Sopan Santun dalam Pergaulan
Jum'at, 18 Agustus 2023 - 11:11 WIB
loading...
A
A
A
Di Jepang atau Korea Selatan, misalnya, seseorang akan memberikan salam dengan cara membungkuk sebagai tanda penghormatan. Sementara di budaya Barat, cium pipi atau jabat tangan mungkin lebih umum sebagai tanda salam. Di beberapa budaya, menggunakan bahasa khusus untuk berbicara kepada orang yang lebih tua atau memiliki status yang lebih tinggi adalah hal yang umum.
Di Jawa Tengah, misalnya, kita kenal bahasa “ngoko” (kepada teman akrab), “kromo madya” (keapda orang yang lebih tua), dan “kromo inggil” (sebagai bahasa yang paling tinggi stratanya). Di Prancis, selain mengenal bahasa formal (“Tu” untuk “kamu” informal; dan “Vu” untuk “kamu” formal) serta jenis kelamin (“Elle” untuk benda atau orang berjenis kelamin feminim; dan “Il” untuk yang berjenis maskulin), ada juga kata-kata penting untuk menunjukkan rasa hormat atau kesopanan, misalnya, "s'il vous plaît" (tolong), "merci" (terima kasih), dan "excusez-moi" (maafkan saya). Lalu, kepada orang yang sudah akrab, Anda cukup bilang: “Ca va?” untuk bertanya apa kabar, sedangkan kepada mereka yang baru dikenal biasa digunakan kata: “Comment allez-vous?"
Maka, penting untuk memiliki pemahaman tentang norma sopan santun saat berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda. Menghormati dan menghargai norma-norma ini dapat membantu membangun hubungan yang baik dengan orang lain dan menghindari kesalahpahaman atau insiden yang tidak diinginkan.
Di Amerika Serikat, negeri yang sering dijadikan contoh untuk kebebasan berbicara dan bertindak, juga ada norma sopan santun yang berlaku di banyak lingkungan di sana. Misalnya, melakukan penghinaan terhadap seseorang berdasarkan ras, agama, etnis, jenis kelamin, orientasi seksual, atau karakteristik pribadi lainnya. Hal itu dianggap tidak sopan dan dapat melanggar prinsip-prinsip kesetaraan dan keberagaman. Lalu, penggunaan kata-kata kasar yang merendahkan atau rasis dalam percakapan umum atau interaksi sosial dianggap tidak sopan dan tidak menghormati orang lain. Bahkan, menyebarluaskan informasi palsu atau fitnah tentang orang lain melalui media sosial atau komunikasi lainnya dapat dianggap tidak sopan dan merugikan reputasi orang lain.
Nah, ini yang sering orang lupa, bahwa dalam pergaulan sehari-hari, ada beberapa topik yang oleh sesama warga Amerika Serikat pun dianggap tabu atau tidak sopan. Misalnya, bertanya tentang berapa seseorang menghasilkan uang atau berapa gaji mereka. Bertanya soal usia seseorang, terutama jika mereka lebih tua, dapat dianggap tidak sopan atau tidak pantas. Jika tidak benar-benar akrab, bertanya tentang status pernikahan, perencanaan keluarga, atau masalah kehamilan bisa menjadi hal sensitif karena keterkaitannya dengan kehidupan pribadi.
Lalu, menanyakan tentang orientasi seksual atau identitas gender seseorang bisa sangat pribadi dan sensitif. Juga pertanyaan-pertanyaan soal agama atau keyakinan yang bersifat menghakimi atau menantang keyakinan seseorang, bisa dianggap tidak sopan. Kemudian bertanya tentang berat badan, penampilan fisik, atau memberi komentar negatif tentang penampilan seseorang dapat dianggap tidak sopan. Dan masih ada beberapa lainnya.
Di Jawa Tengah, misalnya, kita kenal bahasa “ngoko” (kepada teman akrab), “kromo madya” (keapda orang yang lebih tua), dan “kromo inggil” (sebagai bahasa yang paling tinggi stratanya). Di Prancis, selain mengenal bahasa formal (“Tu” untuk “kamu” informal; dan “Vu” untuk “kamu” formal) serta jenis kelamin (“Elle” untuk benda atau orang berjenis kelamin feminim; dan “Il” untuk yang berjenis maskulin), ada juga kata-kata penting untuk menunjukkan rasa hormat atau kesopanan, misalnya, "s'il vous plaît" (tolong), "merci" (terima kasih), dan "excusez-moi" (maafkan saya). Lalu, kepada orang yang sudah akrab, Anda cukup bilang: “Ca va?” untuk bertanya apa kabar, sedangkan kepada mereka yang baru dikenal biasa digunakan kata: “Comment allez-vous?"
Maka, penting untuk memiliki pemahaman tentang norma sopan santun saat berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda. Menghormati dan menghargai norma-norma ini dapat membantu membangun hubungan yang baik dengan orang lain dan menghindari kesalahpahaman atau insiden yang tidak diinginkan.
Di Amerika Serikat, negeri yang sering dijadikan contoh untuk kebebasan berbicara dan bertindak, juga ada norma sopan santun yang berlaku di banyak lingkungan di sana. Misalnya, melakukan penghinaan terhadap seseorang berdasarkan ras, agama, etnis, jenis kelamin, orientasi seksual, atau karakteristik pribadi lainnya. Hal itu dianggap tidak sopan dan dapat melanggar prinsip-prinsip kesetaraan dan keberagaman. Lalu, penggunaan kata-kata kasar yang merendahkan atau rasis dalam percakapan umum atau interaksi sosial dianggap tidak sopan dan tidak menghormati orang lain. Bahkan, menyebarluaskan informasi palsu atau fitnah tentang orang lain melalui media sosial atau komunikasi lainnya dapat dianggap tidak sopan dan merugikan reputasi orang lain.
Nah, ini yang sering orang lupa, bahwa dalam pergaulan sehari-hari, ada beberapa topik yang oleh sesama warga Amerika Serikat pun dianggap tabu atau tidak sopan. Misalnya, bertanya tentang berapa seseorang menghasilkan uang atau berapa gaji mereka. Bertanya soal usia seseorang, terutama jika mereka lebih tua, dapat dianggap tidak sopan atau tidak pantas. Jika tidak benar-benar akrab, bertanya tentang status pernikahan, perencanaan keluarga, atau masalah kehamilan bisa menjadi hal sensitif karena keterkaitannya dengan kehidupan pribadi.
Lalu, menanyakan tentang orientasi seksual atau identitas gender seseorang bisa sangat pribadi dan sensitif. Juga pertanyaan-pertanyaan soal agama atau keyakinan yang bersifat menghakimi atau menantang keyakinan seseorang, bisa dianggap tidak sopan. Kemudian bertanya tentang berat badan, penampilan fisik, atau memberi komentar negatif tentang penampilan seseorang dapat dianggap tidak sopan. Dan masih ada beberapa lainnya.
Lihat Juga :