Konstitusi Harus Mampu Antisipasi Dampak Proses Akulturasi
Rabu, 24 Agustus 2022 - 20:05 WIB
Peneliti Budaya Tionghoa-Indonesia, Udaya Halim mengungkapkan, nama Indonesia dicetuskan bukan oleh etnis yang ada di Nusantara, tetapi oleh James Richardson Logan, warga Skotlandia dan George Windsor Earl pada 1849. Menurut Udaya, Indonesia lahir sebagai negara bangsa dibangun atas dasar kesadaran berbangsa dan bernegara.
"Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sukses mempersatukan bangsa," ujar Udaya yang berpendapat, kebangsaan berada dalam pikiran, bukan pada warna kulit dan etnis.
Peneliti Center for Prehistory and Austronesian Studies, Truman Simanjuntak berpendapat akulturasi merupakan topik yang selalu menarik untuk dibahas. Migrasi yang terjadi ribuan tahun lalu di Nusantara, ujar Truman, mendorong terjadinya akulturasi. Gelombang migrasi ke Nusantara, hampir pasti membawa kebudayaan pendatang lewat aksi beri dan ambil, sehingga menghasilkan berbagai keragaman.
Peneliti Ahli Utama BRIN, I Made Geria berharap nilai kearifan lokal dalam menghadapi produk akulturasi jangan sampai hilang agar jati diri bangsa tetap terjaga. Menurut I Made Geria, akulturasi terjadi harus ada toleransi dalam kesetaraan. Negara Indonesia meski berbeda tetap rukun dengan jembatan toleransi.
Sementara, wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat akulturasi hanya bisa terjadi jika kita memiliki pikiran terbuka, hati yang terbuka dan dada yang lebar. Hanya, Konstitusi Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pelaksanaan pernikahan beda agama di Tanah Air.
"Jadi masih panjang jalan untuk menjawab berbagai tantangan yang muncul di masa datang. Selain itu, dalam proses akulturasi juga perlu rasa humor agar tidak mudah tersinggung," katanya.
"Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sukses mempersatukan bangsa," ujar Udaya yang berpendapat, kebangsaan berada dalam pikiran, bukan pada warna kulit dan etnis.
Peneliti Center for Prehistory and Austronesian Studies, Truman Simanjuntak berpendapat akulturasi merupakan topik yang selalu menarik untuk dibahas. Migrasi yang terjadi ribuan tahun lalu di Nusantara, ujar Truman, mendorong terjadinya akulturasi. Gelombang migrasi ke Nusantara, hampir pasti membawa kebudayaan pendatang lewat aksi beri dan ambil, sehingga menghasilkan berbagai keragaman.
Peneliti Ahli Utama BRIN, I Made Geria berharap nilai kearifan lokal dalam menghadapi produk akulturasi jangan sampai hilang agar jati diri bangsa tetap terjaga. Menurut I Made Geria, akulturasi terjadi harus ada toleransi dalam kesetaraan. Negara Indonesia meski berbeda tetap rukun dengan jembatan toleransi.
Sementara, wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat akulturasi hanya bisa terjadi jika kita memiliki pikiran terbuka, hati yang terbuka dan dada yang lebar. Hanya, Konstitusi Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pelaksanaan pernikahan beda agama di Tanah Air.
"Jadi masih panjang jalan untuk menjawab berbagai tantangan yang muncul di masa datang. Selain itu, dalam proses akulturasi juga perlu rasa humor agar tidak mudah tersinggung," katanya.
(abd)
Lihat Juga :