Semua Pihak Diajak Junjung Pesta Demokrasi Tanpa Ujaran Kebencian
Selasa, 14 Februari 2023 - 21:56 WIB
loading...
A
A
A
Ia melihat kontestasi politik di Indonesia dari tahun ke tahun kerap diwarnai nuansa permusuhan dan kebencian. Hal ini dapat semakin memperkeruh suasana demokrasi seakan tidak lebih dari sekadar peperangan.
"Masyarakat harus punya literasi politik dan pendidikan yang cukup. Tidak banyak masyarakat yang bisa menilai calon kontestan politik baik partai ataupun perorangan dengan memakai kriteria-kriteria yang rasional seperti rekam jejak, program, visi misi politik, program politik, dan sebagainya," katanya.
Baca juga: 3 Juta Konten Negatif di Medsos Ditemukan: Pornografi, Hoaks, dan Ujaran Kebencian
Menurut Hamdi, kondisi ini menjadi salah satu pemicu terciptanya radikalisasi di tengah masyarakat. Apalagi jika kepentingan politik sudah dibumbui dengan narasi keagamaan yang keliru. Hal ini akan mendorong kelompok radikal atau kelompok ekstremis kekerasan membajak ideologi agama.
"Kalau hal itu (praktik politik identitas) jumlahnya makin banyak di masyarakat tentunya akan semakin kuat intoleransi beragama, intoleransi politik. Masyarakat terbelah berdasarkan dukungan terhadap kandidat atau sesuatu yang dibungkus memakai agama, tentunya itu berbahaya sekali," ucapnya.
Hamdi Muluk mengajak segenap masyarakat agar mampu membangun cara pandang baru dalam memaknai kontestasi politik. Hal itu penting agar tidak mudah terhasut atau bahkan menjadi pelaku pemecah-belah persatuan bangsa yang memanfaatkan narasi politik.
"Masyarakat harus punya literasi politik dan pendidikan yang cukup. Tidak banyak masyarakat yang bisa menilai calon kontestan politik baik partai ataupun perorangan dengan memakai kriteria-kriteria yang rasional seperti rekam jejak, program, visi misi politik, program politik, dan sebagainya," katanya.
Baca juga: 3 Juta Konten Negatif di Medsos Ditemukan: Pornografi, Hoaks, dan Ujaran Kebencian
Menurut Hamdi, kondisi ini menjadi salah satu pemicu terciptanya radikalisasi di tengah masyarakat. Apalagi jika kepentingan politik sudah dibumbui dengan narasi keagamaan yang keliru. Hal ini akan mendorong kelompok radikal atau kelompok ekstremis kekerasan membajak ideologi agama.
"Kalau hal itu (praktik politik identitas) jumlahnya makin banyak di masyarakat tentunya akan semakin kuat intoleransi beragama, intoleransi politik. Masyarakat terbelah berdasarkan dukungan terhadap kandidat atau sesuatu yang dibungkus memakai agama, tentunya itu berbahaya sekali," ucapnya.
Hamdi Muluk mengajak segenap masyarakat agar mampu membangun cara pandang baru dalam memaknai kontestasi politik. Hal itu penting agar tidak mudah terhasut atau bahkan menjadi pelaku pemecah-belah persatuan bangsa yang memanfaatkan narasi politik.
Lihat Juga :