Posyandu Ujung Tombak Pembangunan
Senin, 03 April 2023 - 11:00 WIB
loading...
A
A
A
Posyandu Sebagai Agen Perubahan
Stuntingyang menjadi isu kesehatan saat ini, merupakan salah satu program nasional untuk terus diperangi.Stuntingini merupakan indikasi kurang gizi balita, yang ditunjukkan dengan berat badan yang dibawah standar, termasuk panjang badan dan lingkar kepala. Kondisistuntingnasional saat ini, di sekitar angka 21%, dan pada tahun 2024 harus diturunkan sampai angka 14%.
Posyandu dalam program kesehatan ini tentu menjadi sentral. Terutama jika melihat bagaimana posyandu mampu membangun partisipasi masyarakat, sehingga akses dan pelayanan kesehatan menjadi lebih baik.
Karena sebagian besar yang hadir dalam posyandu adalah ibu rumah tangga, maka kesempatan untuk mensosialisasikan jenis-jenis makanan bergizi, pola hidup sehat, membangun lingkungan yang bersih, temasuk pemberian tambahan makanan/minuman bergizi (Susu atau daging) dapat dilakukan dalam program posyandu.
Sebagai wadah sosial yang mengandung kekuatan nilai dan kultur masyarakat setempat (kebersamaan dan empati sosial), posyandu mampu berfungsi sebagai agen perubahan di masyarakat. Secara tidak langsung, sebenarnya posyandu ikut serta membangun SDM di tingkat desa dan kelurahan.
Optimalisasi peran Posyandu tidak hanya akan berdampak pada percepatan penurunan AKI dan AKB di suatu daerah dan nasional, tetapi termasuk penurunanstunting.
Posyandu juga mampu menjadi pusat penyebaran informasi kesehatan di perdesaan, termasuk sebagai motivator kepada penduduk desa melalui programnya yang berbentuk program terpadu Keluarga Berencana (KB), Kesehatan Ibu Dan Anak (KIA), peningkatan gizi, pemberian imunisasi dan penanggulangan diare.
Melihat ini semua, posyandu mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Oleh sebab itu, transformasi kesehatan menuju kesejahteraan adalah suatu cita-cita kesehatan bangsa yang bervisi ke depan melalui pemberdayaan Posyandu sebagai agen perubahan. Semoga.
Stuntingyang menjadi isu kesehatan saat ini, merupakan salah satu program nasional untuk terus diperangi.Stuntingini merupakan indikasi kurang gizi balita, yang ditunjukkan dengan berat badan yang dibawah standar, termasuk panjang badan dan lingkar kepala. Kondisistuntingnasional saat ini, di sekitar angka 21%, dan pada tahun 2024 harus diturunkan sampai angka 14%.
Posyandu dalam program kesehatan ini tentu menjadi sentral. Terutama jika melihat bagaimana posyandu mampu membangun partisipasi masyarakat, sehingga akses dan pelayanan kesehatan menjadi lebih baik.
Karena sebagian besar yang hadir dalam posyandu adalah ibu rumah tangga, maka kesempatan untuk mensosialisasikan jenis-jenis makanan bergizi, pola hidup sehat, membangun lingkungan yang bersih, temasuk pemberian tambahan makanan/minuman bergizi (Susu atau daging) dapat dilakukan dalam program posyandu.
Sebagai wadah sosial yang mengandung kekuatan nilai dan kultur masyarakat setempat (kebersamaan dan empati sosial), posyandu mampu berfungsi sebagai agen perubahan di masyarakat. Secara tidak langsung, sebenarnya posyandu ikut serta membangun SDM di tingkat desa dan kelurahan.
Optimalisasi peran Posyandu tidak hanya akan berdampak pada percepatan penurunan AKI dan AKB di suatu daerah dan nasional, tetapi termasuk penurunanstunting.
Posyandu juga mampu menjadi pusat penyebaran informasi kesehatan di perdesaan, termasuk sebagai motivator kepada penduduk desa melalui programnya yang berbentuk program terpadu Keluarga Berencana (KB), Kesehatan Ibu Dan Anak (KIA), peningkatan gizi, pemberian imunisasi dan penanggulangan diare.
Melihat ini semua, posyandu mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Oleh sebab itu, transformasi kesehatan menuju kesejahteraan adalah suatu cita-cita kesehatan bangsa yang bervisi ke depan melalui pemberdayaan Posyandu sebagai agen perubahan. Semoga.
(ynt)
Lihat Juga :