Denny JA Sarankan Muslim Dunia Punya Kalender Global Hijriah Atasi Perbedaan Waktu Idulfitri
Minggu, 23 April 2023 - 11:10 WIB
loading...
A
A
A
Fakta yang ada saat ini, jadwal salat di seluruh dunia bisa dan sudah disusun dengan mudah. Kapan jadwal salat di Arab Saudi, Tiongkok, dan Indonesia bisa ditentukan hingga ke satuan angka jam, menit, dan detik, bahkan untuk satu bulan ke depan. Lewat jadwal salat itu, kawasan Muslim bisa bersepakat menyelenggarakan ibadah wajib itu di hari yang sama.
Ilmu pengetahuan saat ini bahkan bisa memprediksi akan terjadi gerhana matahari pada 50 tahun mendatang. Ilmu pengetahuan kini bisa menghitungnya dengan presisi yang tinggi. Bahkan, dapat mengetahui di daerah mana gerhana matahari 50 tahun mendatang bisa dilihat.
“Cukup kita ketik saja di Google. Kurang dari satu menit, Google memberitahu bahwa gerhana total matahari di 2073, 50 tahun dari sekarang, akan terjadi di tanggal 21-22 Februari. Lengkap pula dituliskan di negara mana total gerhana matahari itu bisa dilihat,” paparnya.
Belum adanya kalender global hijriah, menurutnya, bukan karena ilmu pengetahun namun pada pilihan interpretasi aturan, ego nasionalisme, maupun ego organisasi kemasyarakatan.
Denny pun mengutip salah satu hadits Nabi yang menyebut soal hilal untuk menentukan awal waktu dan akhir berpuasa. "Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang, maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari".
Yang jadi masalah, kata Denny, bagaimana cara melihat hilal, apakah dengan mata telanjang atau bisa dibantu teknologi canggih seperti teleskop dan satelit. Padahal, hadirnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini bisa digunakan untuk menghitung gerak benda alam raya hingga 50 tahun ke depan.
Mengutip pendapat Prof Syamsul Anwar dari Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Denny menyebut tentang penerapan imkan rukyat, yaitu keterlihatan atau kemungkinan terlihat hilal di suatu tempat di muka bumi untuk diberlakukan ke seluruh dunia.
“Bisakah bumi secara keseluruhan dilihat sebagai satu kesatuan matlak (zona waktu saja)? Sehingga, apabila di suatu tempat di mana pun di muka bumi telah terjadi imkan rukyat, sudah terlihat hilal, maka itu dipandang berlaku bagi seluruh kawasan muka bumi?” katanya.
Upaya merumuskan kalender global bersama umat Islam sendiri sudah diserukan sejak puluhan tahun lalu. Pada 1958, seorang ahli hadis asal Mesir bernama Ahmad Muhammad Syäkir sudah menyatakannya. Menurut Syakir, memiliki kalender global bersama bagi umat Islam di seluruh dunia adalah keharusan. Bukan saja kalender itu berguna secara sosial, tapi juga memiliki implikasi hukum Islam sendiri.
Kalender itu bisa menentukan secara global agar awal dan akhir Ramadan di seluruh dunia jatuh di tanggal dan hari yang sama. Tidak seperti sekarang di mana Hari Raya Idulfitri jatuh di hari yang berbeda.
Pandangan ini juga bersandar pada hadis Nabi yang berbunyi, “Puasa itu adalah pada hari (semua) kamu berpuasa, dan Idulfitri itu adalah pada hari (semua) kamu beridulfitri, dan Iduladha itu adalah pada hari (semua) kamu beriduladha".
Menurutnya, hadis tersebut mengandaikan ada satu waktu ibadah yang sama untuk seluruh dunia. Namun, waktu yang sama hanya bisa dirumuskan jika umat Islam memiliki kalender hijriah global yang sama.
Ilmu pengetahuan saat ini bahkan bisa memprediksi akan terjadi gerhana matahari pada 50 tahun mendatang. Ilmu pengetahuan kini bisa menghitungnya dengan presisi yang tinggi. Bahkan, dapat mengetahui di daerah mana gerhana matahari 50 tahun mendatang bisa dilihat.
“Cukup kita ketik saja di Google. Kurang dari satu menit, Google memberitahu bahwa gerhana total matahari di 2073, 50 tahun dari sekarang, akan terjadi di tanggal 21-22 Februari. Lengkap pula dituliskan di negara mana total gerhana matahari itu bisa dilihat,” paparnya.
Belum adanya kalender global hijriah, menurutnya, bukan karena ilmu pengetahun namun pada pilihan interpretasi aturan, ego nasionalisme, maupun ego organisasi kemasyarakatan.
Denny pun mengutip salah satu hadits Nabi yang menyebut soal hilal untuk menentukan awal waktu dan akhir berpuasa. "Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang, maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari".
Yang jadi masalah, kata Denny, bagaimana cara melihat hilal, apakah dengan mata telanjang atau bisa dibantu teknologi canggih seperti teleskop dan satelit. Padahal, hadirnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini bisa digunakan untuk menghitung gerak benda alam raya hingga 50 tahun ke depan.
Mengutip pendapat Prof Syamsul Anwar dari Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Denny menyebut tentang penerapan imkan rukyat, yaitu keterlihatan atau kemungkinan terlihat hilal di suatu tempat di muka bumi untuk diberlakukan ke seluruh dunia.
“Bisakah bumi secara keseluruhan dilihat sebagai satu kesatuan matlak (zona waktu saja)? Sehingga, apabila di suatu tempat di mana pun di muka bumi telah terjadi imkan rukyat, sudah terlihat hilal, maka itu dipandang berlaku bagi seluruh kawasan muka bumi?” katanya.
Upaya merumuskan kalender global bersama umat Islam sendiri sudah diserukan sejak puluhan tahun lalu. Pada 1958, seorang ahli hadis asal Mesir bernama Ahmad Muhammad Syäkir sudah menyatakannya. Menurut Syakir, memiliki kalender global bersama bagi umat Islam di seluruh dunia adalah keharusan. Bukan saja kalender itu berguna secara sosial, tapi juga memiliki implikasi hukum Islam sendiri.
Kalender itu bisa menentukan secara global agar awal dan akhir Ramadan di seluruh dunia jatuh di tanggal dan hari yang sama. Tidak seperti sekarang di mana Hari Raya Idulfitri jatuh di hari yang berbeda.
Pandangan ini juga bersandar pada hadis Nabi yang berbunyi, “Puasa itu adalah pada hari (semua) kamu berpuasa, dan Idulfitri itu adalah pada hari (semua) kamu beridulfitri, dan Iduladha itu adalah pada hari (semua) kamu beriduladha".
Menurutnya, hadis tersebut mengandaikan ada satu waktu ibadah yang sama untuk seluruh dunia. Namun, waktu yang sama hanya bisa dirumuskan jika umat Islam memiliki kalender hijriah global yang sama.
Lihat Juga :