Jelang Pemilu 2024, Politik SARA Harus Dicegah Sejak Dini
Minggu, 12 Februari 2023 - 16:33 WIB
loading...
Sekretaris MUI Kota Serang KH Amas Tadjuddin. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Menjelang kontestasi Pemilu 2024 , mesin-mesin politik akan segera bergerak untuk mendulang suara. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan kepada semua pihak untuk ikut berperan dalam mencegah penggunaan isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) dalam untuk memenangkan kontestasi.
"Isu SARA dimainkan oleh para pihak yang sesungguhnya telah teridentifikasi merupakan kelompok kepentingan yang ingin menang dengan berbagai cara. Hal seperti ini harus dicegah secara dini agar proses demokrasi berjalan lancar, aman, dan damai," kata Sekretaris MUI Kota Serang KH Amas Tadjuddin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/2/2023).
Menurutnya, politik SARA akan memicu situasi masyarakat menjadi panas dan mudah terbakar. Apalagi dibumbui ujaran kebencian yang kemudian digoreng dengan minyak bernuansa asing, sehingga menimbulkan gangguan kerukunan, dan berakhir dengan konflik terbuka.
Baca juga: Jokowi Ingatkan Capres 2024 Tak Gunakan Politik SARA dan Politisasi Agama
"Produksi hoaks dan fitnah meningkat, bahkan dalil ayat-ayat suci tersebar dimanipulasi sedemikian rupa guna mencekoki dan membodohi umat sejagat. Yang penting menang," kata Kiai Amas Tadjuddin.
Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Banten ini berkaca pada Pemilu 2019, kontestasi politik tidak sedikit diwarnai dengan nuansa permusuhan. Jika dipandang perlu, bagi pihak yang dianggap tidak sepaham dan beda pilihan dengan kelompoknya segera dilayangkan tuduhan kafir, munafik, musyrik, murtad.
"Inilah inti persoalan (berbalut nafsu) golongan manusia dalam jagat politik jelang pemilu," kata Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten ini.
"Isu SARA dimainkan oleh para pihak yang sesungguhnya telah teridentifikasi merupakan kelompok kepentingan yang ingin menang dengan berbagai cara. Hal seperti ini harus dicegah secara dini agar proses demokrasi berjalan lancar, aman, dan damai," kata Sekretaris MUI Kota Serang KH Amas Tadjuddin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/2/2023).
Menurutnya, politik SARA akan memicu situasi masyarakat menjadi panas dan mudah terbakar. Apalagi dibumbui ujaran kebencian yang kemudian digoreng dengan minyak bernuansa asing, sehingga menimbulkan gangguan kerukunan, dan berakhir dengan konflik terbuka.
Baca juga: Jokowi Ingatkan Capres 2024 Tak Gunakan Politik SARA dan Politisasi Agama
"Produksi hoaks dan fitnah meningkat, bahkan dalil ayat-ayat suci tersebar dimanipulasi sedemikian rupa guna mencekoki dan membodohi umat sejagat. Yang penting menang," kata Kiai Amas Tadjuddin.
Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Banten ini berkaca pada Pemilu 2019, kontestasi politik tidak sedikit diwarnai dengan nuansa permusuhan. Jika dipandang perlu, bagi pihak yang dianggap tidak sepaham dan beda pilihan dengan kelompoknya segera dilayangkan tuduhan kafir, munafik, musyrik, murtad.
"Inilah inti persoalan (berbalut nafsu) golongan manusia dalam jagat politik jelang pemilu," kata Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten ini.
Lihat Juga :