Bandingkan Kasus Corona dengan Negara Lain, Ini Kata Presiden Jokowi

Rabu, 15 Juli 2020 - 22:51 WIB
loading...
Bandingkan Kasus Corona...
Presiden Joko Widodo (Jokowi) nilai penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia masih bisa terkendali. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) membandingkan penyebaran virus Corona (Covid-19) di Indonesia dengan negara maju lainnya. Menurut Jokowi penanganan Covid-19 di Tanah Air masih bisa dikendalikan, sehingga angkanya tidak terlalu tinggi dalam skala global.

Hal itu dikatakan Jokowi dalam acara pengarahan kepala daerah mengenai percepatan penyerapan APBD 2020 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/7/2020). Pidato Presiden kemudian diunggah pada laman setkab.go.id. (Baca juga: Jokowi Akan Keluarkan Inpres Sanksi Pelanggar Protokol Kesehatan)

Jokowi mengaku saban hari selalu mendapatkan laporan penyebaran virus Corona di dunia. Misalnya saja pagi tadi dirinya mendapat kabar bahwa Amerika Serikat sudah tembus 3,4 juta kasus positif Corona, padahal jumlah penduduknya 319 juta orang.

"Hampir sama dengan kita, 3,4 (juta). Brasil, 1,8 juta yang positif Covid-19. Ini yang gede-gede. Kemudian hari ini, kita berada pada angka 78.000 kasus positif. Negara kita ini masuk lima besar penduduk terbanyak tetapi kalau dilihat 10 negara dengan kasus tertinggi, kita tidak masuk di dalamnya," kata Jokowi dikutip dari lama setkab.go.id.

"Tadi Amerika (Serikat) 3,4 (juta), Brasil 1,8 (juta), India 906 ribu, Rusia 739 ribu, Peru 326 ribu. Artinya, kita berada pada posisi yang masih bisa kita kendalikan," sambungnya.

Jokowi mengingatkan kepada jajarannya agar jangan sampai lepas kendali. Manajemen krisis harus betul-betul dilakukan dengan baik. Selain itu, dia berpesan agar kepala daerah sekaligus jajaran menteri dapat bekerja secara luar biasa.

"Enggak bisa kita dalam situasi seperti ini kita kerja normal-normal, dalam situasi seperti ini kita kerja biasa-biasa, enggak bisa. Percaya saya, enggak bisa. Semuanya harus ganti channel semuanya, enggak bisa kita normal-normal, channel-nya harus ganti semuanya. Dari channel ordinary pindah channel ke extraordinary. Dari channel yang cara kerja bertele-tele, rumit ke cara-cara kerja yang cepat dan sederhana. Semuanya harus diubah seperti itu," kata dia.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Lokasi PFII Belum Final,...
Lokasi PFII Belum Final, Purbaya: Nanti yang Nentuin Menteri Keuangan
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
Sinopsis The Value of...
Sinopsis The Value of Patience: Perjuangan Alex Mengejar Cinta dan Masa Depan
Berita Terkini
Abdullah Alkatiri Yakin...
Abdullah Alkatiri Yakin JPU Tidak Bakal Mendakwa Ulang Dokter Tifa
Momen Keakraban Cak...
Momen Keakraban Cak Imin, Dasco, dan Angela Tanoesoedibjo di Harlah ke-28 PKB
Hadiri Harlah ke-28...
Hadiri Harlah ke-28 PKB, Partai Perindo Ajak Kolaborasi Bangun Ekonomi Kerakyatan
Prabowo Singgung Londo...
Prabowo Singgung Londo Ireng: Sekarang Pakai Baju Wartawan, Pengamat, hingga LSM
Dokter Tifa Sudah Siapkan...
Dokter Tifa Sudah Siapkan 2.000 Pertanyaan untuk Jokowi jika Sidang Berlanjut
Perjalanan Rapat Istana...
Perjalanan Rapat Istana Sempat Tertunda, Mentan Amran Turun Tangan Selamatkan Korban Kecelakaan
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved