Denny JA Sarankan Muslim Dunia Punya Kalender Global Hijriah Atasi Perbedaan Waktu Idulfitri
Minggu, 23 April 2023 - 11:10 WIB
loading...
A
A
A
Denny menambahkan, berbagai pertemuan internasional sudah dilakukan untuk menyusun kalender global hijriah umat Islam, di antaranya pada 2016, di mana Badan Urusan Agama Republik Turki menyelenggarakan Seminar Internasional Penyatuan Kalender Hijriyah.
“Sudah ada pertemuan di tingkat menteri negara yang mayoritasnya Muslim dalam rangka kalender global bersama. Juga pertemuan ahli falak dunia muslim beberapa kali dibuat untuk keperluan tersebut,” ungkapnya.
Terkait kalender global bersama umat Islam dunia, kata Denny, hanya mungkin terjadi jika disepakatinya lima prinsip. Pertama, diubahnya prinsip rukyat lokal menjadi rukyat global. Dengan begitu akan menghilangkan rukyat teritori yang selama ini berlaku di dunia Muslim, termasuk di Indonesia. Jika menggunakan rukyat global, maka yang terjadi di satu tempat juga menjadi rukyat di tempat lain di penjuru dunia.
Kedua, kesatuan matlak bagi seluruh dunia. Apabila di suatu tempat di mana pun di muka bumi telah terjadi imkan rukyat, hilal sudah terlihat, maka itu dipandang berlaku bagi seluruh kawasan di dunia.
Ketiga, dengan kalender global, maka melihat hilal diubah dari dengan mata telanjang menjadi perhitungan matematika dan astronomi yang sudah berkembang sangat pesat. Karena sudah sangat maju, ilmu pengetahuan lebih bisa melihat dan memprediksi pergerakan benda langit ketimbang mata telanjang.
Keempat, dunia Muslim juga perlu menerima apa yang disebut Garis Tanggal Internasional. Meski hanya garis imajiner buatan manusia, Garis Tanggal Internasional sama sekali tidak berlandaskan benda-benda langit ataupun rotasi bumi.
Garis imajiner itu diperlukan untuk pembentukan awal sebuah hari dan berperan besar menyatukan seluruh dunia pada satu tanggal dari kalender Gregorian yang menjadi dasar kalender masehi yang luas dipakai di dunia, termasuk di Indonesia.
Kelima, perlu persetujuan dan dipraktikkan serentak di beberapa negara mayoritas Muslim terkait empat prinsip sebelumnya untuk membentuk kalender hijriah global jika tidak ingin hanya berhenti di atas kertas.
“Misalnya, organisasi muslim besar dunia di Arab Saudi, Iran, Mesir, Indonesia, Malaysia, Tunisia, menyetujui dan langsung menerapkannya bagi komunitas di negara masing-masing. Secara perlahan, komunitas Muslim di seluruh dunia akan mengikuti,” jelas Denny.
Denny menegaskan, terciptanya kalender global hijriah akan menjadi perkembangan penting dunia Muslim yang sudah 15 abad berdiri. Untuk itu, kini adalah saatnya umat Muslim memiliki kalender hijriah global yang sama.
Baca juga: Ini 10 Destinasi Wisata di Jatim yang Wajib Dikunjungi saat Libur Lebaran
“Dunia sudah menjadi global. Tak hanya diperlukan cara berpikir global, tapi juga waktu global yang sama. Di era kalender global hijriah itu nanti, siapa pun, dengan kekasihnya, suaminya, istrinya, orang tuanya, anaknya, tak lagi merayakan Idulfitri di hari yang berbeda,” tegas Denny.
“Sudah ada pertemuan di tingkat menteri negara yang mayoritasnya Muslim dalam rangka kalender global bersama. Juga pertemuan ahli falak dunia muslim beberapa kali dibuat untuk keperluan tersebut,” ungkapnya.
Terkait kalender global bersama umat Islam dunia, kata Denny, hanya mungkin terjadi jika disepakatinya lima prinsip. Pertama, diubahnya prinsip rukyat lokal menjadi rukyat global. Dengan begitu akan menghilangkan rukyat teritori yang selama ini berlaku di dunia Muslim, termasuk di Indonesia. Jika menggunakan rukyat global, maka yang terjadi di satu tempat juga menjadi rukyat di tempat lain di penjuru dunia.
Kedua, kesatuan matlak bagi seluruh dunia. Apabila di suatu tempat di mana pun di muka bumi telah terjadi imkan rukyat, hilal sudah terlihat, maka itu dipandang berlaku bagi seluruh kawasan di dunia.
Ketiga, dengan kalender global, maka melihat hilal diubah dari dengan mata telanjang menjadi perhitungan matematika dan astronomi yang sudah berkembang sangat pesat. Karena sudah sangat maju, ilmu pengetahuan lebih bisa melihat dan memprediksi pergerakan benda langit ketimbang mata telanjang.
Keempat, dunia Muslim juga perlu menerima apa yang disebut Garis Tanggal Internasional. Meski hanya garis imajiner buatan manusia, Garis Tanggal Internasional sama sekali tidak berlandaskan benda-benda langit ataupun rotasi bumi.
Garis imajiner itu diperlukan untuk pembentukan awal sebuah hari dan berperan besar menyatukan seluruh dunia pada satu tanggal dari kalender Gregorian yang menjadi dasar kalender masehi yang luas dipakai di dunia, termasuk di Indonesia.
Kelima, perlu persetujuan dan dipraktikkan serentak di beberapa negara mayoritas Muslim terkait empat prinsip sebelumnya untuk membentuk kalender hijriah global jika tidak ingin hanya berhenti di atas kertas.
“Misalnya, organisasi muslim besar dunia di Arab Saudi, Iran, Mesir, Indonesia, Malaysia, Tunisia, menyetujui dan langsung menerapkannya bagi komunitas di negara masing-masing. Secara perlahan, komunitas Muslim di seluruh dunia akan mengikuti,” jelas Denny.
Denny menegaskan, terciptanya kalender global hijriah akan menjadi perkembangan penting dunia Muslim yang sudah 15 abad berdiri. Untuk itu, kini adalah saatnya umat Muslim memiliki kalender hijriah global yang sama.
Baca juga: Ini 10 Destinasi Wisata di Jatim yang Wajib Dikunjungi saat Libur Lebaran
“Dunia sudah menjadi global. Tak hanya diperlukan cara berpikir global, tapi juga waktu global yang sama. Di era kalender global hijriah itu nanti, siapa pun, dengan kekasihnya, suaminya, istrinya, orang tuanya, anaknya, tak lagi merayakan Idulfitri di hari yang berbeda,” tegas Denny.
(kri)
Lihat Juga :