PERSI Sambut Baik Penetapan Biaya Tertinggi Rapid Test Rp150.000
Senin, 13 Juli 2020 - 14:35 WIB
Waktu awal COVID-19, rapid test, kata Lia, digunakan untuk diagnosa, untuk deteksi pembawa virus ini. Namun, pemeriksaan atau jenis pemeriksaan ini sangat terbatas. "Sementara permintaan begitu banyak tetapi yang ada terbatas, sehingga itulah menyebabkan mungkin harga itu tidak terkontrol. Jadi variasi harga mungkin kami juga paham bahwa akhirnya masyarakat menjadi cemas dan menjadi bingung kenapa kamu jadi mahal. Terutama untuk yang mau berpergian itu," katanya.
Pemeriksaan mahal tersebut, kata Lia, karena dalam pemeriksaan COVID-19 ini terdiri dari beberapa komponen. "Nah, jadi intinya pemeriksaan ini, kan terdiri dari komponen. Jadi yang pertama harga reagen sendiri. Kemudian yang kedua kalau misalnya kita gunakan jarum suntiknya untuk antibodi ini, karena dianggap pasang sensitivity-nya lebih tinggi, daripada kalau kita ambil di ujung jari. Kemudian mungkin ada alkohol, kapasnya kemudian ada orang yang menggunakan alat pelindung dirinya dan sebagainya. Jadi komponen harga atau serabut dari berbagai macam komponen termasuk mungkin jasa pelayanan," katanya.(Baca juga: Kemenkes Tetapkan Biaya Rapid Test Tertinggi Rp150.000 )
Jadi, kata Lia, sebelumnya ada yang memberikan patokan harga tinggi untuk pemeriksaan COVID-19, itu karena komponen pemeriksaan yang banyak. "Buat rumah sakit kalau lah ada patokan mengenai berapa sih sebetulnya reagensia itu yang layak diberikan dari rumah sakit, tentu dari kami akan menjadi lebih aman. Termasuk APD-nya, mungkin nanti apalagi komponen dari pemeriksaan ini bisa dikendalikan tentu rumah otomatis rumah sakit akan bersedia untuk mengikuti itu," katanya.
Pemeriksaan mahal tersebut, kata Lia, karena dalam pemeriksaan COVID-19 ini terdiri dari beberapa komponen. "Nah, jadi intinya pemeriksaan ini, kan terdiri dari komponen. Jadi yang pertama harga reagen sendiri. Kemudian yang kedua kalau misalnya kita gunakan jarum suntiknya untuk antibodi ini, karena dianggap pasang sensitivity-nya lebih tinggi, daripada kalau kita ambil di ujung jari. Kemudian mungkin ada alkohol, kapasnya kemudian ada orang yang menggunakan alat pelindung dirinya dan sebagainya. Jadi komponen harga atau serabut dari berbagai macam komponen termasuk mungkin jasa pelayanan," katanya.(Baca juga: Kemenkes Tetapkan Biaya Rapid Test Tertinggi Rp150.000 )
Jadi, kata Lia, sebelumnya ada yang memberikan patokan harga tinggi untuk pemeriksaan COVID-19, itu karena komponen pemeriksaan yang banyak. "Buat rumah sakit kalau lah ada patokan mengenai berapa sih sebetulnya reagensia itu yang layak diberikan dari rumah sakit, tentu dari kami akan menjadi lebih aman. Termasuk APD-nya, mungkin nanti apalagi komponen dari pemeriksaan ini bisa dikendalikan tentu rumah otomatis rumah sakit akan bersedia untuk mengikuti itu," katanya.
(abd)
Lihat Juga :