Membangun Sistem Transaksi Perdagangan Aset Kripto

Senin, 03 Oktober 2022 - 16:07 WIB
Dalam pengembangan aset kripro, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah melakukan proses panjang membangun ekosistem perdagangan aset kripto, termasuk kesiapan Bursa Aset Kripto yang terintegrasi dengan ekosistem lainnya seperti Lembaga Kliring, Pengelola Tempat Penyimpanan Aset Kripto, dan Pedagang Fisik Aset Kripto.

Bappebti memandang bahwa pengaturan perdagangan aset kripto wajib dilakukan terkait perlindungan dana nasabah dan memberikan kepastian hukum berusaha dan memandang dinamika perdagangan aset kripto sebagai sesuatu yang baik.

Kondisi pasar yang berubah-ubah adalah sesuatu yang wajar. Pada 2021, total nilai transaksi mencapai Rp859,5 triliun. Sementara total nilai transaksi Januari hingga Agustus 2022 sebesar Rp249,3 triliun atau turun 56,35 % dibandingkan periode Januari hingga Agustus 2021 sebesar Rp571,1 triliun (yoy).

Fenomena penurunan mayoritas aset kripto ini lebih dikenal dengan istilah crypto winter. Berdasarkan informasi yang dihimpun, penurunan nilai aset kripto belakangan ini disebabkan beberapa hal. Pertama, peningkatan acuan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika (The Fed) untuk menekan inflasi di mana per Juli 2022 acuan suku bunga yang ditetapkan berada pada rentang 2,25% sampai dengan 2,5%. Kenaikan suku bunga ini membuat investor mengalihkan dananya untuk disimpan pada bank dibandingkan diinvestasikan pada aset kripto.

Kedua, kejadian yang dialami oleh koin LUNA dan TerraUSD yang secara signifikan anjlok dalam waktu satu hari saja. Hal ini menimbulkan kepanikan kepada para investor sehingga dikhawatirkan merembet kepada jenis aset kripto lain.

Ketiga, dengan adanya kejadian koin LUNA dan TerraUSD membuat kepanikan dan penurunan harga merembet kepada koin ‘induk’, yaitu Bitcoin. Dengan penurunan koin ‘induk’ ini, aset kripto lain juga terpengaruh mengalami penurunan.

Keempat, dengan adanya konflik Rusia dan Ukraina menyebabkan ketidakpastian dan inflasi global. Beberapa analis menyebutkan bahwa harga-harga saham juga mengalami penurunan dan memengaruhi instrumen investasi lainnya seperti aset kripto. Selain itu, analis juga menyebutkan bahwa spekulan lebih tertarik untuk berinvestasi pada komoditi pangan dan energi yang cenderung konservatif dan memiliki kondisi yang relatif berfluktuatif dengan adanya konflik Rusia dan Ukraina.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!