Ketum Muhammadiyah Berharap Bamusi Jadi Kekuatan Penengah
Selasa, 16 Mei 2023 - 14:06 WIB
loading...
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menerima kunjungan silaturahim Ketua Umum Bamusi Hamka Haq dan jajarannya di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/5/2023). FOTO/DOK.MUHAMMADIYAH
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menerima kunjungan silaturahim Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia ( Bamusi ) Hamka Haq di Menteng, Jakarta Pusat. Silaturahmi organisasi sayap Islam di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ke Muhammadiyah untuk membangun kerukunan dari perbedaan suku, bangsa, agama, hingga pandangan politik.
Haedar mengatakan, di Indonesia masih terdapat kecenderungan mempertentangkan agama dengan Pancasila. Pandangan multikulturalisme, demokrasi, HAM, dan pluralisme, yang direproduksi untuk pilihan negara agama atau negara sekuler dengan memasukan nilai-nilai asing yang bertentangan dengan Pancasila sebagai negara yang berketuhanan.
Menurut Haedar, perkembangan informasi saat ini begitu cepat melalui sosial media. Karena itu diharapkan, baik kalangan agamis maupun sekuler, tidak terpancing terhadap isu pertentangan agama dan Pancasila. Sebab ia mengaku, sejak Muhammadiyah lahir sebelum Indonesia merdeka, organisasi ini selalu menjaga kerukunan bangsa.
Baca juga: Ramadhan, Bamusi PDIP Gelar Ngaji Kebangsaan hingga Siarkan Wali Songo
"Kita kan sudah sepakat Pancasila yang menjadi dasar negara, dan agama memberi inspirasi bagi lahirnya Pancasila dan substansinya. Agama harus moderat di depan negara, dan negara juga harus moderat di hadapan agama. Hal itulah yang membedakan Indonesia dengan negara sekuler. Pancasila dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana dikatakan Bung Karno, bukan hanya bangsanya yang bertuhan, tapi negara juga bertuhan," kata Haedar dikutip dari situs resmi Muhammadiyah, Selasa (16/5/2023).
Haedar mengatakan, di Indonesia masih terdapat kecenderungan mempertentangkan agama dengan Pancasila. Pandangan multikulturalisme, demokrasi, HAM, dan pluralisme, yang direproduksi untuk pilihan negara agama atau negara sekuler dengan memasukan nilai-nilai asing yang bertentangan dengan Pancasila sebagai negara yang berketuhanan.
Menurut Haedar, perkembangan informasi saat ini begitu cepat melalui sosial media. Karena itu diharapkan, baik kalangan agamis maupun sekuler, tidak terpancing terhadap isu pertentangan agama dan Pancasila. Sebab ia mengaku, sejak Muhammadiyah lahir sebelum Indonesia merdeka, organisasi ini selalu menjaga kerukunan bangsa.
Baca juga: Ramadhan, Bamusi PDIP Gelar Ngaji Kebangsaan hingga Siarkan Wali Songo
"Kita kan sudah sepakat Pancasila yang menjadi dasar negara, dan agama memberi inspirasi bagi lahirnya Pancasila dan substansinya. Agama harus moderat di depan negara, dan negara juga harus moderat di hadapan agama. Hal itulah yang membedakan Indonesia dengan negara sekuler. Pancasila dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana dikatakan Bung Karno, bukan hanya bangsanya yang bertuhan, tapi negara juga bertuhan," kata Haedar dikutip dari situs resmi Muhammadiyah, Selasa (16/5/2023).
Lihat Juga :