaya Bungkam Jelang Diperiksa Kejagung soal Dugaan Korupsi MBG
Kabar Duka, Mantan KSAL...
Kabar Duka, Mantan KSAL Laksamana TNI Purn Achmad Sutjipto Meninggal Dunia
Kontras Ungkap Update...
Kontras Ungkap Update Kondisi Andrie Yunus, Sudah Pulang dan Jalani Fisioterapi
Resmi Masuk Daftar Belanja...
Resmi Masuk Daftar Belanja TNI AU, Ini Spesifikasi Chengdu J-10C Buatan China yang Akan Perkuat Langit Indonesia
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved