Peringati 25 Tahun Reformasi, Barikade 98 Dukung Pemerintah Selesaikan Kejahatan HAM
Minggu, 21 Mei 2023 - 16:15 WIB
loading...
Ketua Barikade 98, Benny Rhamdani menyampaikan orasinya pada Peringatan 25 Tahun Gerakan Reformasi 1998 di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (21/5/2023). FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Barikade 98 memperingati Hari Reformasi Nasional pada 21 Mei yang menandai peristiwa lengsernya Orde Baru. Peristiwa yang terjadi 25 tahun silam ini diwarnai kerusuhan sosial dan kejahatan hak asasi manusia (HAM) yang hingga kini belum tuntas.
Ketua Barikade 98, Benny Rhamdani menegaskan, Orde Baru yang telah menindas rakyat selama 32 tahun akhirnya tumbang oleh kekuatan mahasiswa dan rakyat. Peristiwa ini ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
Benny mengungkapkan, berakhirnya rezim tersebut diawali dari akumulasi kemarahan rakyat dan demo besar-besaran, yang meletus pada Mei 1998. Namun, hingga hari ini, terdapat 13 aktivis mahasiswa yang dibunuh, tapi kuburannya belum ditemukan.
"Kami mendukung seluruh upaya yang dilakukan pemerintahan Presiden Jokowi, untuk menemukan kuburan, dan mengembalikan jenazahnya 13 aktivis mahasiswa yang dibunuh untuk dikembalikan kepada pihak keluarga," kata Benny dalam orasinya pada Peringatan 25 Tahun Gerakan Reformasi 1998 di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (21/5/2023).
Dia juga menguraikan sejumlah peristiwa kelam, yang mewarnai jalannya reformasi Indonesia. Saat itu, kata dia, rakyat dibakar di dalam mal saat kerusuhan besar 98 terjadi, mahasiwa ditembaki dengan peluru tajam, hingga terjadinya pemerkosaan terhadap salah satu etnis.
"Mereka membiarkan terjadinya penjarahan, kemudian toko dan mal besar dibakar. Rakyat masuk ke dalam, dikunci pintu dari luar, sehingga ratusan hingga ribuan rakyat kita mati terbakar di mal-mal," kata Benny dalam acara bertajuk 'Tumbangnya Diktator Soeharto, Kawal Reformasi-Jaga Indonesia' itu.
Ketua Barikade 98, Benny Rhamdani menegaskan, Orde Baru yang telah menindas rakyat selama 32 tahun akhirnya tumbang oleh kekuatan mahasiswa dan rakyat. Peristiwa ini ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
Benny mengungkapkan, berakhirnya rezim tersebut diawali dari akumulasi kemarahan rakyat dan demo besar-besaran, yang meletus pada Mei 1998. Namun, hingga hari ini, terdapat 13 aktivis mahasiswa yang dibunuh, tapi kuburannya belum ditemukan.
"Kami mendukung seluruh upaya yang dilakukan pemerintahan Presiden Jokowi, untuk menemukan kuburan, dan mengembalikan jenazahnya 13 aktivis mahasiswa yang dibunuh untuk dikembalikan kepada pihak keluarga," kata Benny dalam orasinya pada Peringatan 25 Tahun Gerakan Reformasi 1998 di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (21/5/2023).
Dia juga menguraikan sejumlah peristiwa kelam, yang mewarnai jalannya reformasi Indonesia. Saat itu, kata dia, rakyat dibakar di dalam mal saat kerusuhan besar 98 terjadi, mahasiwa ditembaki dengan peluru tajam, hingga terjadinya pemerkosaan terhadap salah satu etnis.
"Mereka membiarkan terjadinya penjarahan, kemudian toko dan mal besar dibakar. Rakyat masuk ke dalam, dikunci pintu dari luar, sehingga ratusan hingga ribuan rakyat kita mati terbakar di mal-mal," kata Benny dalam acara bertajuk 'Tumbangnya Diktator Soeharto, Kawal Reformasi-Jaga Indonesia' itu.
Lihat Juga :