Butet Puji Megawati Pilih Ganjar Jadi Capres: Sudah Makrifat Politik
Rabu, 07 Juni 2023 - 16:20 WIB
loading...
A
A
A
Kehadiran Butet diketahui di sela-sela Rakernas III PDIP mendampingi karibnya sesama seniman Yogyakarta Sri Krishna Encik untuk mengenalkan lagu kampanye dukungan kepada Ganjar Pranowo berjudul “Ganjar Siji Ganjar Kabeh”.
"Tahun ini kalau saja, masih juga egosentris dan belum level makrifat tentu mungkin Mbak Puan yang dipaksakan. Tapi, akhirnya kemarin kita lihat tanggal 21 April itu, Ganjar yang ditugasi oleh Ibu Megawati untuk menjadi Presiden Republik Indonesia berikutnya. Mosok kayak begitu transaksional, wong Ganjar neng kere," kata Butet.
Butet juga merasa terhormat lantaran tulisan opininya di sebuah media cetak bertajuk "Pesan Punakawan" dibaca dan diapresiasi oleh Megawati. Bahkan Megawati menginstruksikan kepada semua kadernya untuk membaca tulisan Butet.
Intisari dari tulisan itu, kata Butet, menggambarkan seorang punakawan tokoh pewayangan Jawa agar 'ojo dumeh', dan 'ojo muntal negoro'. "Di dalam tulisan saya itu kawan-kawan, saya menerangkan tentang kearifan kebudayaan dari masyarakat kecil yang menggambarkan punakawan yang selalu mengingatkan ksatria, ketika ksatria itu lengah. Salah satunya mengingatkan supaya 'Kesatria jangan mentang-mentang; ojo dumeh. Jangan milik. Kekuasaan membuat lupa. Jangan muntal negara. Muntal itu makan, nelan negara," pungkasnya.
"Tahun ini kalau saja, masih juga egosentris dan belum level makrifat tentu mungkin Mbak Puan yang dipaksakan. Tapi, akhirnya kemarin kita lihat tanggal 21 April itu, Ganjar yang ditugasi oleh Ibu Megawati untuk menjadi Presiden Republik Indonesia berikutnya. Mosok kayak begitu transaksional, wong Ganjar neng kere," kata Butet.
Butet juga merasa terhormat lantaran tulisan opininya di sebuah media cetak bertajuk "Pesan Punakawan" dibaca dan diapresiasi oleh Megawati. Bahkan Megawati menginstruksikan kepada semua kadernya untuk membaca tulisan Butet.
Intisari dari tulisan itu, kata Butet, menggambarkan seorang punakawan tokoh pewayangan Jawa agar 'ojo dumeh', dan 'ojo muntal negoro'. "Di dalam tulisan saya itu kawan-kawan, saya menerangkan tentang kearifan kebudayaan dari masyarakat kecil yang menggambarkan punakawan yang selalu mengingatkan ksatria, ketika ksatria itu lengah. Salah satunya mengingatkan supaya 'Kesatria jangan mentang-mentang; ojo dumeh. Jangan milik. Kekuasaan membuat lupa. Jangan muntal negara. Muntal itu makan, nelan negara," pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :