Beri Perlindungan Disabilitas, Kemensos Luncurkan Gelang Disabilitas Grahita (Grita)
Jum'at, 11 Agustus 2023 - 13:23 WIB
loading...
A
A
A
"Quality control di akhir proses itu yang buat anak disabilitas. Jadi dia tahu benar merasakan. Ini enggak bisa. Dicek, dikembalikan. Dia tahu bagaimana (alat) itu harus bekerja," tuturnya.
Grita merupakan inovasi lanjutan dari gelang rungu dan wicara (Gruwi) yang telah diluncurkan sebelumnya. Sedikit berbeda dengan pendahulunya yang aktif dengan cara menekan panic button, Grita menggunakan sensor denyut nadi dimana gelang itu akan berbunyi saat denyut nadi melebihi batas wajar. Baik Grita maupun Gruwi sama-sama memiliki desain yang fashionable sehingga anak-anak tidak perlu malu memakainya.
“Anak-anak bisa tidak perlu malu karena gelangnya sangat fashionable. Jadi saya berharap anak-anak kita bisa gunakan dan mereka bisa lebih safe berada di mana pun,” ucap Risma.
Saat ini hak paten Grita sedang dalam proses dan nantinya seluruh inovasi Kementerian Sosial akan dipatenkan secara internasional. Untuk saat ini, Kementerian Sosial akan memproduksi sendiri. Produksi komersial dikhawatirkan akan membuat harga alat-alat bantu melonjak dan tidak terjangkau para penyandang disabilitas.
Pada acara tersebut, Risma juga menyerahkan Grita kepada perwakilan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) dari beberapa sentra dan sentra terpadu yang hadir dalam acara yakni meliputi perwakilan dari Sentra Terpadu Inten Soeweno Cibinong, Sentra Antasena Magelang, Sentra Terpadu Kartini Temanggung, Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi, Sentra Handayani Jakarta, Sentra Phalamarta Sukabumi, Sentra Abhiyoso, Sentra Terpadu Prof.Dr. Soeharso Surakarta, Sentra Mulyajaya Jakarta, dan Sentra Margo Laras Pati.
Kepala Sentra Terpadu Inten Soeweno Cibinong, Mokhamad O. Royani menjelaskan cara kerja Grita yakni menggunakan sensor untuk detak jantung yang direpresentasikan ke dalam denyut nadi. Gelang tersebut dipakai di pergelangan tangan supaya sensornya mengenai denyut nadi pengguna.
Grita merupakan inovasi lanjutan dari gelang rungu dan wicara (Gruwi) yang telah diluncurkan sebelumnya. Sedikit berbeda dengan pendahulunya yang aktif dengan cara menekan panic button, Grita menggunakan sensor denyut nadi dimana gelang itu akan berbunyi saat denyut nadi melebihi batas wajar. Baik Grita maupun Gruwi sama-sama memiliki desain yang fashionable sehingga anak-anak tidak perlu malu memakainya.
“Anak-anak bisa tidak perlu malu karena gelangnya sangat fashionable. Jadi saya berharap anak-anak kita bisa gunakan dan mereka bisa lebih safe berada di mana pun,” ucap Risma.
Saat ini hak paten Grita sedang dalam proses dan nantinya seluruh inovasi Kementerian Sosial akan dipatenkan secara internasional. Untuk saat ini, Kementerian Sosial akan memproduksi sendiri. Produksi komersial dikhawatirkan akan membuat harga alat-alat bantu melonjak dan tidak terjangkau para penyandang disabilitas.
Pada acara tersebut, Risma juga menyerahkan Grita kepada perwakilan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) dari beberapa sentra dan sentra terpadu yang hadir dalam acara yakni meliputi perwakilan dari Sentra Terpadu Inten Soeweno Cibinong, Sentra Antasena Magelang, Sentra Terpadu Kartini Temanggung, Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi, Sentra Handayani Jakarta, Sentra Phalamarta Sukabumi, Sentra Abhiyoso, Sentra Terpadu Prof.Dr. Soeharso Surakarta, Sentra Mulyajaya Jakarta, dan Sentra Margo Laras Pati.
Kepala Sentra Terpadu Inten Soeweno Cibinong, Mokhamad O. Royani menjelaskan cara kerja Grita yakni menggunakan sensor untuk detak jantung yang direpresentasikan ke dalam denyut nadi. Gelang tersebut dipakai di pergelangan tangan supaya sensornya mengenai denyut nadi pengguna.
Lihat Juga :