Generasi Muda Harus Waspadai Narasi Keagamaan Keliru di Medsos
Minggu, 18 Juni 2023 - 21:38 WIB
loading...
Ketua Lakpesdam PBNU Ulil Abshar Abdalla saat Pengukuhan Duta Damai Santri dan Regenerasi Duta Damai Dunia Maya Regional Jawa Tengah di Semarang, Jawa Tengah, dikutip Minggu (18/6/2023). FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Maraknya narasi keagamaan yang keliru di media sosial bisa menjadi salah satu akar dari radikalisme berbasis agama. Narasi keagamaan yang keliru seringkali menyebar dengan cepat dan luas di media sosial dan dapat mempengaruhi pemaham agama seseorang secara negatif.
Untuk itu generasi muda harus paham bagaimana cara kelompok radikal melakukan aksinya, dan harus tahu bagaimana mencegah penyebaran narasi keagamaan yang keliru itu. "Peran generasi muda di dalam menghadapi narasi keberagamaan yang radikal yang paling utama adalah memahami bagaimana cara kerja kelompok ini," kata Ketua Lakpesdam PBNU Ulil Abshar Abdalla saat Pengukuhan Duta Damai Santri dan Regenerasi Duta Damai Dunia Maya Regional Jawa Tengah di Semarang, Jawa Tengah, dikutip Minggu (18/6/2023).
Menurut Gus Ulil, kaum millenial tidak akan bisa menanggapi ideologi radikal jika tidak memahami cara kerja kelompok tersebut berselancar di dunia maya.
"Setelah kita tahu dan paham, kita baru bisa merumuskan narasi tandingan. Narasi tandingan ini sebetulnya narasi yang tidak berangkat dari nol. Karena narasi tandingan ini praktik keagamaan dan praktik dakwah yang sudah berlangsung di Indonesia selama beradab-abad," lanjutnya.
Untuk itu generasi muda harus paham bagaimana cara kelompok radikal melakukan aksinya, dan harus tahu bagaimana mencegah penyebaran narasi keagamaan yang keliru itu. "Peran generasi muda di dalam menghadapi narasi keberagamaan yang radikal yang paling utama adalah memahami bagaimana cara kerja kelompok ini," kata Ketua Lakpesdam PBNU Ulil Abshar Abdalla saat Pengukuhan Duta Damai Santri dan Regenerasi Duta Damai Dunia Maya Regional Jawa Tengah di Semarang, Jawa Tengah, dikutip Minggu (18/6/2023).
Menurut Gus Ulil, kaum millenial tidak akan bisa menanggapi ideologi radikal jika tidak memahami cara kerja kelompok tersebut berselancar di dunia maya.
"Setelah kita tahu dan paham, kita baru bisa merumuskan narasi tandingan. Narasi tandingan ini sebetulnya narasi yang tidak berangkat dari nol. Karena narasi tandingan ini praktik keagamaan dan praktik dakwah yang sudah berlangsung di Indonesia selama beradab-abad," lanjutnya.
Lihat Juga :