Mengapa Remaja Kita Beringas?

Jum'at, 02 Desember 2022 - 15:51 WIB
Tak hanya terjadi di Jabodetabek, namun kasus serupa juga kerap muncul di daerah-daerah lain seperti Tangerang hingga Yogyakarta. Di Yogyakarta, aksi penyerangan secara sporadis tersebut dikenal dengan nama klitih. Sekelompok anak sekolah berseragam naik motor mengacungkan senjata tajam keliling di jalanan untuk mencari mangsa. Seringkali mereka tak memakai seragam. Terkadang sekelompok anak muda yang kesetanan itu tidak peduli apakah orang yang diserang dan dilukai itu ada masalah sebelumnya atau tidak.

Korban salah bacok dan salah serang semakin bertambah. Remaja yang tidak bersalah dan tidak ada kaitan apapun dengan kelompok berandalan yang sedang gelap mata itu semakin banyak. Tak hanya sesama remaja, terkadang mereka juga tidak ragu menyerang orang dewasa yang dianggap menghalangi, mengejek atau bahkan hanya menatap mereka. Fenomena apakah ini? Apa yang salah dengan bangsa ini? Apakah sistem pendidikan yang diterapkan selama ini kurang tepat?

Apapun penyebabnya, tentu saja ini patut menjadi prioritas aparat pemerintah dan aparat keamanan untuk mencegah dan mengurai masalahnya secara menyeluruh. Penanganan keberingasan remaja ini pun tidak bisa hanya reaktif. Tapi harus pro aktif, preventif, dan preemtif. Pendekatan penyelesaian masalahnya pun, tidak bisa hanya dari sisi keamanan saja. Misalnya pelaku pembacokan yang melukai dan menewaskan orang baru diburu dan ditangkap setelah melakukan perbuatan pidana itu.

Belum lagi jika dibawa ke pengadilan, pelaku hanya dikenai hukuman ringan karena usianya masih remaja. Bisa jadi secara hukum benar, tapi secara sosiologis hukuman badan kepada pelaku pembacokan itu masih menyisakan masalah. Kenapa? Karena fakta persidangan tidak bisa mengungkap tuntas mengapa pelaku tega berbuat sadis hingga menghilangkan nyawa orang lain.

Dalam beberapa wawancara yang ditayangkan media massa, pelaku membacok orang tanpa alasan. Pokoknya bisa menyerang orang lain agar dianggap berani dan gagah oleh teman-teman mereka. Ini yang membuat masyarakat semakin miris. Karena hukuman satu pelaku tidak otomatis membuat mereka kapok dan berpotensi melakukan hal yang sama jika tidak dilakukan pembinaan di masyarakat. Apalagi kalau pergaulan mereka tidak berubah dan akhirnya masuk kembali ke lingkaran setan keberingasan komunal yang terus berulang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!