Tepis Politik Identitas
Jum'at, 26 Mei 2023 - 11:37 WIB
loading...
A
A
A
Seperti yang dilakukan oleh ketua umum kedua organisasi ini. Umat tidak selalu membutuhkan ceramah dan nasehat. Umat ingin melihat contoh dan teladan. Keduanya adalah teladan terbaik yang kita punya. Keduanya berjumpa dan saling mengunjungi. Betapa anggunnya itu.
Politik identitas dilakukan dengan enteng dan murah untuk tujuan politik. Akibatnya adalah naiknya tensi sosial, yang bisa mengakibatkan panasnya suasana. Saling mencurigai, saling menuduh, dan saling menyerang baik dengan cara luring dan daring.
Dalam media sosial dan perbincangan darat, kita sudah kenyang dengan saling berguncing satu sama lain. Membicarakan aib dan kelemahan golongan lain memang jauh lebih mudah daripada menghitung dan menimbang kesalahan golongan sendiri.
Gus Yahya secara terang-terangan mengatakan bahwa kita bermasalah. Keislaman kita bermasalah. Kita sering menajamkan identitas kita. Siapa saya dan siapa Anda, siapa kami dan siapa kalian, asal Anda dari mana, kelompok kalian mana? Semua itu adalah ungkapan sederhana mempertanyakan identitas teman sejawat yang diposisikan menjadi lawan.
Indonesia membutuhkan pendingin. Kedua ketua umum sudah memberi tauladan itu. Kunjungan dibalas dengan kunjungan. Senyuman dibalas dengan senyuman. Kata dibalas dengan kata. Belajar satu sama lain, dan menegaskan masing-masing sumbangannya. Tidak menegaskan siapa dirinya dan sumbangan yang diberikan. Kita perlu mengakui sumbangan kelompok lain.
Pertemuan yang kedua kalinya secara resmi di tempat yang berbeda menegaskan empat hal yang mulia. Pertama, kerjasama antarorganisasi. Kedua, kepemimpinan moral tahun politik 2024.Ketiga, kerjasama dalam hal ekonomi umat. Keempat, kepemimpinan moral untuk umat.
Keempat poin itu hanya bisa dilakukan dengan contoh nyata. Bukan sekadar tausiyah dan ceramah. Kita semua optimistis kedua pemimpin dan timnya masing-masing sudah melakukan langkah nyata, dan kita sebagai umat harus menyambut dengan suka cita dan mendukungnya.
Politik identitas dilakukan dengan enteng dan murah untuk tujuan politik. Akibatnya adalah naiknya tensi sosial, yang bisa mengakibatkan panasnya suasana. Saling mencurigai, saling menuduh, dan saling menyerang baik dengan cara luring dan daring.
Dalam media sosial dan perbincangan darat, kita sudah kenyang dengan saling berguncing satu sama lain. Membicarakan aib dan kelemahan golongan lain memang jauh lebih mudah daripada menghitung dan menimbang kesalahan golongan sendiri.
Gus Yahya secara terang-terangan mengatakan bahwa kita bermasalah. Keislaman kita bermasalah. Kita sering menajamkan identitas kita. Siapa saya dan siapa Anda, siapa kami dan siapa kalian, asal Anda dari mana, kelompok kalian mana? Semua itu adalah ungkapan sederhana mempertanyakan identitas teman sejawat yang diposisikan menjadi lawan.
Indonesia membutuhkan pendingin. Kedua ketua umum sudah memberi tauladan itu. Kunjungan dibalas dengan kunjungan. Senyuman dibalas dengan senyuman. Kata dibalas dengan kata. Belajar satu sama lain, dan menegaskan masing-masing sumbangannya. Tidak menegaskan siapa dirinya dan sumbangan yang diberikan. Kita perlu mengakui sumbangan kelompok lain.
Pertemuan yang kedua kalinya secara resmi di tempat yang berbeda menegaskan empat hal yang mulia. Pertama, kerjasama antarorganisasi. Kedua, kepemimpinan moral tahun politik 2024.Ketiga, kerjasama dalam hal ekonomi umat. Keempat, kepemimpinan moral untuk umat.
Keempat poin itu hanya bisa dilakukan dengan contoh nyata. Bukan sekadar tausiyah dan ceramah. Kita semua optimistis kedua pemimpin dan timnya masing-masing sudah melakukan langkah nyata, dan kita sebagai umat harus menyambut dengan suka cita dan mendukungnya.
(poe)