Haornas dan SDM Terbarukan

Kamis, 08 September 2022 - 12:37 WIB
Untuk itu otoritas IKN perlu segera mengirim para lulusan SMA/SMK langsung untuk belajar di perguruan tinggi di negara maju dengan skema beasiswa ikatan dinas. Hal ini lebih efektif karena para lulusan SMA secara psikologis masih sangat idealis dan mudah melakukan revolusi mental saat belajar di luar negeri. Begitupun dari segi rentang usia, lulusan SMA memiliki waktu yang cukup untuk mendalami berbagai prodi yang terkait dengan pengembangan ibu kota negara di masa depan.

Sejarah menunjukkan bahwa olahraga merupakan media perjuangan dan sarana pemersatu bangsa. Kini olahraga menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan manusia. Haornas memiliki latar belakang sejarah yakni penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama yang digelar pada 1948 di Stadion Sriwedari, Solo. Berlangsung di tengah revolusi kemerdekaan.

Selain untuk membangun karakter dan kualitas SDM bangsa, kini olahraga sudah menjadi entitas ekonomi dan industri dengan nilai tambah yang signifikan. Peringatan Haornas 2022 sebaiknya dijadikan momentum untuk evaluasi dan pengembangan SDM terbarukan terkait dengan olahraga yang meliputi SDM yang menyandang predikat atlet atau olahragawan maupun SDM iptek yang terkait atau mendukung pengembangan sistem dan industri peralatan olahraga.

Saatnya pemerintah pusat dan daerah menata event olahraga menjadi daya ungkit ekonomi untuk menyejahterakan rakyat. Olahraga sudah menjadi entitas ekonomi dan industri yang melibatkan partisipasi masyarakat luas dengan effort dan dana yang luar biasa.

Olahraga menjadi sarana padat karya produktif. Intensitas padat karya produktif itu akan semakin membesar searah dengan bergulirnya bermacam kompetisi atau liga. Padat karya produktif terkait dengan industri peralatan olahraga, atribut, kaos, souvenir, hingga media iklan dan promosi pertandingan. Selain itu pembangunan stadion baru atau perawatan stadion lama hingga di tingkat desa bisa menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.

Kini birokrasi olahraga terlalu gemuk kepengurusan cabang olahraga yang membentang luas dari KONI Pusat hingga daerah. Selain itu pemerintah juga mengedepankan top birokrasi olahraga, yakni Kementerian Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang selama ini dijabat para politisi yang kurang makan asam garamnya olahraga. Menurut logika dan prospek ke depan mestinya pejabat olahraga beserta jajaran penting lainnya dijabat oleh mantan atlet yang pernah mengukir prestasi olahraga dunia serta menjadi maestro yang menyimpan segudang prestasi yang membanggakan.

Masih kurangnya prestasi olahraga nasional juga karena masih lemahnya sistem kompetisi olahraga karena masih langkanya SDM yang berkualitas yang mampu mengelola jalannya kompetisi. Adanya kompetisi olahraga juga bisa meningkatkan angka GDP suatu negara yang menjadi tuan rumah.

Meskipun banyak dana yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan, namun dari hasil penjualan tiket dan jumlah wisatawan olahraga yang membelanjakan uangnya maka keuntungan ekonomi bisa diraih. Hal ini terbukti ketika Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, GDP negara tersebut meningkat 1,5%.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!