Budaya Baca di Tengah Gempuran Media Sosial
Rabu, 17 Mei 2023 - 22:04 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Hari Buku dan Pentingnya Membumikan Kembali Budaya Baca
Di belahan dunia lain, pada masa kekhalifahan Abbasiyah berdiri perpustakaan terbesar yang bernama Darul Hikmah (Rumah Kebijakan). Buku-buku yang merupakan salinan dan hasil terjemahan buku-buku kuno dari berbagai bahasa dikumpulkan di perpustakaan tersebut. Namun, perpustakaan itu juga berakhir tragis. Sejarawan mencatat sungai tigris berwarna hitam karena begitu banyak buku yang dibakar saat serangan spektakuler tentara Hulagu Khan.
Sejarah penghancuran buku dari masa ke masa menunjukkan bahwa kehadiran buku dan perpustakaan tidak hanya penanda kemajuan ilmu pengetahuan di suatu tempat atau masa, tapi juga menunjukan peradaban yang unggul. Sebab, mereka yang menguasai ilmu pengetahuan, yang memiliki adab pada akhirnya mengantarkan manusia mencapai keunggulannya. Kualitas itu yang membentuk peradaban besar di dunia.
Jika kita cermati, kehadiran sosial media seperti Tiktok, Facebook, Instagram, bahkan Whatsapp, yang telah dilengkapi dengan fitur story dengan durasi yang pendek menjadikan atensi penggunanya semakin pendek. Selain itu, orang-orang lebih mudah membaca sosial media dibandingkan harus bertahan membaca buku: mencermati kalimat-kalimat yang statis dan monoton, tanpa suara, warna, dan gerakan. Masalahnya, potongan-potongan informasi yang pendek itulah seringkali memunculkan bias informasi, implusifitasi, dan kegaduhan dalam memandang suatu peristiwa. Kebiasaan membaca lebih panjang dan tuntas semkin susah diwujudkan. Kita tidak lagi mampu membaca lebih banyak dalam beragam prespektif.
Di belahan dunia lain, pada masa kekhalifahan Abbasiyah berdiri perpustakaan terbesar yang bernama Darul Hikmah (Rumah Kebijakan). Buku-buku yang merupakan salinan dan hasil terjemahan buku-buku kuno dari berbagai bahasa dikumpulkan di perpustakaan tersebut. Namun, perpustakaan itu juga berakhir tragis. Sejarawan mencatat sungai tigris berwarna hitam karena begitu banyak buku yang dibakar saat serangan spektakuler tentara Hulagu Khan.
Sejarah penghancuran buku dari masa ke masa menunjukkan bahwa kehadiran buku dan perpustakaan tidak hanya penanda kemajuan ilmu pengetahuan di suatu tempat atau masa, tapi juga menunjukan peradaban yang unggul. Sebab, mereka yang menguasai ilmu pengetahuan, yang memiliki adab pada akhirnya mengantarkan manusia mencapai keunggulannya. Kualitas itu yang membentuk peradaban besar di dunia.
Membaca Buku dalam Geliat Modernisasi
Dalam perkembangannya, teknologi semakin canggih. Mesin-mesin offset raksasa yang mampu mencetak ratusan ribu eksemplar buku dalam waktu singkat telah dibuat. Hal itu diikuti pula dengan penemuan mesin komputer sehingga memudahkan untuk setting (menyusun huruf) dan lay out (tata letak halaman). Diikuti pula penemuan mesin penjilidan, mesin pemotong kertas, scanner, dll. Dengan kata lain, saat ini buku dapat dengan mudah diterbitkan. Namun, pertanyaan selanjutnya, apakah orang-orang masih mau membaca buku di tengah gempuran sosial media yang semakin memperpendek atensi kita?Jika kita cermati, kehadiran sosial media seperti Tiktok, Facebook, Instagram, bahkan Whatsapp, yang telah dilengkapi dengan fitur story dengan durasi yang pendek menjadikan atensi penggunanya semakin pendek. Selain itu, orang-orang lebih mudah membaca sosial media dibandingkan harus bertahan membaca buku: mencermati kalimat-kalimat yang statis dan monoton, tanpa suara, warna, dan gerakan. Masalahnya, potongan-potongan informasi yang pendek itulah seringkali memunculkan bias informasi, implusifitasi, dan kegaduhan dalam memandang suatu peristiwa. Kebiasaan membaca lebih panjang dan tuntas semkin susah diwujudkan. Kita tidak lagi mampu membaca lebih banyak dalam beragam prespektif.
Lihat Juga :