Kehadiran Timnas Sepak Bola U20 Israel
Selasa, 14 Maret 2023 - 09:25 WIB
loading...
A
A
A
Konsistensi Sikap
Oleh karenanya kehadiran Timnas Israel bukan bermakna dukungan Indonesia kepada kebijakan negara tersebut di Palestina. Dukungan pada perjuangan Palestina tetap menjadi salah satu perhatian politik luar negeri kita melalui berbagai jalur diplomasi seperti konsistensi sikap politik di berbagai forum multilateral, peningkatan capacity building pejabat Palestina, hingga bantuan kemanusiaan. Karenanya, tidak tepat jika kehadiran Timnas Israel disebut mencederai dukungan bagi Palestina.
Dunia berubah dinamis sehingga sikap moderat/wasathiyah yang luwes dalam menyikapi situasi ini dibutuhkan. Berkaca pada perkembangan Timur Tengah, banyak negara seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, Sudan, Maroko, Turki setelah Mesir dan Yordania bahkan telah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Turki misalnya juga menyebut hubungan itu justru membuka kesempatan untuk berkontribusi pada upaya perdamaian.
Pernyataan Turki tersebut sejalan dengan pemikiran yang pernah digagas juga oleh Presiden keempat Abdurrahman Wahid pada 2001. Ini juga sejalan dengan salah satu perspektif dalam kajian mediasi konflik bahwa mediator netral yang diterima kedua pihak bertikai justru memiliki peluang lebih dalam mencapai kesepakatan damai (Jacob Bercovicth: 1996).
Tidak tepat pula jika penolakan itu dikaitkan dengan agama. Hampir semua negara termasuk Palestina dan Israel terdiri dari berbagai agama. Presiden pertama Soekarno memang pernah menolak delegasi Israel pada Asian Games 1962. Namun menurut Leo Suryadinata dalam artikelnya di Asian Survey (1995: 292), alasan Presiden saat itu bukan karena solidaritas agama namun karena Israel dinilai sebagai sekutu imperialis Amerika sehingga Soekarno juga melarang Taiwan dengan alasan yang sama.
Diplomasi olah raga menopang banyak kepentingan nasional kita. Karenanya, dukungan semua komponen bangsa dibutuhkan dalam meraih sebesar- besar maslahatnya.
Oleh karenanya kehadiran Timnas Israel bukan bermakna dukungan Indonesia kepada kebijakan negara tersebut di Palestina. Dukungan pada perjuangan Palestina tetap menjadi salah satu perhatian politik luar negeri kita melalui berbagai jalur diplomasi seperti konsistensi sikap politik di berbagai forum multilateral, peningkatan capacity building pejabat Palestina, hingga bantuan kemanusiaan. Karenanya, tidak tepat jika kehadiran Timnas Israel disebut mencederai dukungan bagi Palestina.
Dunia berubah dinamis sehingga sikap moderat/wasathiyah yang luwes dalam menyikapi situasi ini dibutuhkan. Berkaca pada perkembangan Timur Tengah, banyak negara seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, Sudan, Maroko, Turki setelah Mesir dan Yordania bahkan telah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Turki misalnya juga menyebut hubungan itu justru membuka kesempatan untuk berkontribusi pada upaya perdamaian.
Pernyataan Turki tersebut sejalan dengan pemikiran yang pernah digagas juga oleh Presiden keempat Abdurrahman Wahid pada 2001. Ini juga sejalan dengan salah satu perspektif dalam kajian mediasi konflik bahwa mediator netral yang diterima kedua pihak bertikai justru memiliki peluang lebih dalam mencapai kesepakatan damai (Jacob Bercovicth: 1996).
Tidak tepat pula jika penolakan itu dikaitkan dengan agama. Hampir semua negara termasuk Palestina dan Israel terdiri dari berbagai agama. Presiden pertama Soekarno memang pernah menolak delegasi Israel pada Asian Games 1962. Namun menurut Leo Suryadinata dalam artikelnya di Asian Survey (1995: 292), alasan Presiden saat itu bukan karena solidaritas agama namun karena Israel dinilai sebagai sekutu imperialis Amerika sehingga Soekarno juga melarang Taiwan dengan alasan yang sama.
Diplomasi olah raga menopang banyak kepentingan nasional kita. Karenanya, dukungan semua komponen bangsa dibutuhkan dalam meraih sebesar- besar maslahatnya.
(bmm)
Lihat Juga :