Merdeka dalam Pangan
Selasa, 16 Agustus 2022 - 17:04 WIB
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, memiliki sebuah program yang menarik terkait hal ini. Petani Milenial. Sebuah program pendampingan dan pelatihan bidang pertanian kepada generasi muda untuk ikut berkontribusi pada bidang pertanian, khususnya di Jawa Barat. Dikutip dari Sindonews, program ini memberikan pelatihan, anggaran, lahan, teknologi pertanian hingga pemasaran (Sindonews.com, 25/03/2022). Program ini patut diapresiasi dan bisa dijadikan contoh bagi daerah lain di Indonesia.
Kedua, dukungan kepada petani. Para petani di Indonesia sudah cukup kesulitan dengan perubahan iklim yang tidak bisa dilawan. Perubahan musim tanam, cuaca yang tidak menentu, hingga berbagai faktor lain seperti keberadaan hama dan kekurangan air. Dukungan berupa kemudahan mencari bibit, ketersediaan pupuk dan akses ke perbankan yang tidak memadai akan menambah beban para petani. Beban ini mungkin malah akan membuat petani beralih profesi dan memilih menjual lahannya. Makin berkurangnya lahan produktif tentu bukan hal yang positif bagi pertanian Indonesia secara umum.
Ketiga, peran aktif pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengembangan potensi pangan lokal di daerah masing-masing. Indonesia yang kaya dengan sumberdaya alam, memiliki potensi pangan alternatif seperti ubi jalar, jagung dan singkong. Berbagai pangan alternatif tersebut memiliki nilai gizi yang setara dengan beras. Peran aktif pemerintah daerah dalam mendorong penggunaan pangan alternatif menjadi penting dalam mewujudkan ketahanan pangan daerah.
Selain diberkahi dengan daratan yang luas, negara Indonesia juga diberkahi dengan sumber daya perikanan yang memiliki potensi luas. Bidang perikanan, baik perikanan darat maupun laut menjadi sektor yang patut untuk dikembangkan. Berbagai studi menunjukkan bahwa ikan memberikan berbagai gizi yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental. Pengembangan suaka-suaka produksi perikanan di berbagai danau yang ada di Indonesia, adalah sebuah upaya penting dalam menjaga sumberdaya perikanan. Penetapan zonasi penangkapan ikan dan pembatasan ukuran serta jenis alat tangkap, bukan bermaksud untuk mengurangi jumlah tangkapan nelayan. Namun memberikan waktu pulih dan menjaga stok sumberdaya perikanan.
Beberapa perusahaan teknologi belakangan mulai melirik sektor perikanan. Sebut saja misalnya eFishery yang berupaya membantu pembudidaya ikan dan udang dalam pengembangan usaha melalui pemberian pakan otomatis. Jala Tech yang menghadirkan teknologi pemantauan kualitas air dan estimasi hasil budidaya. Kemudian Aruna yang membantu memperkuat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan nelayan melalui penyaluran produk perikanan.
Pengembangan teknologi memang sudah seharusnya diarahkan ke arah kesejahteraan masyarakat. Teknologi menjadi alat yang dapat membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Kalangan akademisi harus terus mempertahankan upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di bidang pangan. Misalnya pencarian bibit unggul yang mampu menghasilkan dalam waktu singkat sekaligus tahan hama. Pengembangan potensi pangan alternatif yang tidak hanya bergizi namun juga memiliki rasa yang enak. Pemanfaatan sisa olahan sumber pangan yang harusnya menjadi sampah juga menjadi bidang kajian yang patut untuk dikembangkan. Misalnya saja seperti pemanfaatan duri ikan menjadi tepung atau kerupuk dari kulit ikan.
Kedua, dukungan kepada petani. Para petani di Indonesia sudah cukup kesulitan dengan perubahan iklim yang tidak bisa dilawan. Perubahan musim tanam, cuaca yang tidak menentu, hingga berbagai faktor lain seperti keberadaan hama dan kekurangan air. Dukungan berupa kemudahan mencari bibit, ketersediaan pupuk dan akses ke perbankan yang tidak memadai akan menambah beban para petani. Beban ini mungkin malah akan membuat petani beralih profesi dan memilih menjual lahannya. Makin berkurangnya lahan produktif tentu bukan hal yang positif bagi pertanian Indonesia secara umum.
Ketiga, peran aktif pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengembangan potensi pangan lokal di daerah masing-masing. Indonesia yang kaya dengan sumberdaya alam, memiliki potensi pangan alternatif seperti ubi jalar, jagung dan singkong. Berbagai pangan alternatif tersebut memiliki nilai gizi yang setara dengan beras. Peran aktif pemerintah daerah dalam mendorong penggunaan pangan alternatif menjadi penting dalam mewujudkan ketahanan pangan daerah.
Selain diberkahi dengan daratan yang luas, negara Indonesia juga diberkahi dengan sumber daya perikanan yang memiliki potensi luas. Bidang perikanan, baik perikanan darat maupun laut menjadi sektor yang patut untuk dikembangkan. Berbagai studi menunjukkan bahwa ikan memberikan berbagai gizi yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental. Pengembangan suaka-suaka produksi perikanan di berbagai danau yang ada di Indonesia, adalah sebuah upaya penting dalam menjaga sumberdaya perikanan. Penetapan zonasi penangkapan ikan dan pembatasan ukuran serta jenis alat tangkap, bukan bermaksud untuk mengurangi jumlah tangkapan nelayan. Namun memberikan waktu pulih dan menjaga stok sumberdaya perikanan.
Beberapa perusahaan teknologi belakangan mulai melirik sektor perikanan. Sebut saja misalnya eFishery yang berupaya membantu pembudidaya ikan dan udang dalam pengembangan usaha melalui pemberian pakan otomatis. Jala Tech yang menghadirkan teknologi pemantauan kualitas air dan estimasi hasil budidaya. Kemudian Aruna yang membantu memperkuat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan nelayan melalui penyaluran produk perikanan.
Pengembangan teknologi memang sudah seharusnya diarahkan ke arah kesejahteraan masyarakat. Teknologi menjadi alat yang dapat membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Kalangan akademisi harus terus mempertahankan upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di bidang pangan. Misalnya pencarian bibit unggul yang mampu menghasilkan dalam waktu singkat sekaligus tahan hama. Pengembangan potensi pangan alternatif yang tidak hanya bergizi namun juga memiliki rasa yang enak. Pemanfaatan sisa olahan sumber pangan yang harusnya menjadi sampah juga menjadi bidang kajian yang patut untuk dikembangkan. Misalnya saja seperti pemanfaatan duri ikan menjadi tepung atau kerupuk dari kulit ikan.
Lihat Juga :