Reshuffle Menteri Dinilai Pilihan Dilematis bagi Jokowi

Senin, 29 Juni 2020 - 07:57 WIB
"Dua hal ini memicu lambannya kinerja, atau justru ada pola ketiga, yakni Jokowi gagal mengimplementasikan kepemimpinan kepala negara sehingga kerja kabinet tidak terstruktur dan berjalan sendiri," ujar Dedi, Senin (29/6/2020).

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) ini mengatakan, wacana reshuffle ini juga memberikan makna bahwa pesan Jokowi kala memulai periode kedua menyebutkan bahwa "tidak ada visi misi menteri", sama sekali tidak didengar para menteri itu sendiri.

"Meskipun, kerja pemerintah seharusnya kolektif, produktif atau tidaknya bergantung Presiden, kekecewaan Presiden pada menteri, sama saja kecewa pada diri sendiri," katanya. (Baca juga; Marzuki Alie: Pak Jokowi Jangan Marah, Nanti Sakit, yang Rugi Rakyat )

Terkait dengan ancaman reshuffle tersebut, Dedi menyebutkan bahwa para menteri harus menunjukkan prestasi, sekurang-kurangnya meyakinkan Presiden jika rencana-rencana strategis kementerian segera tercapai paling lambat sebelum Agustus.

"Prestasi para menteri sebenarnya sederhana, yakni menjalankan kebijakan dengan imbas pada publik dan negara. Kementerian yang hanya habiskan waktu untuk kunjungan dan pidato, ada baiknya mulai berkemas," pungkasnya.
(wib)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!